Pakar Energi Unhas Dukung Langkah Pemerintah Kembangkan Energi Nuklir
Tim SINDOmakassar
Rabu, 11 Februari 2026 - 19:24 WIB
Pakar energi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Muhammad Bachtiar Nappu saat memaparkan materinya dalam diskusi terkait swasembada energi di Makassar. Foto: Istimewa
Pemerintah Indonesia didukung untuk mengembangkan energi nuklir untuk mendorong ketahanan energi, demi mencapai swasembada energi di masa mendatang.
Hal ini disampaikan Pakar energi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Muhammad Bachtiar Nappu. Dirinya mendukung langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) Bahlil Lahadlia untuk mengembangkan energi nuklir dalam negeri.
Dia menilai energi nuklir merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target transisi menuju energi bersih.
“Maka PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir)modular dalam bentuk SMR (Small Modular Reactor) itu truly energy security for the future adalah PLTN, tapi dalam bentuk yang small,” kata Bachtiar dalam diskusi energi di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (11/02/2026).
Menurut Bachtiar, Indonesia memiliki sumber daya uranium dan thorium yang menjadi bahan baku dasar nuklir. Daerah yang memiliki sumber daya ini pun, kata dia, juga tersebar di banyak daerah seperti di Bangka Belitung, Kalimantan, bahkan di Mamuju. Oleh karena itu, teknologi SMR lebih cocok bagi Indonesia sebagai negara kepulauan karena kapasitasnya lebih kecil dan fleksibel dibanding PLTN konvensional.
Reaktor modular ini kata dia, dapat dibangun bertahap sesuai kebutuhan daerah, terutama untuk memperkuat elektrifikasi wilayah terpencil.
“Lebih baik dibangun yang small ini daripada PLTN konvensional. Karena PLTN konvensional minimal kapasitasnya 1.000 MW. Tapi kalau small, misalnya 50 MW,” ujar Bachtiar.
Hal ini disampaikan Pakar energi Universitas Hasanuddin (Unhas) Prof Muhammad Bachtiar Nappu. Dirinya mendukung langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) Bahlil Lahadlia untuk mengembangkan energi nuklir dalam negeri.
Dia menilai energi nuklir merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus mendukung target transisi menuju energi bersih.
“Maka PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir)modular dalam bentuk SMR (Small Modular Reactor) itu truly energy security for the future adalah PLTN, tapi dalam bentuk yang small,” kata Bachtiar dalam diskusi energi di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (11/02/2026).
Menurut Bachtiar, Indonesia memiliki sumber daya uranium dan thorium yang menjadi bahan baku dasar nuklir. Daerah yang memiliki sumber daya ini pun, kata dia, juga tersebar di banyak daerah seperti di Bangka Belitung, Kalimantan, bahkan di Mamuju. Oleh karena itu, teknologi SMR lebih cocok bagi Indonesia sebagai negara kepulauan karena kapasitasnya lebih kecil dan fleksibel dibanding PLTN konvensional.
Reaktor modular ini kata dia, dapat dibangun bertahap sesuai kebutuhan daerah, terutama untuk memperkuat elektrifikasi wilayah terpencil.
“Lebih baik dibangun yang small ini daripada PLTN konvensional. Karena PLTN konvensional minimal kapasitasnya 1.000 MW. Tapi kalau small, misalnya 50 MW,” ujar Bachtiar.