Opini
AI dan Hoaks Keagamaan: Ketika Teknologi Diuji oleh Kearifan Lokal
Tim SINDOmakassar
Sabtu, 07 November 2026 - 13:32 WIB
Muhammad Imran Irwan, Mahasiswa Semester 3 Jurusan KPI A Nonreguler, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Foto/Dok Pribadi
Oleh: Muhammad Imran Irwan -
Mahasiswa Semester 3 Jurusan KPI A Nonreguler, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia jurnalistik. Teknologi ini menawarkan kemudahan bagi wartawan dalam mencari, mengolah, menganalisis, hingga memverifikasi informasi. Namun, di balik kecanggihannya, AI juga menghadirkan tantangan baru, terutama ketika berhadapan dengan informasi yang berkaitan dengan agama, kepercayaan, dan tradisi masyarakat lokal.
Salah satu fenomena yang menarik untuk dikaji adalah Haji Bawakaraeng di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Fenomena pendakian Gunung Bawakaraeng yang oleh sebagian masyarakat dikaitkan dengan tradisi spiritual, pelaksanaan nazar, maupun ritual keagamaan ini telah lama memunculkan beragam pandangan dan penafsiran.
Bagi sebagian masyarakat, fenomena tersebut memiliki dimensi budaya dan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, dari sudut pandang keagamaan, praktik tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai makna dan kesesuaiannya dengan ketentuan ibadah haji dalam Islam.
Perbedaan perspektif inilah yang membuat pemberitaan mengenai Haji Bawakaraeng tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Apalagi, di tengah derasnya arus informasi di media sosial, foto, video, maupun potongan pernyataan dapat dengan mudah disebarluaskan tanpa konteks yang jelas.
Di sinilah jurnalisme berbantuan kecerdasan buatan atau AI-assisted journalism memiliki peran penting.
Mahasiswa Semester 3 Jurusan KPI A Nonreguler, Pascasarjana UIN Alauddin Makassar
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia jurnalistik. Teknologi ini menawarkan kemudahan bagi wartawan dalam mencari, mengolah, menganalisis, hingga memverifikasi informasi. Namun, di balik kecanggihannya, AI juga menghadirkan tantangan baru, terutama ketika berhadapan dengan informasi yang berkaitan dengan agama, kepercayaan, dan tradisi masyarakat lokal.
Salah satu fenomena yang menarik untuk dikaji adalah Haji Bawakaraeng di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Fenomena pendakian Gunung Bawakaraeng yang oleh sebagian masyarakat dikaitkan dengan tradisi spiritual, pelaksanaan nazar, maupun ritual keagamaan ini telah lama memunculkan beragam pandangan dan penafsiran.
Bagi sebagian masyarakat, fenomena tersebut memiliki dimensi budaya dan sejarah yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, dari sudut pandang keagamaan, praktik tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai makna dan kesesuaiannya dengan ketentuan ibadah haji dalam Islam.
Perbedaan perspektif inilah yang membuat pemberitaan mengenai Haji Bawakaraeng tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Apalagi, di tengah derasnya arus informasi di media sosial, foto, video, maupun potongan pernyataan dapat dengan mudah disebarluaskan tanpa konteks yang jelas.
Di sinilah jurnalisme berbantuan kecerdasan buatan atau AI-assisted journalism memiliki peran penting.