Kisah Haji Amir Tumbuh Bersama Asuransi Astra: Truk Terbakar, Bisnis Terus Berkibar
Rabu, 07 Okt 2026 08:05
Penanggung jawab Bulukumba Jaya Motor, Amiruddin alias Haji Amir, memperlihatkan sejumlah polis kendaraan dari Asuransi Astra yang telah dipercayanya selama puluhan tahun. Foto/Tri Yari Kurniawan
MAKASSAR - Ada satu peristiwa dari puluhan tahun lalu yang masih tersimpan kuat dalam ingatan Amiruddin (62), penanggung jawab Bulukumba Jaya Motor. Sebuah truk terbakar di sebuah gudang di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Api melahap kendaraan itu hingga yang tersisa hanya kerangka.
Bagi Haji Amir-sapaan akrab Amiruddin, peristiwa itu semestinya menjadi cerita tentang kehilangan. Namun, yang justru melekat dalam memorinya adalah apa yang terjadi setelah api padam. Truk yang diasuransikan melalui PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra) itu diganti sesuai dengan nilai pertanggungan. Proses klaimnya berlangsung relatif cepat dan tidak berlarut-larut.
“Enggak lama prosesnya. Barangkali satu bulan sudah selesai. Yang penting apa yang dibutuhkan Asuransi Astra dipenuhi,” kenang Haji Amir saat berbincang dengan SINDO Makassar, belum lama ini.
Puluhan tahun berlalu, Haji Amir masih menjalankan bisnisnya. Di Jalan Sultan Hasanuddin, Kabupaten Gowa, kendaraan keluar-masuk dari showroom Bulukumba Jaya Motor yang bergerak di bidang jual beli mobil bekas. Bisnis yang dirintis dan dijalaninya selama bertahun-tahun itu telah tumbuh melewati berbagai zaman.
Hingga kini, sebagian besar aset usahanya masih mendapatkan perlindungan asuransi. Setidaknya belasan unit kendaraan terproteksi melalui Asuransi Astra. Sejumlah bangunan yang mendukung aktivitas bisnisnya pun turut mendapat perlindungan. Bahkan, salah satu bangunan yang mengalami kerusakan akibat bencana kini tengah dalam proses klaim.
Dari truk yang terbakar hingga bangunan yang rusak akibat bencana, berbagai peristiwa itu meninggalkan pengalaman sekaligus pelajaran berharga. Dalam dunia usaha, risiko dan kerugian bisa datang kapan saja. Namun, roda bisnis tidak boleh ikut berhenti.
Bagi Haji Amir, di situlah asuransi menemukan arti pentingnya. Bukan semata-mata mengganti kerugian ketika musibah terjadi, melainkan memberikan rasa aman dan tenang agar pemilik usaha tetap dapat melangkah ketika risiko datang.
Hubungan Haji Amir dengan Asuransi Astra telah terjalin sejak era 1990-an. Saat itu, dunia belum mengenal layanan klaim berbasis teknologi digital seperti sekarang. Sebagian besar urusan dilakukan melalui pertemuan langsung dan komunikasi tatap muka.
Perlahan, waktu mengubah banyak hal. Mobil berganti model. Teknologi terus berkembang. Cara masyarakat membeli kendaraan ikut berubah. Bisnis Haji Amir pun terus tumbuh mengikuti zaman. Namun, ada satu kebutuhan yang tidak tergantikan yakni melindungi aset yang menjadi bagian penting dari perputaran usaha.
“Bulukumba Jaya Motor menggunakan jasa Asuransi Astra Buana kira-kira sekitar tahun 1990-an sampai sekarang,” ujar Haji Amir.
Lebih dari tiga dekade hubungan itu berlangsung. Bagi seorang pengusaha, tiga puluh tahun tentu bukan waktu yang singkat. Selama itu pula, Haji Amir menyaksikan pasang surut bisnis, dinamika harga kendaraan, perubahan perilaku konsumen, hingga munculnya berbagai risiko yang dapat mengganggu kelangsungan usaha.
Namun, satu hal tetap ia pertahankan. Hingga kini, Haji Amir masih memperpanjang perlindungan untuk kendaraan maupun bangunan yang digunakan dalam kegiatan usahanya melalui Asuransi Astra.
Alasannya sederhana. Dengan perlindungan asuransi, aset usaha memiliki penjagaan ketika risiko datang. Dengan begitu, Haji Amir dapat menjalankan sekaligus mengembangkan bisnis dengan perasaan lebih tenang.
“Kalau diasuransikan, ya lebih aman dan merasa tenang. Itu pertimbangan utamanya,” tutur bapak empat anak tersebut.
Bagi Haji Amir, ketenangan itu bukan sesuatu yang abstrak. Ia punya hitungan sendiri. Premi tahunan mungkin terlihat sebagai pengeluaran. Namun, satu kerusakan kecil saja dapat menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
“Taruhlah asuransi per tahun Rp4 juta. Kalau tidak diasuransikan, mobil penyok sedikit saja, misalnya di tiga titik itu sudah hampir Rp4 juta biayanya. Sedangkan, apabila diasuransikan maka Rp4 juta itu sudah bisa mencakup satu mobil,” terangnya.
Karena itu, Haji Amir melihat asuransi bukan sekadar biaya tambahan, melainkan cara mengelola risiko. Dengan perlindungan tersebut, seorang pengusaha dapat lebih leluasa memikirkan bagaimana bisnis berkembang, tanpa setiap saat dibayangi kemungkinan satu kejadian menggerus modal yang telah dikumpulkan bertahun-tahun.

Kepercayaan Tumbuh dari Layanan
Pengalaman Haji Amir dengan Asuransi Astra tidak hanya terjadi di Bantaeng. Ada pula cerita dari Palopo yang justru semakin memperkuat kepercayaannya. Suatu ketika, kendaraannya mengalami kerusakan di Palopo. Ketika kendaraan mengalami kendala di daerah, persoalannya bukan sekadar bagaimana memperbaikinya.
Ada jarak yang harus ditempuh, biaya pengangkutan yang harus dihitung, dan waktu yang tidak bisa begitu saja dikembalikan. Dalam kejadian itu, mobil yang mengalami kerusakan akhirnya dibawa menggunakan kendaraan pengangkut menuju Makassar.
Tidak hanya biaya bengkel yang ditanggung, ongkos pengangkutan turut dibantu Asuransi Astra sesuai dengan kesepakatan yang berlaku. “Makanya, saya tetap bertahan dan loyal bersama Asuransi Astra karena hubungan lama yang sudah terjalin serta kemudahan layanan. Waktu pun telah membuktikan kualitas layanannya,” tutur dia.
Menurut Haji Amir, pengalaman mobil rusak di daerah sekaligus memperlihatkan bahwa pelayanan asuransi tidak boleh berhenti di kantor cabang. Justru ketika pelanggan berada jauh dari pusat layanan, kehadiran bantuan semakin terasa dan pada akhirnya memperkuat kepercayaan.
Dalam bisnis asuransi, kepercayaan memang baru benar-benar terlihat ketika risiko datang. Saat kendaraan terbakar, ketika gedung rusak akibat bencana, atau tatkala pelanggan berada ratusan kilometer dari kota tempat layanan berada.
Pengalaman Haji Amir menjadi satu potongan kecil dari perjalanan panjang Asuransi Astra. Selama tujuh dekade, perusahaan ini berupaya menjaga kepercayaan pelanggan sekaligus memberikan rasa aman, termasuk bagi pelaku usaha.

Memangkas Jarak dengan Teknologi
Branch Manager Asuransi Astra Makassar, Anselmo Sebastian Rendika, mengungkapkan PT Asuransi Astra Buana merupakan perusahaan asuransi yang menyediakan layanan proteksi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kendaraan bermotor, gedung hingga kesehatan.
Garda Oto merupakan salah satu produk utama untuk perlindungan kendaraan bermotor, khususnya mobil dan truk. Untuk sepeda motor terdapat Garda Motor, sementara berbagai kebutuhan perlindungan di luar kendaraan berada di bawah lini Asuransi Astra.
“Nama perusahaan kami adalah PT Asuransi Astra Buana. Garda Oto itu adalah salah satu produk kami untuk kendaraan bermotor,” kata Anselmo kepada SINDO Makassar saat ditemui pada awal Oktober 2026.
Nama Garda Oto sendiri telah dikenal masyarakat selama sekitar tiga dekade. Namun, usia perusahaan yang menaunginya jauh lebih panjang. Asuransi Astra Buana telah melewati tujuh dekade. Pada 2014, perusahaan melakukan rebranding. Identitas yang sebelumnya sangat lekat dengan Garda Oto kemudian diperluas menjadi Asuransi Astra.
“Untuk Garda Oto sendiri 30 tahun, tapi untuk perusahaan ini sudah 70 tahun,” ujar Anselmo.
Tujuh dekade berarti tujuh puluh tahun melewati perubahan zaman. Dari masa ketika pelanggan datang langsung ke kantor hingga era ketika sebagian layanan dapat dilakukan melalui aplikasi. Dari kendaraan sebagai alat transportasi hingga kendaraan yang kini menjadi bagian dari ekosistem pembiayaan, bengkel, teknologi, dan layanan digital.
Namun, kebutuhan dasarnya tetap sama. Anselmo menegaskan ketika risiko datang, pelanggan membutuhkan kepastian. Di Sulawesi, kebutuhan tersebut berhadapan dengan kondisi geografis yang luas.
Pelanggan Asuransi Astra Makassar diakuinya tidak hanya berada di pusat kota. Banyak pula yang berada di daerah yang jauh dari ibu kota provinsi. Jarak bisa menjadi persoalan tersendiri ketika kendaraan rusak dan pelanggan harus mengurus klaim.
Karena itu, teknologi digunakan untuk memangkas jarak. Salah satunya melalui fitur Virtual Survey pada aplikasi MyGarda. Pelanggan tidak selalu harus datang ke kantor cabang untuk melakukan survei kerusakan. Melalui sambungan video, petugas dapat memeriksa kondisi kendaraan.
Setelah proses tersebut, pelanggan dapat membawa kendaraan ke bengkel terdekat sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Menurut Anselmo, layanan tersebut berangkat dari satu prinsip bahwa pelanggan di daerah memiliki hak yang sama.
“Customer sudah membayar haknya, membayar premi. Jadi mereka tetap harus berhak mendapatkan layanan klaim,” tegas dia.
Melalui MyGarda, pelanggan juga dapat melihat masa berlaku polis, memperoleh estimasi premi, memantau perkembangan klaim, menggunakan Virtual Survey hingga meminta layanan darurat Garda Siaga.
Dalam layanan darurat tersebut, tersedia pula kendaraan towing untuk membantu pelanggan. Teknologi akhirnya tidak hanya menjadi perangkat. Ia menjadi jembatan yang memperpendek jarak antara perusahaan dan pelanggan.
Namun, proses belum selesai ketika klaim disetujui. Pertanyaan berikutnya yakni ke mana kendaraan dibawa dan bagaimana kualitas perbaikannya? Anselmo menjelaskan, Asuransi Astra mengutamakan bengkel resmi, termasuk jaringan yang berada dalam ekosistem Astra.
Untuk pelanggan yang berada di daerah dan harus menggunakan bengkel di luar jaringan, tersedia mekanisme reimbursement dengan penyamaan standar pengerjaan. Sebab, bagi perusahaan, membayar kerugian bukanlah akhir dari tanggung jawab. Kendaraan harus kembali digunakan dalam kondisi yang memenuhi standar.
Keunggulan lain yang menjadi kekuatan Asuransi Astra adalah dukungan ekosistem Astra Group yang telah berkembang di berbagai sektor. Bagi pelanggan, ekosistem tersebut memberikan keuntungan karena perlindungan asuransi dapat terhubung dengan layanan lain yang mendukung kebutuhan kendaraan, mulai dari jaringan bengkel hingga layanan bantuan ketika risiko terjadi.
Menurut Anselmo, keberadaan ekosistem Astra juga membantu Asuransi Astra menjaga standar layanan secara lebih konsisten. Dengan dukungan jaringan dan sumber daya yang saling terhubung, perusahaan tidak hanya berfokus pada penyelesaian klaim, tetapi juga memastikan kendaraan pelanggan mendapatkan penanganan yang sesuai sejak proses pemeriksaan hingga kembali digunakan.
“Kami memberikan garansi perbaikan satu tahun. Artinya ketika customer tidak puas, dia boleh memasukkan kembali mobilnya ke bengkel tersebut sampai puas dan itu gratis,” ujar Anselmo.
Di titik inilah ketenangan memperoleh bentuk yang lebih konkret. Bukan sekadar perasaan, melainkan rangkaian layanan yang membuat pelanggan tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.

Tujuh Dekade dan Tantangan Masa Depan
Perjalanan tujuh dekade juga menuntut perusahaan untuk terus berubah. Presiden Direktur Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus, dalam laporan tahunan mengatakan perusahaan menjalankan Triple P Roadmap yakni Portfolio Roadmap, People Roadmap, dan Public Contribution Roadmap.
Pada sisi portofolio, Asuransi Astra memiliki tiga lini bisnis utama yakni asuransi kendaraan bermotor, asuransi komersial, dan asuransi kesehatan. Di sisi manusia, perusahaan menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan industri.
Sementara melalui kontribusi publik, Asuransi Astra menjalankan program di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan. “Perusahaan menyadari pentingnya peran Sumber Daya Manusia yang merupakan faktor krusial dalam mewujudkan keunggulan kompetitif di industri,” kata Maximiliaan.
Strategi tersebut berjalan bersama kinerja Asuransi Astra. Pada 2025, pendapatan asuransi perusahaan tercatat tumbuh 10 persen menjadi Rp8,88 triliun dari Rp8,05 triliun. Laba bersih meningkat 9 persen menjadi Rp1,62 triliun dari Rp1,49 triliun.
Memasuki 2026, Asuransi Astra mengusung tema “Enhancing Capabilities for Business Resilience”.Fokusnya adalah memperkuat kapabilitas dan ketahanan bisnis dalam menghadapi dinamika ekonomi serta perubahan pasar. Angka-angka tersebut menjadi gambaran dari sisi bisnis.
Namun, bagi perusahaan yang bergerak di bidang perlindungan, ada ukuran lain yang tidak selalu terlihat dalam laporan keuangan yakni kemampuan mempertahankan kepercayaan pelanggan.
