Opini
Dosa Sosial dan Kelalaian Negara di atas Saluran Drainase
Tim SINDOmakassar
Kamis, 22 Januari 2026 - 18:12 WIB
Pemerhati Masalah Sosial, Mustamin Raga. Foto: Istimewa
Oleh: Mustamin Raga
Pemerhati Masalah Sosial
Ada kota yang tampak hidup karena ramainya aktivitas warganya. Ada pula kota yang tampak sibuk karena warganya berjuang bertahan hidup. Namun ada juga kota yang perlahan sekarat, bukan karena kurang aktivitas, melainkan karena aktivitas yang salah tempat dan salah guna.
Makassar hari ini menyimpan ironi itu. Perdagangan kecil yang menggeliat, gerobak yang berpindah-pindah, tenda-tenda darurat yang tumbuh di ruang-ruang yang tak pernah dirancang untuk dihuni. Salah satunya—dan ini bukan perkara sepele—adalah spasi di atas saluran drainase.
Jangan pura-pura tak melihat. Jangan menipu diri dengan kalimat “sekadar cari makan”. Di situlah persoalan besar bermula: ketika pelanggaran dibungkus empati murahan, dan kesalahan dibiarkan tumbuh menjadi kebiasaan kolektif.
Saluran drainase bukan ruang kosong. Ia bukan tanah tak bertuan. Ia adalah infrastruktur publik—dirancang, dibangun, dan dipelihara dengan uang rakyat, untuk kepentingan semua orang. Ketika spasi di atasnya dipakai berjualan, dihuni, atau dijadikan tempat aktivitas permanen, itu bukan lagi soal kreativitas bertahan hidup. Itu adalah tindakan menyerobot. Titik.
Akibatnya kasat mata dan tak terbantahkan: bahu jalan menyempit, ruang publik tercekik, pejalan kaki terpaksa turun ke aspal, kendaraan saling sikut. Yang lebih fatal, akses pembersihan drainase tertutup. Lumpur dan sampah dibiarkan mengendap. Air kehilangan jalannya.
Pemerhati Masalah Sosial
Ada kota yang tampak hidup karena ramainya aktivitas warganya. Ada pula kota yang tampak sibuk karena warganya berjuang bertahan hidup. Namun ada juga kota yang perlahan sekarat, bukan karena kurang aktivitas, melainkan karena aktivitas yang salah tempat dan salah guna.
Makassar hari ini menyimpan ironi itu. Perdagangan kecil yang menggeliat, gerobak yang berpindah-pindah, tenda-tenda darurat yang tumbuh di ruang-ruang yang tak pernah dirancang untuk dihuni. Salah satunya—dan ini bukan perkara sepele—adalah spasi di atas saluran drainase.
Jangan pura-pura tak melihat. Jangan menipu diri dengan kalimat “sekadar cari makan”. Di situlah persoalan besar bermula: ketika pelanggaran dibungkus empati murahan, dan kesalahan dibiarkan tumbuh menjadi kebiasaan kolektif.
Saluran drainase bukan ruang kosong. Ia bukan tanah tak bertuan. Ia adalah infrastruktur publik—dirancang, dibangun, dan dipelihara dengan uang rakyat, untuk kepentingan semua orang. Ketika spasi di atasnya dipakai berjualan, dihuni, atau dijadikan tempat aktivitas permanen, itu bukan lagi soal kreativitas bertahan hidup. Itu adalah tindakan menyerobot. Titik.
Akibatnya kasat mata dan tak terbantahkan: bahu jalan menyempit, ruang publik tercekik, pejalan kaki terpaksa turun ke aspal, kendaraan saling sikut. Yang lebih fatal, akses pembersihan drainase tertutup. Lumpur dan sampah dibiarkan mengendap. Air kehilangan jalannya.