BPJS Kesehatan Libatkan Dai Perluas Literasi JKN di Sulsel
Tri Yari Kurniawan
Rabu, 23 September 2026 - 15:51 WIB
BPJS Kesehatan menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memperluas literasi masyarakat mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan melibatkan dai dan daiyah. Foto/Istimewa
BPJS Kesehatan menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memperluas literasi masyarakat mengenai Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan melibatkan dai dan daiyah sebagai edukator di tengah masyarakat.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan Transformasi Awareness dan Sinergi Bersama Insan Dakwah Jaminan Kesehatan Nasional (Tasbih JKN), Rabu (23/9/2026). Program ini menjadi ruang pembekalan bagi ulama, dai, dan daiyah agar mampu menyampaikan informasi mengenai JKN secara tepat melalui pendekatan dakwah.
Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan Akmal Budi Yulianto mengatakan, peran dai dan ulama sangat strategis karena memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat. Melalui Tasbih JKN, BPJS Kesehatan mendorong lahirnya edukator JKN dari kalangan insan dakwah di Sulawesi Selatan.
“Para dai dan daiyah memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi Program JKN kepada masyarakat melalui pendekatan dakwah. Dengan demikian, informasi mengenai hak, kewajiban, dan manfaat kepesertaan JKN dapat semakin luas dipahami masyarakat,” ujar Akmal.
Menurut Akmal, jumlah peserta JKN secara nasional telah mencapai 284,51 juta jiwa atau 98,07 persen dari total penduduk Indonesia. Namun, tingkat keaktifan peserta masih berada di angka 81,62 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan pemahaman masyarakat mengenai kepesertaan JKN.
Ia mengatakan, kesenjangan pemahaman masih menjadi tantangan, terutama karena akses informasi belum merata dan pemanfaatan layanan digital belum optimal. Karena itu, BPJS Kesehatan membutuhkan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk ulama, dai, dan daiyah.
“Melalui Tasbih JKN kami ingin membangun gerakan bersama agar insan dakwah menjadi Garda Terdepan JKN dalam menyampaikan informasi yang benar, membangun kesadaran hidup sehat, serta mengajak masyarakat memahami hak dan kewajibannya sebagai peserta JKN,” katanya.
Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan Transformasi Awareness dan Sinergi Bersama Insan Dakwah Jaminan Kesehatan Nasional (Tasbih JKN), Rabu (23/9/2026). Program ini menjadi ruang pembekalan bagi ulama, dai, dan daiyah agar mampu menyampaikan informasi mengenai JKN secara tepat melalui pendekatan dakwah.
Direktur Kepesertaan BPJS Kesehatan Akmal Budi Yulianto mengatakan, peran dai dan ulama sangat strategis karena memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat. Melalui Tasbih JKN, BPJS Kesehatan mendorong lahirnya edukator JKN dari kalangan insan dakwah di Sulawesi Selatan.
“Para dai dan daiyah memiliki peran strategis dalam menyampaikan edukasi Program JKN kepada masyarakat melalui pendekatan dakwah. Dengan demikian, informasi mengenai hak, kewajiban, dan manfaat kepesertaan JKN dapat semakin luas dipahami masyarakat,” ujar Akmal.
Menurut Akmal, jumlah peserta JKN secara nasional telah mencapai 284,51 juta jiwa atau 98,07 persen dari total penduduk Indonesia. Namun, tingkat keaktifan peserta masih berada di angka 81,62 persen. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan pemahaman masyarakat mengenai kepesertaan JKN.
Ia mengatakan, kesenjangan pemahaman masih menjadi tantangan, terutama karena akses informasi belum merata dan pemanfaatan layanan digital belum optimal. Karena itu, BPJS Kesehatan membutuhkan kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk ulama, dai, dan daiyah.
“Melalui Tasbih JKN kami ingin membangun gerakan bersama agar insan dakwah menjadi Garda Terdepan JKN dalam menyampaikan informasi yang benar, membangun kesadaran hidup sehat, serta mengajak masyarakat memahami hak dan kewajibannya sebagai peserta JKN,” katanya.