Tujuh Dekade Asuransi Astra: Menanam Literasi, Memanen Kepercayaan
Kamis, 08 Okt 2026 20:21
Karyawan Asuransi Astra Cabang Makassar tampak memberikan pemahaman kepada pelanggan mengenai produk dan layanan perlindungan dari perusahaan tersebut. Foto/SINDO Makassar/Maman Sukirman
MAKASSAR - Kepercayaan tidak tumbuh dalam sehari. Berawal dari pengetahuan, dirawat melalui pengalaman, lalu menguat ketika seseorang merasakan bahwa pilihan yang diambil mampu memberi perlindungan saat risiko datang.
Begitu pula ketenangan. Bukan semata hadir setelah musibah berlalu, melainkan dipersiapkan jauh sebelumnya. Semua itu dibangun melalui pemahaman terhadap risiko, kesiapan mengelola keuangan, serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat.
Dari sanalah literasi menemukan maknanya. Bukan sekadar kemampuan memahami istilah keuangan, melainkan bekal untuk menghadapi ketidakpastian dengan lebih siap.
Selama tujuh dekade, perjalanan Asuransi Astra tidak hanya ditandai dengan jualan maupun pengembangan produk perlindungan. Ada upaya yang berjalan lebih panjang. Mulai dari menanamkan pemahaman agar masyarakat semakin mengenali risiko, memahami kebutuhan perlindungan, hingga akhirnya mampu menentukan pilihan secara tepat.
Dari sekolah hingga komunitas, dari literasi keuangan hingga kepedulian terhadap lingkungan, berbagai kontribusi tersebut bermuara pada satu tujuan. Asuransi Astra ingin memastikan masyarakat lebih siap menghadapi berbagai ketidakpastian. Di Makassar, langkah tersebut bermula dari ruang yang sederhana yakni ruang edukasi.
Branch Manager Asuransi Astra Makassar, Anselmo Sebastian Rendika, menilai literasi keuangan sebagai pintu masuk untuk membangun pemahaman masyarakat mengenai asuransi. Karena itu, edukasi perlu dilakukan secara rutin dengan menyasar kelompok masyarakat yang berbeda.
“Edukasi asuransi itu tidak instan,” kata Anselmo, saat berbincang dengan SINDO Makassar, awal Oktober 2026.
Asuransi Astra secara rutin menjalankan kegiatan literasi keuangan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Makassar dan sekitarnya, sedikitnya dua kali dalam setahun. Materi yang diberikan antara lain pengenalan risiko dan pemahaman mengenai perlindungan asuransi.
Sasaran edukasi pun terus diperluas. Anselmo menyebut jika sebelumnya kegiatan lebih banyak dilakukan di sekolah maupun perguruan tinggi, tahun ini pihaknya mencoba untuk menjangkau segmen masyarakat lain.
“Kalau tahun sebelumnya menyasar anak sekolah hingga kuliah, tahun ini kami memutuskan ke segmen tertentu. Ya, salah satunya ibu-ibu PKK," ujar dia.
Perubahan sasaran didasarkan pada kebutuhan untuk memperluas jangkauan literasi. Menurut Anselmo, kelompok masyarakat memiliki kebutuhan dan karakter yang berbeda sehingga metode edukasi juga perlu disesuaikan.
“Tidak menutup kemungkinan bahwa edukasi berikutnya akan menyasar komunitas lainnya, seperti komunitas rental atau komunitas otomotif yang memang perlu diedukasi," tutur Anselmo.
Bagi Asuransi Astra, edukasi memang menjadi pekerjaan yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pemahaman yang tumbuh secara bertahap diharapkan membuat masyarakat tidak hanya mengenal asuransi, tetapi juga mampu memahami perlindungan yang dimiliki.

Perlindungan Dimulai dari Pemahaman
Persoalan literasi keuangan memang tidak dapat dilepaskan dari perlindungan konsumen. Asisten Manager Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sulselbar, Nadhilah Avissa Nashar, menilai edukasi merupakan salah satu fondasi utama perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan.
“Perlindungan konsumen tidak hanya berbicara mengenai penyelesaian masalah ketika sesuatu terjadi, tetapi juga bagaimana masyarakat memperoleh informasi yang jelas dan pemahaman yang tepat sejak awal,” ujar Nadhilah.
Pandangan tersebut menempatkan edukasi sebagai bagian dari upaya pencegahan. Konsumen yang memahami karakteristik produk akan memiliki bekal lebih baik untuk menilai manfaat, risiko, biaya, serta konsekuensi dari keputusan yang diambil. Karena itu, keterbukaan informasi menjadi unsur penting.