Presiden Komisaris Asuransi Astra, Thomas Junaidi Alim Wijaya, menilai penerapan Triple P Roadmap menjadi salah satu fondasi untuk menjaga kinerja perusahaan sekaligus menghadapi dinamika industri.
“Melalui penerapan Triple P, kinerja Perusahaan meningkat sepanjang periode pelaporan yang tercermin dari pertumbuhan laba bersih sebesar 9% menjadi Rp1,62 triliun serta penguatan Risk Based Capital (RBC) menjadi 348%,” ujar Thomas.
Namun, menurut Thomas, pertumbuhan bisnis harus berjalan bersama kredibilitas dan reputasi. Sebab, dalam industri yang menjual perlindungan, reputasi tidak dibangun dalam semalam. Ia lahir dari pengalaman pelanggan. Mulai dari janji yang dipenuhi, klaim yang diselesaikan, dan layanan yang hadir ketika dibutuhkan.
“Strategi tersebut telah disetujui oleh seluruh anggota Dewan Komisaris dan dianggap tepat untuk mengantisipasi tantangan yang ada serta mempertahankan kredibilitas dan reputasi, sehingga Perusahaan dapat terus memberikan rasa aman dan nyaman kepada seluruh pemangku kepentingan,” katanya.

Lebih dari Sekadar Perlindungan
Kembali kepada Haji Amir. Puluhan tahun setelah truk itu terbakar di Bantaeng, ia masih berdiri tegak di tengah bisnis yang terus bergerak. Kendaraan datang dan pergi dari showroom-nya. Sebagian dijual. Sebagian menjadi aset yang digunakan sendiri. Sebagian lainnya kembali diasuransikan.
Dunia usaha yang dijalani Haji Amir telah berubah berkali-kali. Namun, satu pengalaman dari masa lalu tetap menjadi bagian dari cara ia memandang risiko. Ia pernah kehilangan sebuah kendaraan karena api. Tetapi ia tidak kehilangan kesempatan untuk melanjutkan usaha.
Barangkali itulah yang membuat cerita truk terbakar itu tetap hidup dalam ingatannya. Bukan sebagai kisah tentang sebuah kendaraan yang musnah, melainkan cerita tentang bagaimana sebuah kerugian tidak dibiarkan menghentikan perjalanan.
“Yang jelas, saya puas (dengan Asuransi Astra). Selama ini, alhamdulillah, sesuai dengan komitmen,” ujar Haji Amir.
Pada akhirnya, orang tidak membeli asuransi karena berharap musibah datang. Mereka membelinya karena kehidupan harus tetap berjalan ketika nasib buruk menghampiri. Di situlah ketenangan menemukan maknanya. Bukan karena risiko telah hilang, melainkan karena seseorang telah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Selama tujuh dekade, perjalanan Asuransi Astra menunjukkan bahwa menjaga kepercayaan bukan pekerjaan satu hari atau satu generasi. Ia tumbuh dari pengalaman, mulai dari risiko yang pernah datang, dari klaim yang pernah diselesaikan, dan dari pelanggan yang memilih untuk tetap percaya.
Seperti cerita Haji Amir, truknya boleh saja dilalap api. Namun, tidak demikian dengan kepercayaannya. Puluhan tahun kemudian, yang tersisa bukan lagi kerangka besi atau jejak kebakaran. Yang tersisa adalah keyakinan bahwa ketika risiko datang, selalu ada jalan untuk membuat kehidupan dan usaha kembali bergerak.
Sebab, pada akhirnya, menjaga aset memang penting. Namun, menjaga kepercayaan dan menghadirkan ketenangan adalah tanggung jawab yang jauh lebih panjang.
Bagi Haji Amir-sapaan akrab Amiruddin, peristiwa itu semestinya menjadi cerita tentang kehilangan. Namun, yang justru melekat dalam memorinya adalah apa yang terjadi setelah api padam. Truk yang diasuransikan melalui PT Asuransi Astra Buana (Asuransi Astra) itu diganti sesuai dengan nilai pertanggungan. Proses klaimnya berlangsung relatif cepat dan tidak berlarut-larut.
“Enggak lama prosesnya. Barangkali satu bulan sudah selesai. Yang penting apa yang dibutuhkan Asuransi Astra dipenuhi,” kenang Haji Amir saat berbincang dengan SINDO Makassar, belum lama ini.
Puluhan tahun berlalu, Haji Amir masih menjalankan bisnisnya. Di Jalan Sultan Hasanuddin, Kabupaten Gowa, kendaraan keluar-masuk dari showroom Bulukumba Jaya Motor yang bergerak di bidang jual beli mobil bekas. Bisnis yang dirintis dan dijalaninya selama bertahun-tahun itu telah tumbuh melewati berbagai zaman.
