PLN UIP Sulawesi Pulihkan Pesisir Jeneponto Lewat Rehabilitasi Mangrove
Tri Yari Kurniawan
Selasa, 30 Juni 2026 - 16:03 WIB
Melalui program TJSL, PLN UIP Sulawesi merehabilitasi kawasan mangrove sebagai upaya memperkuat ketahanan pesisir sekaligus memberdayakan masyarakat. Foto/Istimewa
Kawasan pesisir Kelurahan Tonrokassi Timur, Kecamatan Tamalatea, Kabupaten Jeneponto, yang sebelumnya terdegradasi akibat abrasi dan banjir rob kini mulai menunjukkan pemulihan. Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi merehabilitasi kawasan mangrove sebagai upaya memperkuat ketahanan pesisir sekaligus memberdayakan masyarakat.
Program rehabilitasi dilakukan di atas lahan seluas 2,7 hektare yang sebelumnya merupakan bekas tambak dengan fungsi ekologis yang terus menurun. Dalam pelaksanaannya, PLN UIP Sulawesi melibatkan masyarakat pesisir, nelayan, dan pengelola tambak sejak proses penanaman, pemeliharaan hingga pengawasan pertumbuhan mangrove.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar program tidak berhenti pada kegiatan penanaman semata, tetapi berkelanjutan sebagai gerakan bersama dalam menjaga ekosistem pesisir.
Pelaksanaan program sempat menghadapi tantangan. Gelombang laut dan genangan air menyebabkan sebagian bibit mangrove tidak bertahan. Untuk mengatasinya, PLN UIP Sulawesi melakukan monitoring berkala, penyulaman bibit, serta menyesuaikan jenis tanaman dengan memperbanyak mangrove jenis Avicennia yang lebih adaptif terhadap kondisi pesisir terbuka.
Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Hingga November 2025, sebanyak 5.401 pohon mangrove tercatat hidup dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai sekitar 77 persen. Pertumbuhan mangrove tersebut diharapkan mampu mengurangi laju abrasi, memperkuat perlindungan daratan, memperbaiki kualitas lingkungan perairan, serta mendukung pemulihan ekosistem pesisir.
Selain memberikan manfaat ekologis, program ini juga mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir. Warga yang sebelumnya hanya menjadi penerima manfaat kini turut berperan sebagai penjaga keberlanjutan rehabilitasi mangrove.
Program tersebut juga berkontribusi terhadap peningkatan serapan karbon biru (blue carbon) dengan estimasi potensi serapan mencapai 18,9 ton CO₂e per tahun.
Program rehabilitasi dilakukan di atas lahan seluas 2,7 hektare yang sebelumnya merupakan bekas tambak dengan fungsi ekologis yang terus menurun. Dalam pelaksanaannya, PLN UIP Sulawesi melibatkan masyarakat pesisir, nelayan, dan pengelola tambak sejak proses penanaman, pemeliharaan hingga pengawasan pertumbuhan mangrove.
Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting agar program tidak berhenti pada kegiatan penanaman semata, tetapi berkelanjutan sebagai gerakan bersama dalam menjaga ekosistem pesisir.
Pelaksanaan program sempat menghadapi tantangan. Gelombang laut dan genangan air menyebabkan sebagian bibit mangrove tidak bertahan. Untuk mengatasinya, PLN UIP Sulawesi melakukan monitoring berkala, penyulaman bibit, serta menyesuaikan jenis tanaman dengan memperbanyak mangrove jenis Avicennia yang lebih adaptif terhadap kondisi pesisir terbuka.
Upaya tersebut mulai membuahkan hasil. Hingga November 2025, sebanyak 5.401 pohon mangrove tercatat hidup dengan tingkat kelangsungan hidup mencapai sekitar 77 persen. Pertumbuhan mangrove tersebut diharapkan mampu mengurangi laju abrasi, memperkuat perlindungan daratan, memperbaiki kualitas lingkungan perairan, serta mendukung pemulihan ekosistem pesisir.
Selain memberikan manfaat ekologis, program ini juga mendorong tumbuhnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir. Warga yang sebelumnya hanya menjadi penerima manfaat kini turut berperan sebagai penjaga keberlanjutan rehabilitasi mangrove.
Program tersebut juga berkontribusi terhadap peningkatan serapan karbon biru (blue carbon) dengan estimasi potensi serapan mencapai 18,9 ton CO₂e per tahun.