Pengurus NU se-Sulawesi Dukung Gus Rozin Perkuat Pesantren & Kemandirian Jam’iyah
Tim SINDOmakassar
Sabtu, 08 Agustus 2026 - 13:49 WIB
Calon Ketua Umum PBNU, KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, bersilaturahmi bersama jajaran PWNU dan PCNU di kawasan Sulawesi. Foto/Istimewa
Penguatan pesantren, kemandirian jamaah, kaderisasi, dan posisi Nahdlatul Ulama (NU) sebagai masyarakat sipil keagamaan menjadi sejumlah gagasan yang mengemuka dalam silaturahim calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin, bersama jajaran PWNU dan PCNU di kawasan Sulawesi.
Dalam pertemuan di Hotel Gammara, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (7/8/2026) malam, Gus Rozin menegaskan bahwa NU harus tetap kritis dan mandiri, sekaligus mampu berjalan berdampingan dengan pemerintah sebagai sahabat tanpa kehilangan fungsi kontrol sosialnya.
Silaturahim dan konsolidasi gagasan tersebut digelar PWNU Sulawesi Selatan dan dihadiri jajaran PWNU, PCNU, serta para kiai dari kawasan Sulawesi. Pertemuan menjadi ruang dialog untuk membahas arah perjuangan NU memasuki abad kedua sekaligus menyerap aspirasi pengurus di tingkat wilayah dan cabang.
Mewakili PWNU Sulawesi Selatan sebagai tuan rumah, Dr. KH. La Ode Arumahi, menyambut kedatangan Gus Rozin dan rombongan. Ia menilai pertemuan tersebut penting untuk mempertemukan gagasan calon ketua umum dengan kebutuhan nyata jam’iyah di daerah.
Menurutnya, interaksi yang dibangun melalui forum tersebut dapat menjadi bahan dalam merumuskan arah perjuangan NU menjelang Muktamar.
Poros Tengah untuk Merawat Ukhuwah
Dalam paparannya, Gus Rozin mengatakan pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU berangkat dari keinginan mempertemukan berbagai pandangan di lingkungan NU. Ia menilai perbedaan pendapat di kalangan kiai dan pengurus merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus dikelola secara bijaksana agar tidak berkembang menjadi polarisasi berkepanjangan.
Dalam pertemuan di Hotel Gammara, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (7/8/2026) malam, Gus Rozin menegaskan bahwa NU harus tetap kritis dan mandiri, sekaligus mampu berjalan berdampingan dengan pemerintah sebagai sahabat tanpa kehilangan fungsi kontrol sosialnya.
Silaturahim dan konsolidasi gagasan tersebut digelar PWNU Sulawesi Selatan dan dihadiri jajaran PWNU, PCNU, serta para kiai dari kawasan Sulawesi. Pertemuan menjadi ruang dialog untuk membahas arah perjuangan NU memasuki abad kedua sekaligus menyerap aspirasi pengurus di tingkat wilayah dan cabang.
Mewakili PWNU Sulawesi Selatan sebagai tuan rumah, Dr. KH. La Ode Arumahi, menyambut kedatangan Gus Rozin dan rombongan. Ia menilai pertemuan tersebut penting untuk mempertemukan gagasan calon ketua umum dengan kebutuhan nyata jam’iyah di daerah.
Menurutnya, interaksi yang dibangun melalui forum tersebut dapat menjadi bahan dalam merumuskan arah perjuangan NU menjelang Muktamar.
Poros Tengah untuk Merawat Ukhuwah
Dalam paparannya, Gus Rozin mengatakan pencalonannya sebagai Ketua Umum PBNU berangkat dari keinginan mempertemukan berbagai pandangan di lingkungan NU. Ia menilai perbedaan pendapat di kalangan kiai dan pengurus merupakan bagian dari dinamika organisasi yang harus dikelola secara bijaksana agar tidak berkembang menjadi polarisasi berkepanjangan.