Hingga kini, sebagian besar aset usahanya masih mendapatkan perlindungan asuransi. Setidaknya belasan unit kendaraan terproteksi melalui Asuransi Astra. Sejumlah bangunan yang mendukung aktivitas bisnisnya pun turut mendapat perlindungan. Bahkan, salah satu bangunan yang mengalami kerusakan akibat bencana kini tengah dalam proses klaim.
Dari truk yang terbakar hingga bangunan yang rusak akibat bencana, berbagai peristiwa itu meninggalkan pengalaman sekaligus pelajaran berharga. Dalam dunia usaha, risiko dan kerugian bisa datang kapan saja. Namun, roda bisnis tidak boleh ikut berhenti.
Bagi Haji Amir, di situlah asuransi menemukan arti pentingnya. Bukan semata-mata mengganti kerugian ketika musibah terjadi, melainkan memberikan rasa aman dan tenang agar pemilik usaha tetap dapat melangkah ketika risiko datang.
Hubungan Haji Amir dengan Asuransi Astra telah terjalin sejak era 1990-an. Saat itu, dunia belum mengenal layanan klaim berbasis teknologi digital seperti sekarang. Sebagian besar urusan dilakukan melalui pertemuan langsung dan komunikasi tatap muka.
Perlahan, waktu mengubah banyak hal. Mobil berganti model. Teknologi terus berkembang. Cara masyarakat membeli kendaraan ikut berubah. Bisnis Haji Amir pun terus tumbuh mengikuti zaman. Namun, ada satu kebutuhan yang tidak tergantikan yakni melindungi aset yang menjadi bagian penting dari perputaran usaha.
“Bulukumba Jaya Motor menggunakan jasa Asuransi Astra Buana kira-kira sekitar tahun 1990-an sampai sekarang,” ujar Haji Amir.
Lebih dari tiga dekade hubungan itu berlangsung. Bagi seorang pengusaha, tiga puluh tahun tentu bukan waktu yang singkat. Selama itu pula, Haji Amir menyaksikan pasang surut bisnis, dinamika harga kendaraan, perubahan perilaku konsumen, hingga munculnya berbagai risiko yang dapat mengganggu kelangsungan usaha.
Namun, satu hal tetap ia pertahankan. Hingga kini, Haji Amir masih memperpanjang perlindungan untuk kendaraan maupun bangunan yang digunakan dalam kegiatan usahanya melalui Asuransi Astra.
Alasannya sederhana. Dengan perlindungan asuransi, aset usaha memiliki penjagaan ketika risiko datang. Dengan begitu, Haji Amir dapat menjalankan sekaligus mengembangkan bisnis dengan perasaan lebih tenang.
“Kalau diasuransikan, ya lebih aman dan merasa tenang. Itu pertimbangan utamanya,” tutur bapak empat anak tersebut.
Bagi Haji Amir, ketenangan itu bukan sesuatu yang abstrak. Ia punya hitungan sendiri. Premi tahunan mungkin terlihat sebagai pengeluaran. Namun, satu kerusakan kecil saja dapat menghabiskan biaya yang tidak sedikit.
“Taruhlah asuransi per tahun Rp4 juta. Kalau tidak diasuransikan, mobil penyok sedikit saja, misalnya di tiga titik itu sudah hampir Rp4 juta biayanya. Sedangkan, apabila diasuransikan maka Rp4 juta itu sudah bisa mencakup satu mobil,” terangnya.
Karena itu, Haji Amir melihat asuransi bukan sekadar biaya tambahan, melainkan cara mengelola risiko. Dengan perlindungan tersebut, seorang pengusaha dapat lebih leluasa memikirkan bagaimana bisnis berkembang, tanpa setiap saat dibayangi kemungkinan satu kejadian menggerus modal yang telah dikumpulkan bertahun-tahun.

Kepercayaan Tumbuh dari Layanan
Pengalaman Haji Amir dengan Asuransi Astra tidak hanya terjadi di Bantaeng. Ada pula cerita dari Palopo yang justru semakin memperkuat kepercayaannya. Suatu ketika, kendaraannya mengalami kerusakan di Palopo. Ketika kendaraan mengalami kendala di daerah, persoalannya bukan sekadar bagaimana memperbaikinya.
Ada jarak yang harus ditempuh, biaya pengangkutan yang harus dihitung, dan waktu yang tidak bisa begitu saja dikembalikan. Dalam kejadian itu, mobil yang mengalami kerusakan akhirnya dibawa menggunakan kendaraan pengangkut menuju Makassar.
Tidak hanya biaya bengkel yang ditanggung, ongkos pengangkutan turut dibantu Asuransi Astra sesuai dengan kesepakatan yang berlaku. “Makanya, saya tetap bertahan dan loyal bersama Asuransi Astra karena hubungan lama yang sudah terjalin serta kemudahan layanan. Waktu pun telah membuktikan kualitas layanannya,” tutur dia.
Menurut Haji Amir, pengalaman mobil rusak di daerah sekaligus memperlihatkan bahwa pelayanan asuransi tidak boleh berhenti di kantor cabang. Justru ketika pelanggan berada jauh dari pusat layanan, kehadiran bantuan semakin terasa dan pada akhirnya memperkuat kepercayaan.
Dalam bisnis asuransi, kepercayaan memang baru benar-benar terlihat ketika risiko datang. Saat kendaraan terbakar, ketika gedung rusak akibat bencana, atau tatkala pelanggan berada ratusan kilometer dari kota tempat layanan berada.
Pengalaman Haji Amir menjadi satu potongan kecil dari perjalanan panjang Asuransi Astra. Selama tujuh dekade, perusahaan ini berupaya menjaga kepercayaan pelanggan sekaligus memberikan rasa aman, termasuk bagi pelaku usaha.

Memangkas Jarak dengan Teknologi
Branch Manager Asuransi Astra Makassar, Anselmo Sebastian Rendika, mengungkapkan PT Asuransi Astra Buana merupakan perusahaan asuransi yang menyediakan layanan proteksi untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kendaraan bermotor, gedung hingga kesehatan.
Garda Oto merupakan salah satu produk utama untuk perlindungan kendaraan bermotor, khususnya mobil dan truk. Untuk sepeda motor terdapat Garda Motor, sementara berbagai kebutuhan perlindungan di luar kendaraan berada di bawah lini Asuransi Astra.
“Nama perusahaan kami adalah PT Asuransi Astra Buana. Garda Oto itu adalah salah satu produk kami untuk kendaraan bermotor,” kata Anselmo kepada SINDO Makassar saat ditemui pada awal Oktober 2026.
Nama Garda Oto sendiri telah dikenal masyarakat selama sekitar tiga dekade. Namun, usia perusahaan yang menaunginya jauh lebih panjang. Asuransi Astra Buana telah melewati tujuh dekade. Pada 2014, perusahaan melakukan rebranding. Identitas yang sebelumnya sangat lekat dengan Garda Oto kemudian diperluas menjadi Asuransi Astra.
“Untuk Garda Oto sendiri 30 tahun, tapi untuk perusahaan ini sudah 70 tahun,” ujar Anselmo.
Tujuh dekade berarti tujuh puluh tahun melewati perubahan zaman. Dari masa ketika pelanggan datang langsung ke kantor hingga era ketika sebagian layanan dapat dilakukan melalui aplikasi. Dari kendaraan sebagai alat transportasi hingga kendaraan yang kini menjadi bagian dari ekosistem pembiayaan, bengkel, teknologi, dan layanan digital.
Namun, kebutuhan dasarnya tetap sama. Anselmo menegaskan ketika risiko datang, pelanggan membutuhkan kepastian. Di Sulawesi, kebutuhan tersebut berhadapan dengan kondisi geografis yang luas.
Pelanggan Asuransi Astra Makassar diakuinya tidak hanya berada di pusat kota. Banyak pula yang berada di daerah yang jauh dari ibu kota provinsi. Jarak bisa menjadi persoalan tersendiri ketika kendaraan rusak dan pelanggan harus mengurus klaim.
Karena itu, teknologi digunakan untuk memangkas jarak. Salah satunya melalui fitur Virtual Survey pada aplikasi MyGarda. Pelanggan tidak selalu harus datang ke kantor cabang untuk melakukan survei kerusakan. Melalui sambungan video, petugas dapat memeriksa kondisi kendaraan.
Setelah proses tersebut, pelanggan dapat membawa kendaraan ke bengkel terdekat sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Menurut Anselmo, layanan tersebut berangkat dari satu prinsip bahwa pelanggan di daerah memiliki hak yang sama.
“Customer sudah membayar haknya, membayar premi. Jadi mereka tetap harus berhak mendapatkan layanan klaim,” tegas dia.
Melalui MyGarda, pelanggan juga dapat melihat masa berlaku polis, memperoleh estimasi premi, memantau perkembangan klaim, menggunakan Virtual Survey hingga meminta layanan darurat Garda Siaga.
Dalam layanan darurat tersebut, tersedia pula kendaraan towing untuk membantu pelanggan. Teknologi akhirnya tidak hanya menjadi perangkat. Ia menjadi jembatan yang memperpendek jarak antara perusahaan dan pelanggan.
Namun, proses belum selesai ketika klaim disetujui. Pertanyaan berikutnya yakni ke mana kendaraan dibawa dan bagaimana kualitas perbaikannya? Anselmo menjelaskan, Asuransi Astra mengutamakan bengkel resmi, termasuk jaringan yang berada dalam ekosistem Astra.
Untuk pelanggan yang berada di daerah dan harus menggunakan bengkel di luar jaringan, tersedia mekanisme reimbursement dengan penyamaan standar pengerjaan. Sebab, bagi perusahaan, membayar kerugian bukanlah akhir dari tanggung jawab. Kendaraan harus kembali digunakan dalam kondisi yang memenuhi standar.
