TikTokisasi Pendidikan dan Menurunnya Budaya Membaca
Rabu, 15 Jul 2026 15:39
Dosen Administrasi Pendidikan FIP UNM, Andi Tenri Abeng. Foto: Dok. Pribadi
Oleh: Andi Tenri Abeng
Dosen Administrasi Pendidikan FIP UNM
"Siapa yang pernah membaca satu buku sampai selesai dalam tiga bulan terakhir?"
Pertanyaan itu hampir selalu saya ajukan ketika memulai perkuliahan. Namun, jawaban yang saya terima sering kali membuat saya terdiam.
Dalam satu kelas yang berisi puluhan mahasiswa, hanya satu atau dua orang yang mengangkat tangan. Bahkan tidak jarang tidak ada seorang pun yang menjawab. Fenomena ini menunjukkan sebuah kenyataan yang semakin nyata di lingkungan perguruan tinggi.
Budaya membaca di kalangan mahasiswa tampaknya terus mengalami penurunan. Sebaliknya, mereka semakin akrab dengan berbagai platform media sosial yang menyajikan informasi secara cepat, singkat, dan instan.
Bagi banyak mahasiswa, memperoleh informasi melalui TikTok, Instagram, YouTube, atau platform digital lainnya dianggap lebih mudah dibandingkan membaca buku. Mereka merasa cukup memahami suatu topik hanya dengan menonton video berdurasi beberapa menit atau membaca ringkasan yang beredar di media sosial.
Tidak sedikit pula mahasiswa yang mengaku lebih sering mencari referensi mata kuliah dari media sosial dibandingkan dari buku atau jurnal ilmiah. Ketika membutuhkan penjelasan tentang suatu konsep, mereka lebih memilih mencari video penjelasan singkat daripada membuka buku yang tebal dan membutuhkan waktu untuk dipahami.
Fenomena ini semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan seperti ChatGPT dan berbagai platform AI generatif lainnya. Saat ini banyak mahasiswa memanfaatkan AI untuk mencari informasi, memahami materi perkuliahan, merangkum bacaan, hingga menyelesaikan tugas akademik. Namun, tidak sedikit yang menerima jawaban AI begitu saja tanpa melakukan verifikasi terhadap sumber lain yang lebih kredibel.
Kondisi tersebut mengingatkan kita pada gagasan Marshall McLuhan, seorang ahli komunikasi yang terkenal dengan ungkapannya "the medium is the message". Menurut McLuhan, media bukan hanya saluran penyampai informasi, tetapi juga membentuk cara manusia berpikir dan berperilaku.
Ketika mahasiswa terbiasa mengonsumsi informasi dalam bentuk video singkat dan ringkasan instan, pola berpikir mereka pun berpotensi mengikuti karakter media tersebut: cepat, praktis, tetapi kurang mendalam.
Padahal, pendidikan tinggi membutuhkan proses berpikir yang tidak sederhana. Mahasiswa dituntut untuk menganalisis, mengevaluasi, membandingkan berbagai sumber, serta menghasilkan gagasan baru. Kemampuan tersebut sulit berkembang jika proses belajar hanya mengandalkan informasi yang serba singkat dan instan.
Dalam teori deep learning, proses belajar yang berkualitas terjadi ketika peserta didik berusaha memahami makna suatu informasi secara mendalam, menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki, kemudian menggunakannya untuk memecahkan masalah. Sebaliknya, pembelajaran yang hanya berfokus pada informasi permukaan cenderung menghasilkan pemahaman yang dangkal dan mudah dilupakan.
Membaca buku sebenarnya merupakan salah satu aktivitas yang mampu mendorong terjadinya deep learning. Saat membaca, seseorang dituntut untuk berkonsentrasi, memahami konteks, menghubungkan ide antarbagian, serta melakukan refleksi terhadap apa yang dibacanya. Proses inilah yang tidak selalu diperoleh ketika seseorang hanya mengonsumsi konten berdurasi singkat di media sosial.
Kekhawatiran terhadap menurunnya budaya membaca bukan tanpa alasan. Berbagai kajian menunjukkan bahwa literasi membaca masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan yang serius. Di tengah banjir informasi digital, aktivitas membaca buku semakin sering tergeser oleh konsumsi konten visual yang lebih cepat dan menghibur.
Jika kondisi ini terus berlangsung, mahasiswa berisiko menjadi generasi yang terbiasa memperoleh jawaban tanpa proses intelektual yang memadai. Mereka mungkin memiliki akses terhadap banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk menilai kebenaran, memahami konteks, dan mengkritisi informasi tersebut.
