home news

Dilema Dakwah Digital: Viral di TikTok Saja Tak Cukup Menjaga Iman Gen Z

Kamis, 02 Juli 2026 - 16:39 WIB
Rifkah Azizah Ibrahim Mahasiswi Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Foto: Dokumen pribadi
Oleh: Rifkah Azizah Ibrahim

Mahasiswi Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam

Sebuah video berdurasi kurang dari satu menit tiba-tiba memenuhi linimasa jutaan pengguna TikTok Indonesia. Sosok "Ustazah AI" Nia Hajar figur dai berbasis kecerdasan buatan yang tampil meyakinkan menyampaikan ceramah agama menuai gelombang komentar, perdebatan, sekaligus kekaguman. Dalam hitungan hari, kontroversi ini menjelma jadi bahan diskusi lintas platform: dari grup WhatsApp keluarga hingga forum akademik komunikasi. Fenomena ini bukan sekadar drama viral biasa. Ia adalah cermin dari perubahan besar cara umat Islam Indonesia, khususnya Generasi Z, mengonsumsi ajaran agama.

Data mendukung betapa masifnya pergeseran ini. Survei APJII 2026 mencatat TikTok sebagai platform paling banyak diakses Gen Z Indonesia dengan angka 32,3 persen, mengungguli Instagram (30,8 persen) dan Facebook (26,9 persen). Mayoritas pengguna menghabiskan satu hingga dua jam sehari di media sosial, dan hampir tiga dari sepuluh responden mengaku konten video pendek seperti di TikTok, Reels, YouTube Shorts, menjadi materi paling sering mereka tonton. Angka-angka ini menegaskan satu hal: jika dakwah ingin menjangkau anak muda hari ini, TikTok bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Namun di balik euforia jangkauan yang masif, muncul persoalan yang lebih mendasar. Format video quick-scroll yang menjadi kekuatan TikTok justru berpotensi menjadi kelemahan fatal bagi transmisi nilai keislaman. Algoritma platform ini dirancang untuk memaksimalkan durasi tonton sesaat, bukan pemahaman jangka panjang. Ceramah agama dipadatkan menjadi klip 30 detik, potongan ayat dilepas dari konteks tafsirnya, dan kompleksitas fikih direduksi menjadi caption yang catchy. Iman, yang semestinya tumbuh melalui perenungan dan proses panjang, kini bersaing dengan tren dance dan prank di ruang atensi yang sama-sama singkat.

Di titik inilah pendekatan model dua lapis menjadi relevan untuk dibedah: TikTok berfungsi sebagai kanal distribusi cepat yang menjaring perhatian awal, sementara Instagram dengan format carousel, IGTV, dan caption panjang difungsikan sebagai ruang pendalaman nilai. Sejumlah media dan lembaga dakwah seperti Republika, The Sunnah Path, dan NU Online telah mempraktikkan strategi ini. Konten TikTok sebagai pemantik rasa ingin tahu, lalu audiens digiring ke Instagram atau platform lain untuk kajian yang lebih utuh. Secara teori, model ini elegan. Persoalannya, riset lapangan menunjukkan gap eksekusi yang lebar tidak semua konten kreator dakwah memiliki sumber daya, waktu, atau kapasitas literasi digital untuk membangun ekosistem dua lapis ini secara konsisten.

Di sinilah dilema sesungguhnya muncul. Para dai dan lembaga dakwah dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah, mengejar viralitas dengan konsekuensi penyederhanaan pesan yang berisiko distorsi, atau mempertahankan kedalaman substansi dengan risiko kehilangan audiens muda yang atensinya sudah terlatih untuk scroll cepat. Kasus "Ustazah AI" mempertajam dilema ini ke level baru, ketika kecerdasan buatan mampu meniru otoritas keagamaan secara meyakinkan, belum lagi akun akun yang memotong video ceramah ustad lalu diunggah kembali, siapa yang bertanggung jawab atas validitas pesan yang disampaikan? Apakah viralitas menjadi legitimasi baru bagi otoritas dakwah, menggantikan sanad keilmuan yang selama ini menjadi rujukan?.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya