Polisi Dalami Informasi Intelijen Terkait Pergerakan Politik di Sulsel
Dewan Ghiyats Yan Galistan
Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:43 WIB
Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro (tengah) saat konferensi pers di Aula Polrestabes Makassar, Selasa (26/5/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
Kapolda Sulawesi Selatan, Irjen Pol. Djuhandhani Rahardjo Puro, menegaskan maraknya aksi balap liar dan kejahatan jalanan, termasuk begal, sejauh ini masih didominasi kenakalan remaja.
Meski demikian, Polda Sulsel tetap mewaspadai kemungkinan adanya pihak tertentu yang mencoba memanfaatkan situasi tersebut untuk kepentingan politik.
Berdasarkan hasil penyelidikan dan analisis evaluasi (anev) terbaru, kepolisian belum menemukan adanya aktor intelektual maupun jaringan besar yang mengendalikan aksi para pelaku.
"Hasil penyelidikan dan analisa evaluasi kita sampai saat ini belum ada pengendalian. Jadi, ini spontanitas dari sekumpulan anak-anak yang mungkin mencari jati diri mereka terhadap kehidupan sosial di masyarakat," ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Menurut Djuhandhani, aksi tersebut berawal dari kelompok remaja yang berkumpul dan melakukan balap liar. Dalam perkembangannya, aktivitas itu kemudian mengarah pada tindakan kriminal.
"Mereka berkumpul, kemudian bersama-sama, mungkin dengan kebersamaan ini, membangkitkan mereka untuk ngebut-ngebutan dan lain sebagainya, lalu berkembang menjadi sebuah kejahatan," katanya.
Di sisi lain, Polda Sulsel mengaku telah menerima sejumlah informasi intelijen terkait pergerakan di masyarakat yang diduga berkaitan dengan kepentingan politik tertentu.
Meski demikian, Polda Sulsel tetap mewaspadai kemungkinan adanya pihak tertentu yang mencoba memanfaatkan situasi tersebut untuk kepentingan politik.
Berdasarkan hasil penyelidikan dan analisis evaluasi (anev) terbaru, kepolisian belum menemukan adanya aktor intelektual maupun jaringan besar yang mengendalikan aksi para pelaku.
"Hasil penyelidikan dan analisa evaluasi kita sampai saat ini belum ada pengendalian. Jadi, ini spontanitas dari sekumpulan anak-anak yang mungkin mencari jati diri mereka terhadap kehidupan sosial di masyarakat," ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Menurut Djuhandhani, aksi tersebut berawal dari kelompok remaja yang berkumpul dan melakukan balap liar. Dalam perkembangannya, aktivitas itu kemudian mengarah pada tindakan kriminal.
"Mereka berkumpul, kemudian bersama-sama, mungkin dengan kebersamaan ini, membangkitkan mereka untuk ngebut-ngebutan dan lain sebagainya, lalu berkembang menjadi sebuah kejahatan," katanya.
Di sisi lain, Polda Sulsel mengaku telah menerima sejumlah informasi intelijen terkait pergerakan di masyarakat yang diduga berkaitan dengan kepentingan politik tertentu.