Gus Zaki: Muktamar NU Harus Berdaulat, Tolak Politik Paket
Tim SINDOmakassar
Rabu, 19 Agustus 2026 - 19:38 WIB
Wakil Ketua PWNU Jawa Tengah KH Ahmad Zaki Fuad alias Gus Zaki. Foto/Istimewa
Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ahmad Zaki Fuad alias Gus Zaki mengingatkan agar pencalonan Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar ke-35 tidak dikunci melalui paket-paket kepemimpinan. Menurutnya, siapa yang akan memimpin Nahdlatul Ulama harus ditentukan melalui mekanisme organisasi dan aspirasi peserta Muktamar.
Gus Zaki menilai spekulasi mengenai pasangan atau paket calon Ketua Umum dan Rais Aam berpotensi menggeser substansi Muktamar. Padahal, Muktamar merupakan forum tertinggi organisasi yang memiliki mandat untuk menentukan arah dan kepemimpinan NU.
“Muktamar adalah forum tertinggi organisasi. Karena itu, pilihan kepemimpinan NU harus lahir dari mekanisme organisasi dan aspirasi peserta Muktamar. Jangan sampai kepemimpinan NU sudah dikunci dalam paket-paket tertentu sebelum Muktamar berlangsung,” ujar Gus Zaki.
Ia juga menegaskan pencalonan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai calon Ketua Umum PBNU tidak dipaketkan dengan calon Rais Aam tertentu.
“Gus Rozin tidak ada paket dengan calon Rais Aam mana pun. Beliau telah lama berkhidmah dan berproses dalam organisasi NU, bersilaturahmi dengan PWNU dan PCNU di berbagai daerah, mendengarkan aspirasi para kiai dan pengurus, serta menyampaikan gagasan tentang masa depan NU,” katanya.
Menurut Gus Zaki, silaturahmi dan penjaringan aspirasi harus dibedakan dari pembentukan paket kepemimpinan. Pertemuan kandidat dengan PWNU, PCNU, pesantren, dan para kiai di berbagai daerah, kata dia, merupakan bagian dari proses organisasi.
“Jangan setiap pertemuan dengan pengurus NU kemudian diterjemahkan sebagai paket politik. Silaturahmi itu bagian dari tradisi organisasi NU. Dari situlah seorang kandidat mendengarkan aspirasi daerah dan memahami persoalan yang dihadapi warga NU,” ujarnya.
Gus Zaki menilai spekulasi mengenai pasangan atau paket calon Ketua Umum dan Rais Aam berpotensi menggeser substansi Muktamar. Padahal, Muktamar merupakan forum tertinggi organisasi yang memiliki mandat untuk menentukan arah dan kepemimpinan NU.
“Muktamar adalah forum tertinggi organisasi. Karena itu, pilihan kepemimpinan NU harus lahir dari mekanisme organisasi dan aspirasi peserta Muktamar. Jangan sampai kepemimpinan NU sudah dikunci dalam paket-paket tertentu sebelum Muktamar berlangsung,” ujar Gus Zaki.
Ia juga menegaskan pencalonan KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin sebagai calon Ketua Umum PBNU tidak dipaketkan dengan calon Rais Aam tertentu.
“Gus Rozin tidak ada paket dengan calon Rais Aam mana pun. Beliau telah lama berkhidmah dan berproses dalam organisasi NU, bersilaturahmi dengan PWNU dan PCNU di berbagai daerah, mendengarkan aspirasi para kiai dan pengurus, serta menyampaikan gagasan tentang masa depan NU,” katanya.
Menurut Gus Zaki, silaturahmi dan penjaringan aspirasi harus dibedakan dari pembentukan paket kepemimpinan. Pertemuan kandidat dengan PWNU, PCNU, pesantren, dan para kiai di berbagai daerah, kata dia, merupakan bagian dari proses organisasi.
“Jangan setiap pertemuan dengan pengurus NU kemudian diterjemahkan sebagai paket politik. Silaturahmi itu bagian dari tradisi organisasi NU. Dari situlah seorang kandidat mendengarkan aspirasi daerah dan memahami persoalan yang dihadapi warga NU,” ujarnya.