Nadhilah menjelaskan bahwa perlindungan konsumen mencakup edukasi yang memadai, serta transparansi informasi produk dan layanan. Tidak kalah penting, informasi tentang perlindungan aset, privasi serta data konsumen, hingga mekanisme pengaduan dan penyelesaian sengketa.
“Intinya konsumen perlu memperoleh informasi yang jelas, benar, akurat, mudah dipahami dan tidak menyesatkan mengenai produk dan layanan yang digunakan,” kata Nadhilah.
Perspektif OJK tersebut memperlihatkan bahwa literasi dan perlindungan konsumen bukan dua hal yang terpisah. Pemahaman yang baik sejak awal dapat membantu masyarakat mengambil keputusan secara lebih rasional sekaligus mengurangi potensi persoalan di kemudian hari.
Regional Manager Asuransi Astra Jawa Barat - Sulawesi, Hendra Tan, berpendapat bahwa kolaborasi antara industri, regulator dan media memiliki peran penting untuk memperluas pemahaman tersebut. Menurut dia, tingkat pemahaman masyarakat mengenai literasi keuangan, khususnya asuransi, memang masih perlu terus diperkuat.
“Sehingga pemahaman masyarakat kita terhadap literasi keuangan ini benar-benar memahami,” ujarnya.

Dari LENTERA ke ACTION!
Semangat memperluas literasi kemudian dikembangkan Asuransi Astra melalui program LENTERA atau Literasi Keuangan Terpadu Asuransi Astra.
Diinisiasi sejak 2023, LENTERA dirancang untuk memberikan edukasi pengelolaan keuangan dan perlindungan asuransi kepada berbagai kelompok masyarakat. Pelajar, perempuan, pelaku UMKM, komunitas, masyarakat perdesaan, petani, nelayan, penyandang disabilitas, hingga masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar menjadi bagian dari sasaran program.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk memperluas literasi kepada kelompok yang tingkat pemahaman maupun akses keuangannya masih perlu diperkuat.
Pada 2026, rangkaian LENTERA setidaknya telah menjangkau 1.066 peserta di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Makassar. Program juga melahirkan Sobat LENTERA sebagai duta pelajar pelopor literasi keuangan.
Asuransi Astra turut membawa semangat yang sama ke lingkungan perguruan tinggi melalui ACTION! atau Agent of Change for Financial Literacy & Inclusion. Kompetisi tahunan tersebut mengajak mahasiswa menghasilkan gagasan dan solusi kreatif untuk meningkatkan literasi serta inklusi keuangan. Pada 2026, sebanyak 12 proposal terbaik dipilih untuk mendapatkan modal implementasi.
Dengan pendekatan tersebut, edukasi tidak berhenti pada penyampaian materi. Pengetahuan diberi ruang untuk berkembang menjadi gagasan, kemudian diterjemahkan menjadi aksi yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Jejak Hijau Asuransi Astra
Kontribusi Asuransi Astra tidak berhenti pada pendidikan dan literasi keuangan. Di Makassar, perusahaan juga menjalankan kegiatan sosial dan lingkungan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah serta pemangku kepentingan setempat.
Salah satunya berupa edukasi pemilahan sampah yang menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pemerintah kecamatan dan kelurahan. Anselmo menjelaskan, kegiatan tersebut tidak sekadar memberikan informasi mengenai pemilahan sampah. Masyarakat juga mendapatkan dukungan berupa fasilitas yang dibutuhkan agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan.
“Kami memanggil edukator dari DLH yang bisa mengajarkan. Kami juga bekerja sama dengan camat dan lurah, kemudian memberikan bantuan seperti apa yang dibutuhkan untuk pemilahan sampah dan memfasilitasi tempat untuk dilakukan edukasi tersebut kepada warga,” terangnya.
Program tersebut menjadi bagian dari kontribusi Asuransi Astra di bidang lingkungan. Di Sulawesi Selatan, kontribusi serupa diwujudkan melalui transplantasi sedikitnya 7.000 terumbu karang, penanaman 20.000 bibit mangrove di Kampung Berseri Astra (KBA) Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, serta kegiatan beach clean up di Pulau Samalona.
Penanaman mangrove di Rammang-Rammang dilakukan melalui sinergi ekosistem Astra Group. Selain Asuransi Astra, juga terlibat ACC, TAF dan Kalla Toyota. Masing-masing perusahaan menyumbangkan 5.000 bibit.
Bagi Asuransi Astra, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun manfaat jangka panjang bagi lingkungan sekaligus masyarakat.

Public Contribution Jadi Jalan Keberlanjutan
Presiden Direktur Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kontribusi tersebut ditempatkan dalam kerangka keberlanjutan perusahaan. Menurut dia, keberlanjutan membutuhkan proses panjang dan kemampuan untuk terus beradaptasi terhadap perubahan.
