One Global Capital Luncurkan Proyek Rp19 Triliun di Five Dock

Senin, 02 Mar 2026 12:28
One Global Capital Luncurkan Proyek Rp19 Triliun di Five Dock
One Global Capital, platform pengembangan dan investasi properti global berbasis di Sydney milik Iwan Sunito Family Office, menuntaskan 100% akuisisi lahan premium di Five Dock. Foto/IST
Comment
Share
SYDNEY - One Global Capital, platform pengembangan dan investasi properti global berbasis di Sydney milik Iwan Sunito Family Office, menuntaskan 100% akuisisi lahan premium di Five Dock senilai Rp1,5 triliun. Penyelesaian transaksi ini sekaligus menandai peluncuran proyek berskala kota dengan nilai pengembangan mencapai AUD1,6 miliar atau sekitar Rp19 triliun.

Lahan seluas 1,4 hektare tersebut berada di kawasan strategis dengan panorama mengarah ke Kings Bay, lapangan golf, serta kawasan pusat bisnis (CBD) Sydney. Proyek ini akan dikembangkan dengan konsep “city-within-a-city” yang dirancang untuk menetapkan standar baru hunian terpadu di Australia, mencakup residensial, pusat perbelanjaan, dan hotel.

Tonggak penting yang diraih pada Desember 2025 ini menjadi momen transformasional bagi One Global Capital. Pencapaian tersebut menegaskan konsistensi eksekusi strategi perusahaan, kekuatan finansial, serta visi jangka panjang yang terukur. Dalam tiga tahun terakhir, perusahaan yang didirikan Iwan Sunito ini juga mencatat ekspansi signifikan melalui platform perhotelan, ritel, dan modular construction hotel.

Iwan Sunito, Pendiri One Global Capital, menegaskan bahwa kepemilikan penuh atas lahan tersebut menjadikan Five Dock sebagai aset utama dalam strategi pengembangan proyek mixed-use perseroan.

“Rampungnya akuisisi Five Dock merupakan momen krusial bagi One Global Capital. Kami kini dapat mengoptimalkan potensi proyek ini secara maksimal,” ujarnya.

Five Dock, Hotspot Baru Inner West Sydney
Five Dock dikenal sebagai salah satu kawasan paling prestisius di Inner West Sydney. Nilai rumah rata-rata di kawasan ini berkisar Rp45 miliar hingga Rp60 miliar, sementara properti tepi pantai dapat mencapai Rp120 miliar.

Pertumbuhan kawasan ini didukung lonjakan harga hunian di wilayah pemerintah daerah Canada Bay dan Leichhardt yang terdorong pembangunan infrastruktur masif. Keunggulan lokasinya semakin kuat dengan dukungan jaringan transportasi strategis, termasuk Five Dock Metro Station (sekitar 1,1 kilometer dari lokasi proyek) dan Burwood Metro Station (sekitar 800 meter), yang memberikan akses cepat menuju Sydney CBD.

“Jadi para penghuni di sini dapat menikmati fasilitas bus stop at the door stop,” kata Iwan Sunito.

Pasar residensial Five Dock juga menunjukkan tren pertumbuhan berkelanjutan, didukung prinsip Transit Oriented Development (TOD) dan tingginya permintaan investor. Minat tersebut datang tidak hanya dari investor lokal Australia, tetapi juga dari kalangan high net worth Indonesia yang mencari pasar stabil, transparan, dan berorientasi pada pertumbuhan modal jangka panjang.

Kolaborasi Visioner Berskala Kota
Proyek ini merupakan kolaborasi Iwan Sunito dengan arsitek kelas dunia Koichi Takada. Untuk pengembangan master plan, turut dilibatkan PTI Architect Indonesia bersama Buchan Australia.

Sebelumnya, Koichi Takada merupakan mitra desain Iwan Sunito di sejumlah proyek ikonik di Sydney seperti Infinity, Arc, dan Skye North Sydney. Menurut Iwan, proyek Five Dock akan tiga kali lebih besar dibanding Infinity di Green Square dan menjadi pengembangan terbesar sepanjang 25 tahun kariernya.

“Kami tidak sekadar membangun gedung, kami sedang menciptakan sebuah kota di dalam kota,” tuturnya.

