Warga Tamalanrea Sesalkan Pernyataan Menkeu soal Kelanjutan Proyek PSEL
Dewan Ghiyats Yan Galistan
Jum'at, 08 Mei 2026 - 09:59 WIB
Rapat satgas debottlenecking yang dipimpin Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Istimewa
Masyarakat Kecamatan Tamalanrea, Kota Makassar, menyatakan penolakan terhadap kelanjutan proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL), Jumat (7/5/2026).
Tokoh masyarakat RW Mula Baru, Akbar, mengatakan penolakan warga bukan ditujukan terhadap program PSEL secara umum, melainkan terhadap lokasi pembangunan yang dinilai tidak layak.
"Kami sangat sesali keputusan pak Menteri keuangan soal lokasi PSEL di Tamalanrea. Penolakan kami bukan terhadap program PLTSa tapi lokasinya. Terlalu dekat dengan permukiman warga dan berisiko terhadap lingkungan serta kesehatan," tegasnya.
Ia mengungkapkan sekitar 98 persen warga Kecamatan Tamalanrea menolak pembangunan PSEL karena persoalan aksesibilitas dan kedekatan lokasi dengan permukiman masyarakat.
Menurut Akbar, masyarakat juga tidak pernah dilibatkan dalam proses penetapan lokasi proyek sejak awal.
"Kami tidak pernah dilibatkan. Tiba-tiba kami baru tahu kalau ada PSEL di sini. Ini yang kami sesalkan," ungkapnya kepada wartawan.
Ia menyebutkan warga khawatir terhadap dampak jangka panjang proyek tersebut, mulai dari kerusakan lingkungan hingga ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Selain itu, kondisi geografis wilayah dan akses jalan yang sempit dinilai tidak mendukung aktivitas kendaraan pengangkut sampah yang akan melintas secara intensif.
Tokoh masyarakat RW Mula Baru, Akbar, mengatakan penolakan warga bukan ditujukan terhadap program PSEL secara umum, melainkan terhadap lokasi pembangunan yang dinilai tidak layak.
"Kami sangat sesali keputusan pak Menteri keuangan soal lokasi PSEL di Tamalanrea. Penolakan kami bukan terhadap program PLTSa tapi lokasinya. Terlalu dekat dengan permukiman warga dan berisiko terhadap lingkungan serta kesehatan," tegasnya.
Ia mengungkapkan sekitar 98 persen warga Kecamatan Tamalanrea menolak pembangunan PSEL karena persoalan aksesibilitas dan kedekatan lokasi dengan permukiman masyarakat.
Menurut Akbar, masyarakat juga tidak pernah dilibatkan dalam proses penetapan lokasi proyek sejak awal.
"Kami tidak pernah dilibatkan. Tiba-tiba kami baru tahu kalau ada PSEL di sini. Ini yang kami sesalkan," ungkapnya kepada wartawan.
Ia menyebutkan warga khawatir terhadap dampak jangka panjang proyek tersebut, mulai dari kerusakan lingkungan hingga ancaman terhadap kesehatan masyarakat. Selain itu, kondisi geografis wilayah dan akses jalan yang sempit dinilai tidak mendukung aktivitas kendaraan pengangkut sampah yang akan melintas secara intensif.