Manusia Purba Sulawesi Konsumsi Pinang Sejak 25.000 Tahun Lalu, Bukti Tertua Zat Psikoaktif
Jum'at, 02 Okt 2026 23:12
Penelitian terbaru mengungkap bukti bahwa manusia di kawasan Sulawesi telah mengonsumsi pinang yang mengandung senyawa psikoaktif sekitar 25.000 tahun lalu. Foto: Istimewa
MAROS - Jejak penggunaan pinang oleh manusia prasejarah ditemukan di Sulawesi Selatan. Penelitian terbaru mengungkap bukti bahwa manusia di kawasan Sulawesi telah mengonsumsi pinang yang mengandung senyawa psikoaktif sekitar 25.000 tahun lalu.
Temuan tersebut berasal dari analisis terhadap sisa manusia prasejarah dari Leang Bulu Bettue, Maros, dan Leang Cappa Lombo, Bone. Penelitian melibatkan sejumlah peneliti dari Indonesia dan Australia, termasuk peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances memberikan gambaran baru mengenai sejarah penggunaan tumbuhan psikoaktif dan tradisi mengonsumsi pinang di Asia Tenggara.
Temuan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa praktik pemanfaatan tumbuhan yang mengandung senyawa neuroaktif telah berlangsung jauh sebelum periode Neolitikum. Penelitian berawal dari temuan pola keausan gigi yang tidak biasa pada individu manusia prasejarah.
Fakhri, peneliti BRIN, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan melalui pengamatan makroskopis dan mikroskopis terhadap kondisi gigi, termasuk tanda-tanda paleopatologi.
Salah satu sampel berasal dari Leang Bulu Bettue, Maros, yang diperkirakan hidup pada periode Pleistosen Akhir, sekitar 25.000 hingga 16.000 tahun lalu.
Gigi individu tersebut memperlihatkan pola keausan melingkar atau circumferential wear yang sangat kuat pada bagian oklusal geraham.
Sementara itu, sampel lainnya berasal dari Leang Cappa Lombo, Bone, yang berasal dari periode Holosen Tengah sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu.
Pada spesimen CPL-R2, individu laki-laki dewasa berusia sekitar 33–50 tahun, peneliti juga menemukan pola keausan gigi yang serupa.
Awalnya, pola keausan tersebut sempat diduga berkaitan dengan aktivitas penggunaan gigi sebagai alat bantu kerja.
Basran Burhan, peneliti geoarkeologi dari Griffith University Australia, mengatakan pola keausan yang sangat drastis membuat peneliti mempertimbangkan kemungkinan adanya aktivitas tertentu yang dilakukan secara berulang menggunakan gigi.
Namun, penelitian lebih lanjut mengarah pada dugaan bahwa individu tersebut mengulum benda berbentuk bulat dengan ukuran sekitar 1–2 sentimeter secara berulang di dalam rongga mulut.
Untuk menguji dugaan tersebut, tim peneliti menggunakan analisis biomolekuler Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS).
Metode tersebut digunakan untuk mendeteksi residu kimia yang masih tersimpan pada material gigi dan kalkulus atau karang gigi.
Hasil analisis menemukan arecoline, yakni alkaloid utama yang terdapat pada biji pinang (Areca catechu).
Arecoline merupakan senyawa psikoaktif yang bekerja sebagai stimulan pada sistem saraf pusat.
Temuan tersebut menjadi petunjuk penting bahwa manusia prasejarah di Sulawesi telah memanfaatkan pinang sejak puluhan ribu tahun lalu.
Budianto Hakim, peneliti Pusat Kolaborasi Riset Sulawesi, menyebut temuan tersebut memberikan perspektif baru mengenai sejarah penggunaan zat stimulan oleh manusia.
Penelitian eksperimental selanjutnya juga menunjukkan bahwa biji pinang dapat melepaskan senyawa arecoline ketika berada dalam kondisi yang menyerupai lingkungan rongga mulut.
Pinang di Sulawesi Jauh Lebih Tua dari Tradisi Neolitikum
Temuan pinang di Sulawesi berusia sekitar 25.000 tahun ini memiliki arti penting dalam memahami sejarah penggunaan tumbuhan psikoaktif.
Sebelumnya, sejumlah bukti arkeologis mengenai pemanfaatan zat psikoaktif umumnya berasal dari periode yang jauh lebih muda.
Bukti penggunaan alkohol, opium, maupun ganja telah ditemukan pada berbagai situs arkeologi di Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Namun, bukti penggunaan pinang dari Sulawesi menunjukkan bahwa pemanfaatan tumbuhan dengan kandungan senyawa psikoaktif telah berlangsung pada masa pemburu-pengumpul.
Temuan tersebut juga menantang pandangan lama mengenai asal-usul tradisi mengonsumsi pinang di Sulawesi.
Sebelumnya, tradisi mengunyah pinang kerap dikaitkan dengan penyebaran penutur bahasa Austronesia ke Asia Tenggara dan kepulauan Nusantara pada periode Neolitikum.
Namun, bukti arkeologis dari Sulawesi menunjukkan bahwa pemanfaatan pinang telah berlangsung jauh sebelum periode tersebut.
Fakhri mengatakan temuan ini membuka kemungkinan bahwa tradisi pemanfaatan pinang di Sulawesi memiliki sejarah yang jauh lebih panjang. Selain menunjukkan aktivitas konsumsi pinang, kondisi gigi manusia prasejarah juga memberikan informasi mengenai kesehatan individu pada masa tersebut.
Spesimen dari Leang Cappa Lombo menunjukkan sejumlah indikasi penyakit gigi dan mulut, termasuk periodontitis, abses, serta kehilangan gigi semasa hidup atau antemortem tooth loss.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan gigi telah menjadi bagian dari persoalan kehidupan manusia prasejarah.
Pola keausan gigi yang ekstrem juga menjadi petunjuk mengenai aktivitas berulang yang dilakukan menggunakan rongga mulut.
Meski demikian, hubungan langsung antara konsumsi pinang dengan tujuan mengobati sakit gigi masih perlu dipahami secara hati-hati. Temuan arkeologis tersebut menunjukkan adanya konsumsi pinang, tetapi tidak serta-merta membuktikan bahwa pinang digunakan secara khusus sebagai obat sakit gigi oleh individu tersebut. Temuan di Leang Bulu Bettue dan Leang Cappa Lombo memperkuat posisi Sulawesi sebagai salah satu kawasan penting dalam penelitian evolusi manusia dan budaya prasejarah.
Gigi manusia bukan hanya menyimpan informasi mengenai usia, pola makan, dan kondisi kesehatan, tetapi juga dapat menyimpan jejak kimiawi dari aktivitas manusia pada masa lalu.
Melalui analisis biomolekuler, peneliti kini dapat mengungkap hubungan manusia prasejarah dengan tumbuhan yang sebelumnya sulit diketahui hanya melalui artefak batu atau tulang.
Bukti penggunaan pinang sekitar 25.000 tahun lalu juga menunjukkan bahwa pengetahuan manusia mengenai tumbuhan dengan efek fisiologis telah berkembang jauh sebelum munculnya pertanian.
Bagi Sulawesi, temuan ini menambah panjang daftar bukti mengenai kompleksitas kehidupan manusia prasejarah di kawasan tersebut.
Dari gua-gua karst Maros hingga kawasan Bone, jejak yang tersimpan pada gigi manusia purba membuka cerita baru tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan tumbuhan, lingkungan, kesehatan, dan budaya.
Temuan pinang berusia sekitar 25.000 tahun di Sulawesi pun menjadi salah satu bukti penting untuk memahami sejarah awal pemanfaatan tumbuhan psikoaktif oleh manusia.
Temuan tersebut berasal dari analisis terhadap sisa manusia prasejarah dari Leang Bulu Bettue, Maros, dan Leang Cappa Lombo, Bone. Penelitian melibatkan sejumlah peneliti dari Indonesia dan Australia, termasuk peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science Advances memberikan gambaran baru mengenai sejarah penggunaan tumbuhan psikoaktif dan tradisi mengonsumsi pinang di Asia Tenggara.
Temuan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa praktik pemanfaatan tumbuhan yang mengandung senyawa neuroaktif telah berlangsung jauh sebelum periode Neolitikum. Penelitian berawal dari temuan pola keausan gigi yang tidak biasa pada individu manusia prasejarah.
Fakhri, peneliti BRIN, menjelaskan bahwa penelitian dilakukan melalui pengamatan makroskopis dan mikroskopis terhadap kondisi gigi, termasuk tanda-tanda paleopatologi.
Salah satu sampel berasal dari Leang Bulu Bettue, Maros, yang diperkirakan hidup pada periode Pleistosen Akhir, sekitar 25.000 hingga 16.000 tahun lalu.
Gigi individu tersebut memperlihatkan pola keausan melingkar atau circumferential wear yang sangat kuat pada bagian oklusal geraham.
Sementara itu, sampel lainnya berasal dari Leang Cappa Lombo, Bone, yang berasal dari periode Holosen Tengah sekitar 7.600 hingga 6.300 tahun lalu.
Pada spesimen CPL-R2, individu laki-laki dewasa berusia sekitar 33–50 tahun, peneliti juga menemukan pola keausan gigi yang serupa.
Awalnya, pola keausan tersebut sempat diduga berkaitan dengan aktivitas penggunaan gigi sebagai alat bantu kerja.
Basran Burhan, peneliti geoarkeologi dari Griffith University Australia, mengatakan pola keausan yang sangat drastis membuat peneliti mempertimbangkan kemungkinan adanya aktivitas tertentu yang dilakukan secara berulang menggunakan gigi.
Namun, penelitian lebih lanjut mengarah pada dugaan bahwa individu tersebut mengulum benda berbentuk bulat dengan ukuran sekitar 1–2 sentimeter secara berulang di dalam rongga mulut.
Untuk menguji dugaan tersebut, tim peneliti menggunakan analisis biomolekuler Liquid Chromatography-Mass Spectrometry (LC-MS).
Metode tersebut digunakan untuk mendeteksi residu kimia yang masih tersimpan pada material gigi dan kalkulus atau karang gigi.
Hasil analisis menemukan arecoline, yakni alkaloid utama yang terdapat pada biji pinang (Areca catechu).
Arecoline merupakan senyawa psikoaktif yang bekerja sebagai stimulan pada sistem saraf pusat.
Temuan tersebut menjadi petunjuk penting bahwa manusia prasejarah di Sulawesi telah memanfaatkan pinang sejak puluhan ribu tahun lalu.
Budianto Hakim, peneliti Pusat Kolaborasi Riset Sulawesi, menyebut temuan tersebut memberikan perspektif baru mengenai sejarah penggunaan zat stimulan oleh manusia.
Penelitian eksperimental selanjutnya juga menunjukkan bahwa biji pinang dapat melepaskan senyawa arecoline ketika berada dalam kondisi yang menyerupai lingkungan rongga mulut.
Pinang di Sulawesi Jauh Lebih Tua dari Tradisi Neolitikum
Temuan pinang di Sulawesi berusia sekitar 25.000 tahun ini memiliki arti penting dalam memahami sejarah penggunaan tumbuhan psikoaktif.
Sebelumnya, sejumlah bukti arkeologis mengenai pemanfaatan zat psikoaktif umumnya berasal dari periode yang jauh lebih muda.
Bukti penggunaan alkohol, opium, maupun ganja telah ditemukan pada berbagai situs arkeologi di Asia, Eropa, dan Timur Tengah. Namun, bukti penggunaan pinang dari Sulawesi menunjukkan bahwa pemanfaatan tumbuhan dengan kandungan senyawa psikoaktif telah berlangsung pada masa pemburu-pengumpul.
Temuan tersebut juga menantang pandangan lama mengenai asal-usul tradisi mengonsumsi pinang di Sulawesi.
Sebelumnya, tradisi mengunyah pinang kerap dikaitkan dengan penyebaran penutur bahasa Austronesia ke Asia Tenggara dan kepulauan Nusantara pada periode Neolitikum.
Namun, bukti arkeologis dari Sulawesi menunjukkan bahwa pemanfaatan pinang telah berlangsung jauh sebelum periode tersebut.
Fakhri mengatakan temuan ini membuka kemungkinan bahwa tradisi pemanfaatan pinang di Sulawesi memiliki sejarah yang jauh lebih panjang. Selain menunjukkan aktivitas konsumsi pinang, kondisi gigi manusia prasejarah juga memberikan informasi mengenai kesehatan individu pada masa tersebut.
Spesimen dari Leang Cappa Lombo menunjukkan sejumlah indikasi penyakit gigi dan mulut, termasuk periodontitis, abses, serta kehilangan gigi semasa hidup atau antemortem tooth loss.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kesehatan gigi telah menjadi bagian dari persoalan kehidupan manusia prasejarah.
Pola keausan gigi yang ekstrem juga menjadi petunjuk mengenai aktivitas berulang yang dilakukan menggunakan rongga mulut.
Meski demikian, hubungan langsung antara konsumsi pinang dengan tujuan mengobati sakit gigi masih perlu dipahami secara hati-hati. Temuan arkeologis tersebut menunjukkan adanya konsumsi pinang, tetapi tidak serta-merta membuktikan bahwa pinang digunakan secara khusus sebagai obat sakit gigi oleh individu tersebut. Temuan di Leang Bulu Bettue dan Leang Cappa Lombo memperkuat posisi Sulawesi sebagai salah satu kawasan penting dalam penelitian evolusi manusia dan budaya prasejarah.
Gigi manusia bukan hanya menyimpan informasi mengenai usia, pola makan, dan kondisi kesehatan, tetapi juga dapat menyimpan jejak kimiawi dari aktivitas manusia pada masa lalu.
Melalui analisis biomolekuler, peneliti kini dapat mengungkap hubungan manusia prasejarah dengan tumbuhan yang sebelumnya sulit diketahui hanya melalui artefak batu atau tulang.
Bukti penggunaan pinang sekitar 25.000 tahun lalu juga menunjukkan bahwa pengetahuan manusia mengenai tumbuhan dengan efek fisiologis telah berkembang jauh sebelum munculnya pertanian.
Bagi Sulawesi, temuan ini menambah panjang daftar bukti mengenai kompleksitas kehidupan manusia prasejarah di kawasan tersebut.
Dari gua-gua karst Maros hingga kawasan Bone, jejak yang tersimpan pada gigi manusia purba membuka cerita baru tentang bagaimana manusia berinteraksi dengan tumbuhan, lingkungan, kesehatan, dan budaya.
Temuan pinang berusia sekitar 25.000 tahun di Sulawesi pun menjadi salah satu bukti penting untuk memahami sejarah awal pemanfaatan tumbuhan psikoaktif oleh manusia.
(GUS)
Berita Terkait
News
Perkuat Akses Pendanaan Riset BRIN, Riset Jangan Hanya Selesai Diteliti Harus Dimanfaatkan
Universitas Muslim Indonesia (UMI) terus memperkuat kapasitas dosen dan penelitinya dalam memperoleh pendanaan riset nasional. Salah satunya melalui Sosialisasi Skema Pendanaan Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Tahun 2026
Jum'at, 11 Sep 2026 20:53
News
Output Riset Tumbuh 12 Persen, UNM Pimpin Akselerasi PTN Kawasan Timur
Universitas Negeri Makassar (UNM) mencatat pertumbuhan output riset sebesar 12 persen pada periode Januari–Juni 2026. Capaian itu menjadi yang tertinggi dalam pemetaan 11 perguruan tinggi negeri kawasan Timur Indonesia yang ditampilkan berdasarkan data Elsevier.
Rabu, 19 Agu 2026 15:25
News
Dari Biji Kedelai Jadi Peluang Usaha: Upaya UMI Gerakkan Ekonomi Desa Leang-leang
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (UMI) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Kamis (16/7/2026).
Senin, 17 Agu 2026 09:14
News
Dari Sawah ke Meja Makan, UMI Dorong Inovasi Pangan Lokal Untuk Cegah Stunting
Universitas Muslim Indonesia (UMI) terus memperkuat peran perguruan tinggi dalam pemberdayaan masyarakat melalui inovasi berbasis potensi lokal. Melalui Program Pemberdayaan Desa Binaan (PDB)
Minggu, 16 Agu 2026 13:21
News
Penelitian Baru Ungkap Akar Budaya Toalean, Tradisi Teknologi Berkembang 40.000 Tahun di Sulsel
Sebuah penelitian kolaboratif di bawah Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Arkeologi Sulawesi berhasil mengungkap sejarah panjang perkembangan teknologi peralatan batu di Sulawesi Selatan selama 40.000 tahun terakhir.
Kamis, 16 Jul 2026 14:22
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Ketua Umum PB Perkemi Dorong Kempo Kembali Dipertandingkan di SEA Games dan Asian Games
2
MA Kabulkan Permohonan DPRD Gowa, Pemakzulan Husniah Talenrang Berlanjut
3
Polisi Panggil Kadisdik Bantaeng Usai DPO Polres Jeneponto Diamankan di Kediamannya
4
Transformasi JKN, Pasien Bisa Langsung ke RS Spesifik
5
OJK Lantik Dua Pejabat Baru, Perkuat Kepemimpinan dan Pengawasan Sektor Keuangan
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Ketua Umum PB Perkemi Dorong Kempo Kembali Dipertandingkan di SEA Games dan Asian Games
2
MA Kabulkan Permohonan DPRD Gowa, Pemakzulan Husniah Talenrang Berlanjut
3
Polisi Panggil Kadisdik Bantaeng Usai DPO Polres Jeneponto Diamankan di Kediamannya
4
Transformasi JKN, Pasien Bisa Langsung ke RS Spesifik
5
OJK Lantik Dua Pejabat Baru, Perkuat Kepemimpinan dan Pengawasan Sektor Keuangan