home news

Opini

OTT yang Kehilangan Rasa Malu

Rabu, 11 Februari 2026 - 10:01 WIB
Pengamat Sosial Politik, Mustamin Raga. Foto: Istimewa
Oleh; Mustamin Raga

Pengamat Sosial-Politik

Dulu, setiap kali KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan, bangsa ini serasa mendapat tontonan nasional. Breaking news. Running text merah di televisi. Wartawan berlarian. Kamera berkilat seperti petir di musim hujan. Nama pelaku disebut dengan suara setengah berbisik, setengah menjerit. Publik menatap layar dengan mata membelalak, sambil berucap lirih, “Astaga… pejabat lagi.”

Kini, OTT datang seperti jadwal buka puasa. Rutin. Terprediksi. Bahkan kadang terasa seperti pengingat minum obat: jangan lupa, hari ini ada korupsi baru.

Berita tentang hakim Pengadilan Negeri Depok yang di-OTT 3 hari lalu lewat begitu saja di timeline, seperti notifikasi promo diskon. Orang membaca sambil lalu. Menekan tombol like setengah hati. Lalu kembali menggulir layar mencari kabar artis bercerai atau kabar lainnya yang lebih menarik.

Negeri ini telah sampai pada tahap di mana korupsi oleh penegak hukum tidak lagi mengejutkan. Ia sudah menjadi bagian dari cuaca. Hari ini hujan. Besok panas. Lusa hakim ditangkap KPK. Tidak ada yang benar-benar heran. Dan mungkin, ini adalah tragedi terbesar yang tak disadari: ketika rasa kaget sudah mati.

Padahal dulu, OTT dirancang bukan sekedar penangkapan. Ia adalah teater moral. Sebuah PANGGUNG RASA MALU NASIONAL. Sebuah upaya memperlihatkan bahwa kekuasaan yang menyimpang akan ditelanjangi di depan publik. OTT bukan hanya soal hukum.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya