32 Anak di Makassar Diduga jadi Korban Pelecehan Seksual Pemilik Warung
Dewan Ghiyats Yan Galistan
Selasa, 21 Juli 2026 - 18:10 WIB
Ilustrasi. Foto: SINDOnews
Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Kota Makassar memberikan pendampingan kepada puluhan anak yang diduga menjadi korban pelecehan seksual oleh seorang pemilik warung di depan salah satu sekolah di Kecamatan Manggala.
Kepala DPPPA Kota Makassar, drg. Ita Isdiana Anwar, mengatakan kasus tersebut diduga telah berlangsung selama sekitar dua tahun. Perkara itu baru terungkap setelah salah satu korban melaporkannya ke Polrestabes Makassar.
"Dia (pelaku) pernah dilaporkan oleh korban 17 Mei ke UPTD PPA, tapi awalnya mereka melapor di Polrestabes. Tiga orang pelapor, termasuk salah satu anaknya ini sampai visum. Sehingga pelaku ini sudah ditangkap," ungkapnya, Selasa (21/7/2026).
Menurut Ita, salah satu dari tiga pelapor kemudian mencabut laporannya. Namun, hasil asesmen DPPPA menunjukkan dugaan jumlah korban jauh lebih banyak.
"Setelah kami asesmen, ini masalah sudah 2 tahun berlangsung tapi baru ketahuan. Pelaku ini adalah pemilik warung depan sekolah. Jadi setiap anak-anak ke situ belanja, itulah dia lakukan pelecehan seksual. Nah, memang setelah ditanya-tanya, anak-anak dikorek-korek (dilecehkan) sampai 32 orang," tambahnya.
DPPPA Makassar kini terus memberikan pendampingan hukum dan psikologis kepada para korban. Pendampingan dilakukan mulai dari proses pemeriksaan hingga layanan konseling.
"Pendampingan dalam arti supaya pelaku ini kembali lagi ditahan. Artinya kita membuat laporan baru. Makanya kami mendampingi, kami sudah koordinasi dengan Kanit PPA Polrestabes, setiap hari kami bawa 5 (anak). Kemudian konseling pasti. Jadi beberapa anak-anak trauma, ya. Jadi kita konseling di Puspaga. Cuman sampai sekarang belum ada yang muncul konseling, tapi kita tetap meminta mereka karena mungkin kasus BAP dulu mereka konsentrasi," jelasnya kepada wartawan.
Kepala DPPPA Kota Makassar, drg. Ita Isdiana Anwar, mengatakan kasus tersebut diduga telah berlangsung selama sekitar dua tahun. Perkara itu baru terungkap setelah salah satu korban melaporkannya ke Polrestabes Makassar.
"Dia (pelaku) pernah dilaporkan oleh korban 17 Mei ke UPTD PPA, tapi awalnya mereka melapor di Polrestabes. Tiga orang pelapor, termasuk salah satu anaknya ini sampai visum. Sehingga pelaku ini sudah ditangkap," ungkapnya, Selasa (21/7/2026).
Menurut Ita, salah satu dari tiga pelapor kemudian mencabut laporannya. Namun, hasil asesmen DPPPA menunjukkan dugaan jumlah korban jauh lebih banyak.
"Setelah kami asesmen, ini masalah sudah 2 tahun berlangsung tapi baru ketahuan. Pelaku ini adalah pemilik warung depan sekolah. Jadi setiap anak-anak ke situ belanja, itulah dia lakukan pelecehan seksual. Nah, memang setelah ditanya-tanya, anak-anak dikorek-korek (dilecehkan) sampai 32 orang," tambahnya.
DPPPA Makassar kini terus memberikan pendampingan hukum dan psikologis kepada para korban. Pendampingan dilakukan mulai dari proses pemeriksaan hingga layanan konseling.
"Pendampingan dalam arti supaya pelaku ini kembali lagi ditahan. Artinya kita membuat laporan baru. Makanya kami mendampingi, kami sudah koordinasi dengan Kanit PPA Polrestabes, setiap hari kami bawa 5 (anak). Kemudian konseling pasti. Jadi beberapa anak-anak trauma, ya. Jadi kita konseling di Puspaga. Cuman sampai sekarang belum ada yang muncul konseling, tapi kita tetap meminta mereka karena mungkin kasus BAP dulu mereka konsentrasi," jelasnya kepada wartawan.