Tentu media sosial dan kecerdasan buatan bukanlah musuh pendidikan. Keduanya merupakan hasil perkembangan teknologi yang dapat mendukung pembelajaran apabila digunakan secara bijak. AI dapat membantu menjelaskan konsep yang sulit, sementara media sosial dapat menjadi sarana berbagi pengetahuan. Namun keduanya tidak dapat menggantikan fungsi membaca sebagai fondasi pembentukan pemikiran yang kritis dan mendalam.
Karena itu, perguruan tinggi perlu kembali menumbuhkan budaya literasi di kalangan mahasiswa. Membaca buku, artikel ilmiah, dan berbagai sumber akademik harus tetap menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Sebab pada akhirnya, pendidikan tidak hanya membutuhkan generasi yang cepat memperoleh informasi, tetapi juga generasi yang mampu memahami, mengkritisi, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan yang dimilikinya. Di tengah era TikTok dan kecerdasan buatan, membaca bukan lagi sekadar kebiasaan akademik, melainkan keterampilan penting agar mahasiswa tidak menjadi generasi yang kaya informasi tetapi miskin pemahaman.
Dosen Administrasi Pendidikan FIP UNM
"Siapa yang pernah membaca satu buku sampai selesai dalam tiga bulan terakhir?"
Pertanyaan itu hampir selalu saya ajukan ketika memulai perkuliahan. Namun, jawaban yang saya terima sering kali membuat saya terdiam.
Dalam satu kelas yang berisi puluhan mahasiswa, hanya satu atau dua orang yang mengangkat tangan. Bahkan tidak jarang tidak ada seorang pun yang menjawab. Fenomena ini menunjukkan sebuah kenyataan yang semakin nyata di lingkungan perguruan tinggi.
Budaya membaca di kalangan mahasiswa tampaknya terus mengalami penurunan. Sebaliknya, mereka semakin akrab dengan berbagai platform media sosial yang menyajikan informasi secara cepat, singkat, dan instan.
Bagi banyak mahasiswa, memperoleh informasi melalui TikTok, Instagram, YouTube, atau platform digital lainnya dianggap lebih mudah dibandingkan membaca buku. Mereka merasa cukup memahami suatu topik hanya dengan menonton video berdurasi beberapa menit atau membaca ringkasan yang beredar di media sosial.
Tidak sedikit pula mahasiswa yang mengaku lebih sering mencari referensi mata kuliah dari media sosial dibandingkan dari buku atau jurnal ilmiah. Ketika membutuhkan penjelasan tentang suatu konsep, mereka lebih memilih mencari video penjelasan singkat daripada membuka buku yang tebal dan membutuhkan waktu untuk dipahami.
Fenomena ini semakin kompleks dengan hadirnya kecerdasan buatan seperti ChatGPT dan berbagai platform AI generatif lainnya. Saat ini banyak mahasiswa memanfaatkan AI untuk mencari informasi, memahami materi perkuliahan, merangkum bacaan, hingga menyelesaikan tugas akademik. Namun, tidak sedikit yang menerima jawaban AI begitu saja tanpa melakukan verifikasi terhadap sumber lain yang lebih kredibel.
Kondisi tersebut mengingatkan kita pada gagasan Marshall McLuhan, seorang ahli komunikasi yang terkenal dengan ungkapannya "the medium is the message". Menurut McLuhan, media bukan hanya saluran penyampai informasi, tetapi juga membentuk cara manusia berpikir dan berperilaku.
Ketika mahasiswa terbiasa mengonsumsi informasi dalam bentuk video singkat dan ringkasan instan, pola berpikir mereka pun berpotensi mengikuti karakter media tersebut: cepat, praktis, tetapi kurang mendalam.
Padahal, pendidikan tinggi membutuhkan proses berpikir yang tidak sederhana. Mahasiswa dituntut untuk menganalisis, mengevaluasi, membandingkan berbagai sumber, serta menghasilkan gagasan baru. Kemampuan tersebut sulit berkembang jika proses belajar hanya mengandalkan informasi yang serba singkat dan instan.
Dalam teori deep learning, proses belajar yang berkualitas terjadi ketika peserta didik berusaha memahami makna suatu informasi secara mendalam, menghubungkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki, kemudian menggunakannya untuk memecahkan masalah. Sebaliknya, pembelajaran yang hanya berfokus pada informasi permukaan cenderung menghasilkan pemahaman yang dangkal dan mudah dilupakan.
Membaca buku sebenarnya merupakan salah satu aktivitas yang mampu mendorong terjadinya deep learning. Saat membaca, seseorang dituntut untuk berkonsentrasi, memahami konteks, menghubungkan ide antarbagian, serta melakukan refleksi terhadap apa yang dibacanya. Proses inilah yang tidak selalu diperoleh ketika seseorang hanya mengonsumsi konten berdurasi singkat di media sosial.
Kekhawatiran terhadap menurunnya budaya membaca bukan tanpa alasan. Berbagai kajian menunjukkan bahwa literasi membaca masyarakat Indonesia masih menghadapi tantangan yang serius. Di tengah banjir informasi digital, aktivitas membaca buku semakin sering tergeser oleh konsumsi konten visual yang lebih cepat dan menghibur.
Jika kondisi ini terus berlangsung, mahasiswa berisiko menjadi generasi yang terbiasa memperoleh jawaban tanpa proses intelektual yang memadai. Mereka mungkin memiliki akses terhadap banyak informasi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan untuk menilai kebenaran, memahami konteks, dan mengkritisi informasi tersebut.
Tentu media sosial dan kecerdasan buatan bukanlah musuh pendidikan. Keduanya merupakan hasil perkembangan teknologi yang dapat mendukung pembelajaran apabila digunakan secara bijak. AI dapat membantu menjelaskan konsep yang sulit, sementara media sosial dapat menjadi sarana berbagi pengetahuan. Namun keduanya tidak dapat menggantikan fungsi membaca sebagai fondasi pembentukan pemikiran yang kritis dan mendalam.
Karena itu, perguruan tinggi perlu kembali menumbuhkan budaya literasi di kalangan mahasiswa. Membaca buku, artikel ilmiah, dan berbagai sumber akademik harus tetap menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Sebab pada akhirnya, pendidikan tidak hanya membutuhkan generasi yang cepat memperoleh informasi, tetapi juga generasi yang mampu memahami, mengkritisi, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan yang dimilikinya. Di tengah era TikTok dan kecerdasan buatan, membaca bukan lagi sekadar kebiasaan akademik, melainkan keterampilan penting agar mahasiswa tidak menjadi generasi yang kaya informasi tetapi miskin pemahaman.
(MAN)
Berita Terkait
News
Menakar Keadilan Substantif Putusan MK: Ijazah, Kekuasaan, dan Konstitusi
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 mengenai persoalan syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyisakan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar persoalan ijazah: apakah keadilan substantif telah benar-benar menemukan tempatnya
Rabu, 07 Okt 2026 12:42
News
Linieritas Penting, tetapi Guru Bukan Garis Lurus
Karena itu, persoalannya bukan sesederhana: linier berarti baik, tidak linier berarti buruk. Linieritas adalah fondasi penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran profesionalitas.
Senin, 05 Okt 2026 21:49
News
Dari Bilik Suara OSIS, Demokrasi Belajar Tumbuh
Masa depan demokrasi Indonesia sedang diuji di tempat yang sering kita anggap sederhana: bilik suara pemilihan ketua OSIS.
Selasa, 22 Sep 2026 17:28
News
Antrean BBM, Ketika Kesabaran Rakyat Diuji
Barangkali suatu saat antrean BBM perlu dimasukkan sebagai salah satu destinasi wisata baru, karena hampir di setiap SPBU masyarakat dapat menikmati “perjalanan panjang” tanpa harus meninggalkan kendaraannya.
Minggu, 13 Sep 2026 09:44
News
Panoptikon Digital dan Kemerdekaan yang Semu
Setiap 17 Agustus, ruang digital Indonesia berubah menjadi lautan merah putih. Foto profil berganti, bendera menghiasi linimasa, tagar kemerdekaan bermunculan, dan video lomba tujuh belasan beredar dari berbagai daerah.
Senin, 24 Agu 2026 07:27
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Angka Kemiskinan di Sidrap Turun jadi 4,65 Persen pada 2026, Terendah Ketiga di Sulsel
2
Diwakili Ketua Fraksi Demokrat Sulsel, Appi Resmi Ambil Formulir Pendaftaran Musda
3
Demokrat Parepare Sebut Sudah 13 DPC Kabupaten/kota Dukung Appi Maju Musda Sulsel
4
Pembekalan Tahfizh, Perkuat Karakter Qur’ani dan Budaya Kampus Islami
5
BKPSDM Maros Gelar Bimtek Penguatan Kapasitas ASN dalam Pengelolaan APBD
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Angka Kemiskinan di Sidrap Turun jadi 4,65 Persen pada 2026, Terendah Ketiga di Sulsel
2
Diwakili Ketua Fraksi Demokrat Sulsel, Appi Resmi Ambil Formulir Pendaftaran Musda
3
Demokrat Parepare Sebut Sudah 13 DPC Kabupaten/kota Dukung Appi Maju Musda Sulsel
4
Pembekalan Tahfizh, Perkuat Karakter Qur’ani dan Budaya Kampus Islami
5
BKPSDM Maros Gelar Bimtek Penguatan Kapasitas ASN dalam Pengelolaan APBD