SMPN 10 Makassar Tegaskan Seleksi SPMB Sesuai Prosedur, Bantah Pungli Rp2,5 Juta
Dewan Ghiyats Yan Galistan
Senin, 13 Juli 2026 - 17:14 WIB
Kepala SMPN 10 Makassar, Misbahuddin A (tengah) membantah tudingan siswa titipan dan pungli Rp2,5 juta. Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan
Kepala SMPN 10 Makassar, Misbahuddin A, membantah adanya praktik "siswa titipan" maupun pungutan liar (pungli) dalam proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2026. Ia menegaskan seluruh tahapan penerimaan siswa telah dilaksanakan sesuai prosedur dan ketentuan yang berlaku.
Misbahuddin menjelaskan, penerimaan murid dilakukan melalui jalur prestasi, domisili, dan afirmasi dengan kuota yang telah ditetapkan. Tingginya jumlah pendaftar membuat banyak calon siswa tidak dapat diterima.
"Selama ini yang kita jalankan sudah melalui prosedur. Baik melalui jalur prestasi, zonasi atau domisili, maupun dengan afirmasi. Alhamdulillah semua yang dilakukan sudah memenuhi kuota. Sehingga di akhir, banyak warga yang bertanya. Karena di sini pendaftarnya lebih sering (banyak), sementara yang kami terima hanya 8 ruangan dikalikan 32 siswa. Jadi, ada hampir 1.000 pendaftar yang tidak terakomodasi," terangnya saat diwawancarai.
Ia mengatakan, setelah pengumuman hasil seleksi dirinya mendapat tugas mendampingi kegiatan di Kabupaten Sidrap. Selama itu, proses administrasi sekolah ditangani oleh ketua panitia dan operator SPMB.
"Jadi saya bilang, saya serahkan kepada teman-teman ketua dan operator. Kurang lebih satu minggu saya di Sidrap, kemudian saya kembali. Nah, tinggal pendaftaran ulang. Akhirnya, ada siswa yang kurang melapor (tidak mendaftar ulang). Kalau tidak salah ada 5 orang yang tidak melapor karena katanya datanya tidak cukup," ungkapnya kepada wartawan.
Menurut Misbahuddin, kekosongan kuota akibat calon siswa yang tidak melakukan daftar ulang kemudian diisi oleh peserta dengan nilai tertinggi berikutnya.
"Makanya, data-data yang mendekati nilainya itu yang kita tarik untuk menutupi kuota ini. Iya, sampai sepadan. Tapi pada saat masuk ini, tiba-tiba ada yang selalu merongrong (menghubungi tanpa jelas) saya," lanjutnya.
Misbahuddin menjelaskan, penerimaan murid dilakukan melalui jalur prestasi, domisili, dan afirmasi dengan kuota yang telah ditetapkan. Tingginya jumlah pendaftar membuat banyak calon siswa tidak dapat diterima.
"Selama ini yang kita jalankan sudah melalui prosedur. Baik melalui jalur prestasi, zonasi atau domisili, maupun dengan afirmasi. Alhamdulillah semua yang dilakukan sudah memenuhi kuota. Sehingga di akhir, banyak warga yang bertanya. Karena di sini pendaftarnya lebih sering (banyak), sementara yang kami terima hanya 8 ruangan dikalikan 32 siswa. Jadi, ada hampir 1.000 pendaftar yang tidak terakomodasi," terangnya saat diwawancarai.
Ia mengatakan, setelah pengumuman hasil seleksi dirinya mendapat tugas mendampingi kegiatan di Kabupaten Sidrap. Selama itu, proses administrasi sekolah ditangani oleh ketua panitia dan operator SPMB.
"Jadi saya bilang, saya serahkan kepada teman-teman ketua dan operator. Kurang lebih satu minggu saya di Sidrap, kemudian saya kembali. Nah, tinggal pendaftaran ulang. Akhirnya, ada siswa yang kurang melapor (tidak mendaftar ulang). Kalau tidak salah ada 5 orang yang tidak melapor karena katanya datanya tidak cukup," ungkapnya kepada wartawan.
Menurut Misbahuddin, kekosongan kuota akibat calon siswa yang tidak melakukan daftar ulang kemudian diisi oleh peserta dengan nilai tertinggi berikutnya.
"Makanya, data-data yang mendekati nilainya itu yang kita tarik untuk menutupi kuota ini. Iya, sampai sepadan. Tapi pada saat masuk ini, tiba-tiba ada yang selalu merongrong (menghubungi tanpa jelas) saya," lanjutnya.