home news

Syamsul Bahri Majjaga: Jangan Tarik Polemik Fanny Frans Menjadi Isu Marwah Profesi Tanpa Dasar

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:22 WIB
Advokat Syamsul Bahri Majjaga. Foto: Istimewa
Advokat Syamsul Bahri Majjaga meminta polemik yang melibatkan Fanny Frans di media sosial disikapi secara proporsional. Ia menegaskan, persoalan yang berkembang di ruang digital harus dilihat berdasarkan konteks dan fakta, bukan dengan menarik kesimpulan yang berpotensi memperluas persoalan ke ranah kehormatan profesi tanpa dasar yang jelas.

Magister Hukum ini menuturkan, Fanny Frans tidak pernah menyinggung wartawan dan advokat dalam kapasitas mereka sebagai profesi. Karena itu, anggapan bahwa Fanny telah mencederai marwah kedua profesi tersebut perlu dijelaskan dengan menunjukkan pernyataan spesifik yang dianggap sebagai bentuk serangan.

“Kalau dikatakan Fanny Frans mencederai marwah profesi wartawan atau advokat, harus jelas pernyataan mana yang dimaksud. Apa yang diucapkan, kepada siapa ditujukan, dan dalam konteks apa disampaikan? Penilaian seperti ini tidak boleh dibangun hanya berdasarkan asumsi atau potongan informasi,” ujar Syamsul.

Ia menilai, perbedaan pendapat, kritik, maupun respons emosional seseorang dalam polemik pribadi tidak serta-merta dapat dimaknai sebagai serangan terhadap profesi tertentu. Menurutnya, perlu ada pemisahan yang tegas antara persoalan personal dan persoalan yang benar-benar menyangkut kehormatan profesi.

Syamsul juga menyoroti aspek yang dinilainya tidak boleh diabaikan, yakni martabat anak. Dalam polemik tersebut, terdapat komentar di media sosial yang menyebut anak Fanny Frans dengan istilah “anak kodok”. Syamsul mengonfirmasi adanya komentar tersebut dan mengingatkan bahwa anak tidak semestinya dijadikan sasaran ejekan dalam pertikaian orang dewasa.

“Anak memiliki martabat yang harus dihormati. Apa pun persoalan di antara orang dewasa, jangan sampai anak ikut menjadi sasaran. Perbedaan pandangan atau konflik personal tidak seharusnya menjadi alasan untuk merendahkan seorang anak,” tegasnya.

Menurut Syamsul, perhatian terhadap martabat anak harus menjadi bagian penting dalam menyikapi polemik di media sosial. Kritik terhadap seseorang tetap dimungkinkan, tetapi harus disampaikan secara bertanggung jawab dan tidak bergeser menjadi serangan yang menyeret anggota keluarga, terutama anak, ke dalam konflik.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya