Dari Bilik Suara OSIS, Demokrasi Belajar Tumbuh
Samsir Salam
Selasa, 22 September 2026 - 17:28 WIB
Samsir Salam, Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan. Foto: Istimewa
Oleh Samsir Salam
(Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkep)
Masa depan demokrasi Indonesia sedang diuji di tempat yang sering kita anggap sederhana: bilik suara pemilihan ketua OSIS.
Di sanalah siswa mulai belajar memilih pemimpin, menilai gagasan, menghormati perbedaan, menerima kekalahan, dan mempertanggungjawabkan pilihan. Karena itu, pemilihan ketua OSIS di Sulawesi Selatan tidak semestinya dipandang sekadar agenda rutin sekolah. Ia adalah ruang pendidikan politik sejak dini.
Demokrasi tidak tiba-tiba lahir ketika seseorang genap berusia 17 tahun lalu mendapatkan hak pilih. Demokrasi seharusnya tumbuh jauh sebelumnya: di ruang kelas, dalam organisasi siswa, dalam keberanian menyampaikan pendapat, dan dalam pengalaman memilih pemimpin.
Pilketos mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak cukup bermodal popularitas. Ada visi yang harus ditawarkan, gagasan yang perlu diperdebatkan, program yang harus dijelaskan, dan tanggung jawab yang mesti ditunaikan.
Namun, pendidikan politik tidak boleh berhenti pada pencoblosan. Siswa perlu belajar seluruh prosesnya: mengenal calon, mendengar gagasan, bertanya, menilai program, memilih secara sadar, menerima hasil, dan mengawasi kepemimpinan setelah pemilihan.
(Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkep)
Masa depan demokrasi Indonesia sedang diuji di tempat yang sering kita anggap sederhana: bilik suara pemilihan ketua OSIS.
Di sanalah siswa mulai belajar memilih pemimpin, menilai gagasan, menghormati perbedaan, menerima kekalahan, dan mempertanggungjawabkan pilihan. Karena itu, pemilihan ketua OSIS di Sulawesi Selatan tidak semestinya dipandang sekadar agenda rutin sekolah. Ia adalah ruang pendidikan politik sejak dini.
Demokrasi tidak tiba-tiba lahir ketika seseorang genap berusia 17 tahun lalu mendapatkan hak pilih. Demokrasi seharusnya tumbuh jauh sebelumnya: di ruang kelas, dalam organisasi siswa, dalam keberanian menyampaikan pendapat, dan dalam pengalaman memilih pemimpin.
Pilketos mengajarkan bahwa kepemimpinan tidak cukup bermodal popularitas. Ada visi yang harus ditawarkan, gagasan yang perlu diperdebatkan, program yang harus dijelaskan, dan tanggung jawab yang mesti ditunaikan.
Namun, pendidikan politik tidak boleh berhenti pada pencoblosan. Siswa perlu belajar seluruh prosesnya: mengenal calon, mendengar gagasan, bertanya, menilai program, memilih secara sadar, menerima hasil, dan mengawasi kepemimpinan setelah pemilihan.