Keunggulan lain yang menjadi kekuatan Asuransi Astra adalah dukungan ekosistem Astra Group yang telah berkembang di berbagai sektor. Bagi pelanggan, ekosistem tersebut memberikan keuntungan karena perlindungan asuransi dapat terhubung dengan layanan lain yang mendukung kebutuhan kendaraan, mulai dari jaringan bengkel hingga layanan bantuan ketika risiko terjadi.
Menurut Anselmo, keberadaan ekosistem Astra juga membantu Asuransi Astra menjaga standar layanan secara lebih konsisten. Dengan dukungan jaringan dan sumber daya yang saling terhubung, perusahaan tidak hanya berfokus pada penyelesaian klaim, tetapi juga memastikan kendaraan pelanggan mendapatkan penanganan yang sesuai sejak proses pemeriksaan hingga kembali digunakan.
“Kami memberikan garansi perbaikan satu tahun. Artinya ketika customer tidak puas, dia boleh memasukkan kembali mobilnya ke bengkel tersebut sampai puas dan itu gratis,” ujar Anselmo.
Di titik inilah ketenangan memperoleh bentuk yang lebih konkret. Bukan sekadar perasaan, melainkan rangkaian layanan yang membuat pelanggan tahu apa yang harus dilakukan ketika sesuatu yang tidak diharapkan terjadi.

Tujuh Dekade dan Tantangan Masa Depan
Perjalanan tujuh dekade juga menuntut perusahaan untuk terus berubah. Presiden Direktur Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus, dalam laporan tahunan mengatakan perusahaan menjalankan Triple P Roadmap yakni Portfolio Roadmap, People Roadmap, dan Public Contribution Roadmap.
Pada sisi portofolio, Asuransi Astra memiliki tiga lini bisnis utama yakni asuransi kendaraan bermotor, asuransi komersial, dan asuransi kesehatan. Di sisi manusia, perusahaan menyiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan industri.
Sementara melalui kontribusi publik, Asuransi Astra menjalankan program di bidang kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan. “Perusahaan menyadari pentingnya peran Sumber Daya Manusia yang merupakan faktor krusial dalam mewujudkan keunggulan kompetitif di industri,” kata Maximiliaan.
Strategi tersebut berjalan bersama kinerja Asuransi Astra. Pada 2025, pendapatan asuransi perusahaan tercatat tumbuh 10 persen menjadi Rp8,88 triliun dari Rp8,05 triliun. Laba bersih meningkat 9 persen menjadi Rp1,62 triliun dari Rp1,49 triliun.
Memasuki 2026, Asuransi Astra mengusung tema “Enhancing Capabilities for Business Resilience”.Fokusnya adalah memperkuat kapabilitas dan ketahanan bisnis dalam menghadapi dinamika ekonomi serta perubahan pasar. Angka-angka tersebut menjadi gambaran dari sisi bisnis.
Namun, bagi perusahaan yang bergerak di bidang perlindungan, ada ukuran lain yang tidak selalu terlihat dalam laporan keuangan yakni kemampuan mempertahankan kepercayaan pelanggan.
Presiden Komisaris Asuransi Astra, Thomas Junaidi Alim Wijaya, menilai penerapan Triple P Roadmap menjadi salah satu fondasi untuk menjaga kinerja perusahaan sekaligus menghadapi dinamika industri.
“Melalui penerapan Triple P, kinerja Perusahaan meningkat sepanjang periode pelaporan yang tercermin dari pertumbuhan laba bersih sebesar 9% menjadi Rp1,62 triliun serta penguatan Risk Based Capital (RBC) menjadi 348%,” ujar Thomas.
Namun, menurut Thomas, pertumbuhan bisnis harus berjalan bersama kredibilitas dan reputasi. Sebab, dalam industri yang menjual perlindungan, reputasi tidak dibangun dalam semalam. Ia lahir dari pengalaman pelanggan. Mulai dari janji yang dipenuhi, klaim yang diselesaikan, dan layanan yang hadir ketika dibutuhkan.
“Strategi tersebut telah disetujui oleh seluruh anggota Dewan Komisaris dan dianggap tepat untuk mengantisipasi tantangan yang ada serta mempertahankan kredibilitas dan reputasi, sehingga Perusahaan dapat terus memberikan rasa aman dan nyaman kepada seluruh pemangku kepentingan,” katanya.

Lebih dari Sekadar Perlindungan
Kembali kepada Haji Amir. Puluhan tahun setelah truk itu terbakar di Bantaeng, ia masih berdiri tegak di tengah bisnis yang terus bergerak. Kendaraan datang dan pergi dari showroom-nya. Sebagian dijual. Sebagian menjadi aset yang digunakan sendiri. Sebagian lainnya kembali diasuransikan.
Dunia usaha yang dijalani Haji Amir telah berubah berkali-kali. Namun, satu pengalaman dari masa lalu tetap menjadi bagian dari cara ia memandang risiko. Ia pernah kehilangan sebuah kendaraan karena api. Tetapi ia tidak kehilangan kesempatan untuk melanjutkan usaha.
Barangkali itulah yang membuat cerita truk terbakar itu tetap hidup dalam ingatannya. Bukan sebagai kisah tentang sebuah kendaraan yang musnah, melainkan cerita tentang bagaimana sebuah kerugian tidak dibiarkan menghentikan perjalanan.
“Yang jelas, saya puas (dengan Asuransi Astra). Selama ini, alhamdulillah, sesuai dengan komitmen,” ujar Haji Amir.
Pada akhirnya, orang tidak membeli asuransi karena berharap musibah datang. Mereka membelinya karena kehidupan harus tetap berjalan ketika nasib buruk menghampiri. Di situlah ketenangan menemukan maknanya. Bukan karena risiko telah hilang, melainkan karena seseorang telah mempersiapkan diri untuk menghadapinya.
Selama tujuh dekade, perjalanan Asuransi Astra menunjukkan bahwa menjaga kepercayaan bukan pekerjaan satu hari atau satu generasi. Ia tumbuh dari pengalaman, mulai dari risiko yang pernah datang, dari klaim yang pernah diselesaikan, dan dari pelanggan yang memilih untuk tetap percaya.
Seperti cerita Haji Amir, truknya boleh saja dilalap api. Namun, tidak demikian dengan kepercayaannya. Puluhan tahun kemudian, yang tersisa bukan lagi kerangka besi atau jejak kebakaran. Yang tersisa adalah keyakinan bahwa ketika risiko datang, selalu ada jalan untuk membuat kehidupan dan usaha kembali bergerak.
Sebab, pada akhirnya, menjaga aset memang penting. Namun, menjaga kepercayaan dan menghadirkan ketenangan adalah tanggung jawab yang jauh lebih panjang.
(TRI)
Berita Terkait
Ekbis
Trade In Toyota Meningkat, Kalla Toyota Trust Catat Rekor Penjualan Juli 2026
Sepanjang Juli 2026, rasio trade in ke Toyota baru mencapai 13,6 persen atau sebanyak 220 unit, meningkat sekitar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Jum'at, 07 Agu 2026 14:10
Ekbis
LPS Siapkan Program Penjaminan Polis untuk Perkuat Industri Asuransi
LPS juga akan menjalankan fungsi penjaminan polis asuransi serta menangani proses resolusi perusahaan asuransi yang izin usahanya dicabut oleh OJK.
Jum'at, 19 Jun 2026 07:01
Ekbis
Setir Kanan Gelar 'Mei-morable Drive' di Makassar, Banjir Promo Mobil Bekas
Layanan Setir Kanan dapat diakses melalui platform digital www.setirkanan.co.id maupun jaringan offline store yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
Jum'at, 22 Mei 2026 20:17
Ekbis
OJK Resmi Terapkan QR Code untuk Pialang Asuransi, Perkuat Kepercayaan Publik
Upaya memperkuat kepercayaan publik terhadap industri perasuransian dilakukan oleh OJK melalui penerapan QR Code pada STTD bagi Pialang Asuransi dan Pialang Reasuransi di Indonesia.
Senin, 04 Mei 2026 18:35
Ekbis
OJK Atur Ulang Batas Waktu Pelaporan Industri Asuransi
OJK menetapkan sejumlah penyesuaian kebijakan yang ditujukan bagi perusahaan asuransi, reasuransi, dan penjaminan agar dapat memenuhi kewajiban pelaporan secara lebih optimal.
Sabtu, 25 Apr 2026 10:01
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Pelayanan Makin Berkualitas, Dua Terminal Pelindo Regional 4 Raih P-TEC 2026
2
Jelang HUT Kota Makassar, Perumda Terminal Siapkan Aplikasi Appilei
3
Warga Diminta Tak Terprovokasi, Kapolres Lutra Pimpin Penyisiran di TKP Penikaman Tana Lili
4
Kahfi Pimpin PAN Sulsel 5 Periode, Usung Spirit Tembus 3 Besar di Pemilu 2029
5
Prajurit Yonarmed 21/Kawali Gerak Cepat Padamkan Kebakaran Rumah di Bengo
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Pelayanan Makin Berkualitas, Dua Terminal Pelindo Regional 4 Raih P-TEC 2026
2
Jelang HUT Kota Makassar, Perumda Terminal Siapkan Aplikasi Appilei
3
Warga Diminta Tak Terprovokasi, Kapolres Lutra Pimpin Penyisiran di TKP Penikaman Tana Lili
4
Kahfi Pimpin PAN Sulsel 5 Periode, Usung Spirit Tembus 3 Besar di Pemilu 2029
5
Prajurit Yonarmed 21/Kawali Gerak Cepat Padamkan Kebakaran Rumah di Bengo