Koichi Takada mengungkapkan konsep pengembangan proyek ini dilakukan dengan pendekatan desain yang menaturalisasi arsitektur—menghadirkan bangunan yang menyatu dengan alam, bukan terpisah darinya.

"Ruang publik dirancang dengan prinsip biophilic, memadukan lanskap yang luas dan terkurasi dengan baik. Setiap elemen dioptimalkan untuk memaksimalkan cahaya alami, sirkulasi udara, serta orientasi ke arah pemandangan air, guna menciptakan lingkungan yang mendukung kesejahteraan, keberlanjutan, dan interaksi sosial yang bermakna," tuturnya.

Managing Director PTI Architect, Doddy Tjahjadi, menambahkan pihaknya merasa terhormat dipilih menjadi team Arsitek dan bekerja sama dengan Koichi Takada dan Phil Schoutrop dari Buchan. Selain itu, proyek Ini merupakan reuni dengan Iwan Sunito yang dulu adalah adik kelas saya di UNSW Bachelor of Architecture dan Master of Construction management.

"Visi kami bersama adalah menghadirkan shopping centre, perpustakaan publik dan ruang belajar kolaboratif dalam sebuah pengembangan mixed-use residential yang menyatu dengan lanskap hijau," kata dia.

Ia juga menegaskan arti strategis keterlibatan arsitek Indonesia dalam proyek ini. “Bagi kami, ini merupakan tonggak strategis bagi arsitek dan konsultan Indonesia. Partisipasi firma arsitektur nasional dalam proyek berskala besar di negara maju seperti Australia menegaskan kapabilitas, kredibilitas, serta daya saing firma lokal di kancah internasional,” ujar Doddy Tjahjadi.

Kawasan terpadu ini akan menghadirkan 750 apartemen premium di lima menara, hotel berkapasitas 250 kamar dengan conference centre seluas 3.000 m², serta pusat ritel dan gaya hidup seluas 10.000 m². Fasilitas lainnya meliputi pusat kesehatan dan kebugaran, ruang terbuka hijau, fasilitas komunitas, hingga ekosistem build-to-rent terintegrasi.

Pengajuan persetujuan perencanaan dijadwalkan pada Juni 2026, dilanjutkan Expressions of Interest (EOI) pada Kuartal II 2026. Peluncuran pemasaran apartemen ditargetkan pada Kuartal III 2027, sementara konstruksi diperkirakan dimulai pada Kuartal II 2028.

Minat Investor Global dan Penguatan Koridor Indonesia–Australia
Samuel Sunito, Direktur Capital One Global Capital, mengungkapkan pihaknya telah menerima minat co-investment dari berbagai investor global.

"Saat ini kami sedang menjajaki peluang kerja sama dengan investor dari Indonesia, Amerika Serikat, China, Singapura, Vietnam, dan Dubai untuk memastikan keselarasan visi serta penciptaan nilai jangka panjang. Yang menarik nya adalah beberapa investor yang dari middle east datang melalui chanel network kami di Indonesia,” katanya.

Australia sendiri terus menjadi magnet bagi investor Indonesia beraset tinggi. Dengan proyeksi pertumbuhan pasar properti Indonesia sekitar 5,5% per tahun hingga 2029, diversifikasi ke pasar Australia dinilai menarik karena stabilitas dan transparansi regulasinya.

Investor Indonesia secara konsisten menempati peringkat 10 besar pembeli asing properti residensial di Australia, dengan nilai transaksi melampaui AUD100 juta per kuartal sepanjang 2023. Sementara itu, kawasan Inner West Sydney diperkirakan mencatat pertumbuhan nilai hingga 12% pada 2026.

Fitri Hilman, Director – Commercial Services Savills Indonesia, menyampaikan bahwa proyek Five Dock mencerminkan semakin kuatnya hubungan investasi kedua negara. “Australia tetap menjadi destinasi pilihan bagi investor Indonesia, didukung oleh fundamental pasar yang tangguh, transparansi regulasi, dan prospek pertumbuhan jangka panjang,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa investasi infrastruktur besar, termasuk Five Dock dan Burwood Metro, akan menjadi katalis pertumbuhan nilai properti di Inner West.

“Konektivitas yang unggul, intensitas pengembangan yang optimal, dan pertumbuhan kawasan yang berkelanjutan akan mendorong penciptaan nilai jangka panjang bagi investor maupun pengguna akhir,” tutupnya.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru