Rektor UIN Alauddin Singgung Penyakit Intelektual di Pengukuhan 3 Guru Besar
Tim SINDOmakassar
Senin, 18 Mei 2026 - 23:20 WIB
(Dari kiri) Prof Dr Nur Syamsiah, Prof Dr Firdaus, dan Prof Dr Asni berjejer sesaat sebelum dikukuhkan sebagai guru besar UIN Alauddin Makassat oleh Rektor Prof Hamdan Juhannis. Foto: Istimewa
UIN Alauddin Makassar mengukuhkan tiga guru besar dalam Sidang Senat Terbuka di Gedung Auditorium UIN Alauddin Makassar Kampus II, Gowa, Senin (18/5/2026).
Ketiga guru besar yang dikukuhkan adalah Prof Dr Hj Asni S Ag M H I dalam Bidang Hukum Keluarga Islam; Prof Dr Firdaus M Ag pada Bidang Kepakaran Tafsir Sufi Nusantara; dan Prof Dr Nur Syamsiah M Pd I dalam Rating Ilmu/Kepakaran Gender dan Pendidikan Islam.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis, menyampaikan pesan reflektif kepada ketiga profesor yang baru dikukuhkan. Ia mengajak para guru besar menjadi pendidik yang bukan hanya cerdas, tetapi juga “cerdas cermat” dalam menjalankan peran akademik dan sosialnya.
Menurut Prof Hamdan, menjadi cerdas cermat sesungguhnya bukan hal yang asing. Sejak kecil, banyak orang telah akrab dengan istilah itu melalui berbagai perlombaan di sekolah. Namun, menurutnya, makna cerdas cermat saat ini memiliki tantangan yang jauh lebih besar.
“Dulu ketika kecil kita ikut lomba cerdas cermat melawan regu sekolah lain. Sekarang lomba cerdas cermat kita adalah melawan diri sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan terbesar seorang akademisi bukan lagi kompetisi eksternal, melainkan kemampuan mengendalikan ego pribadi. Guru besar, kata dia, perlu cerdas cermat melawan keangkuhan intelektual, kesombongan, hingga dorongan untuk selalu merasa paling benar.
“Cerdas cermat melawan ego, cerdas cermat melawan keangkuhan dan kesombongan intelektual. Cerdas cermat melawan keinginan untuk selalu merasa benar atau selalu merasa pemenang sendiri,” katanya.
Ketiga guru besar yang dikukuhkan adalah Prof Dr Hj Asni S Ag M H I dalam Bidang Hukum Keluarga Islam; Prof Dr Firdaus M Ag pada Bidang Kepakaran Tafsir Sufi Nusantara; dan Prof Dr Nur Syamsiah M Pd I dalam Rating Ilmu/Kepakaran Gender dan Pendidikan Islam.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor UIN Alauddin Makassar, Prof Hamdan Juhannis, menyampaikan pesan reflektif kepada ketiga profesor yang baru dikukuhkan. Ia mengajak para guru besar menjadi pendidik yang bukan hanya cerdas, tetapi juga “cerdas cermat” dalam menjalankan peran akademik dan sosialnya.
Menurut Prof Hamdan, menjadi cerdas cermat sesungguhnya bukan hal yang asing. Sejak kecil, banyak orang telah akrab dengan istilah itu melalui berbagai perlombaan di sekolah. Namun, menurutnya, makna cerdas cermat saat ini memiliki tantangan yang jauh lebih besar.
“Dulu ketika kecil kita ikut lomba cerdas cermat melawan regu sekolah lain. Sekarang lomba cerdas cermat kita adalah melawan diri sendiri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan terbesar seorang akademisi bukan lagi kompetisi eksternal, melainkan kemampuan mengendalikan ego pribadi. Guru besar, kata dia, perlu cerdas cermat melawan keangkuhan intelektual, kesombongan, hingga dorongan untuk selalu merasa paling benar.
“Cerdas cermat melawan ego, cerdas cermat melawan keangkuhan dan kesombongan intelektual. Cerdas cermat melawan keinginan untuk selalu merasa benar atau selalu merasa pemenang sendiri,” katanya.