Opini
Satu Islam, Banyak Ekspresi
Syarifuddin Jurdi
Senin, 09 Maret 2026 - 16:46 WIB
Syarifuddin Jurdi, Dosen UIN Alauddin Makassar dan Komisioner KPU Prov. Sulsel 2018-2023. Foto: Istimewa
Oleh: Syarifuddin Jurdi
Dosen UIN Alauddin Makassar
Islam sejak diturunkan Allah Swt kepada Rasulullah saw 14/15 abad yang lampau tidak ada yang berubah, masih sama, tidak ada yang tambah dan juga tidak ada yang kurang.
Umat Islam percaya pada al-Qur’an sebagai wahyu Allah dan hadis-hadis nabi sebagai referensi kehidupan, sampai disini setiap muslim dalam wilayah geografis, aliran politik dan perkumpulan sosial agama manapun tidak akan mempersoalkannya.
Keyakinan pada nilai-nilai keutamaan dalam al-Qur’an dan hadis nabi juga sangat kuat, semua umat Islam akan mempelajari dan mengamalkan berdasarkan pemahamannya. Pada titik pemahaman dan pengamalan inilah muncul perbedaan, artinya ketika teks-teks agama itu (al-Qur’an dan hadis) diterjemahkan dan diaktualisasikan oleh muslim, perbedaan yang muncul terkadang memproduksi perdebatan dan bahkan pertengkaran akibat cara bagaimana teks itu diinterpretasi dan diamalkan.
Islam hanya ada satu itu selesai, itu hanya ketika Islam diterjemahkan sebagai satu prinsip yang kita jadikan referensi utama atau sebagai hudanlinnas, namun ketika Islam dipahami dan diaktualisasikan akan menghasilkan beragam corak dan model sesuai dengan “selera” yang memberi penafsiran terhadap teks.
Dosen UIN Alauddin Makassar
Islam sejak diturunkan Allah Swt kepada Rasulullah saw 14/15 abad yang lampau tidak ada yang berubah, masih sama, tidak ada yang tambah dan juga tidak ada yang kurang.
Umat Islam percaya pada al-Qur’an sebagai wahyu Allah dan hadis-hadis nabi sebagai referensi kehidupan, sampai disini setiap muslim dalam wilayah geografis, aliran politik dan perkumpulan sosial agama manapun tidak akan mempersoalkannya.
Keyakinan pada nilai-nilai keutamaan dalam al-Qur’an dan hadis nabi juga sangat kuat, semua umat Islam akan mempelajari dan mengamalkan berdasarkan pemahamannya. Pada titik pemahaman dan pengamalan inilah muncul perbedaan, artinya ketika teks-teks agama itu (al-Qur’an dan hadis) diterjemahkan dan diaktualisasikan oleh muslim, perbedaan yang muncul terkadang memproduksi perdebatan dan bahkan pertengkaran akibat cara bagaimana teks itu diinterpretasi dan diamalkan.
Islam hanya ada satu itu selesai, itu hanya ketika Islam diterjemahkan sebagai satu prinsip yang kita jadikan referensi utama atau sebagai hudanlinnas, namun ketika Islam dipahami dan diaktualisasikan akan menghasilkan beragam corak dan model sesuai dengan “selera” yang memberi penafsiran terhadap teks.