“Perjalanan menuju keberlanjutan merupakan proses jangka panjang yang menuntut kemampuan adaptasi dan inovasi,” ujar Maximiliaan, dalam laporan keberlanjutan.
Asuransi Astra kemudian mengintegrasikan prinsip keberlanjutan melalui Triple-P Roadmap yang mencakup Portfolio, People dan Public Contribution. Portfolio Roadmap diarahkan untuk membangun bisnis yang kuat sekaligus bertanggung jawab melalui pengembangan produk, layanan dan operasional berkelanjutan.
Langkah tersebut antara lain diwujudkan melalui produk asuransi kendaraan listrik, GardaMe Mikro, Mikro Persona, Mikro Syariah Persona, serta Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil (APPIK).
Asuransi Astra juga mengembangkan Green Operation, termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca, peningkatan penggunaan energi terbarukan, penghematan air, pengelolaan limbah, serta penggunaan kendaraan hybrid. Hingga 2025, panel surya telah digunakan di 10 lokasi cabang dan perusahaan mencatat penurunan emisi sebesar 9,68 persen dibandingkan 2024.
Pada People Roadmap, karyawan ditempatkan sebagai penggerak keberlanjutan melalui pengembangan kompetensi, pelatihan dan sertifikasi, sekaligus penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Sementara Public Contribution menjadi ruang untuk memperluas manfaat perusahaan kepada masyarakat.
“Melalui Public Contribution Roadmap, kami memperkuat kontribusi sosial dengan memberdayakan masyarakat melalui empat pilar utama Corporate Social Responsibility Asuransi Astra, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan,” ujar Maximiliaan.
Pada bidang kesehatan, program diarahkan pada Integrasi Layanan Primer (ILP), aksi cegah stunting atau ACTing, serta pemeriksaan kesehatan. Sedangkan pada bidang pendidikan, perhatian diberikan melalui literasi keuangan, beasiswa dan edukasi keselamatan berlalu lintas.
Sementara di bidang lingkungan, Asuransi Astra menjalankan penanaman pohon dan transplantasi terumbu karang. Pada bidang kewirausahaan, dukungan diberikan kepada UMKM melalui pelatihan, pendampingan usaha dan perluasan akses layanan keuangan.
Berbagai program tersebut terintegrasi dalam Estafet Peduli Bumi (EPB), yang melibatkan sinergi Astra Group hingga pelanggan. “Hal ini kami lakukan sebagai wujud nyata komitmen kami untuk menciptakan dampak positif terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi,” terang Maximiliaan.

Menjaga Kepercayaan di Tengah Perubahan
Tujuh dekade perjalanan membawa Asuransi Astra melewati perubahan zaman yang panjang.Teknologi berkembang, kebutuhan masyarakat berubah, sementara risiko yang dihadapi masyarakat juga semakin beragam. Dalam situasi tersebut, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Karena itu, Asuransi Astra mengusung tema 2026 “Enhancing Capabilities for Business Resilience”. Penguatan fundamental bisnis pun berjalan beriringan dengan agenda keberlanjutan.
Pada 2025, pendapatan asuransi tumbuh 10 persen dari Rp8,05 triliun menjadi Rp8,88 triliun. Laba bersih meningkat 9 persen dari Rp1,49 triliun menjadi Rp1,62 triliun. Namun, perjalanan tujuh dekade tidak cukup dibaca melalui angka.
Ada cerita yang berlangsung jauh dari laporan keuangan. Mulai dari pelajar yang mulai memahami pengelolaan uang, ibu-ibu yang mengenali pentingnya perlindungan, mahasiswa yang mengubah gagasan menjadi solusi, warga yang belajar memilah sampah, mangrove yang ditanam, hingga terumbu karang yang dipulihkan.
Semua itu menunjukkan bahwa kontribusi dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana yakni pengetahuan. Dari pengetahuan tumbuh kesadaran, yang berlanjut pada kesiapan. Dan dari kesiapan, kepercayaan dapat dibangun yang bakal menjadi kekuatan.
Anselmo memahami bahwa proses tersebut tidak akan selesai dalam satu kegiatan. Sekali lagi, karena edukasi asuransi tidak instan. Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, dalam perjalanan tujuh dekade, makna kalimat itu menjadi lebih dalam.
Kepercayaan memang tidak dibangun dalam sehari. Seperti literasi yang membutuhkan waktu untuk mengakar, perubahan perilaku juga memerlukan proses. Seperti mangrove yang tidak langsung menjadi pelindung pesisir setelah ditanam, manfaat sebuah kontribusi terkadang baru terasa jauh setelah sebuah langkah dimulai.
Karena itu, tujuh dekade bukan sekadar penanda usia. Tujuh dekade adalah perjalanan untuk terus menanam pengetahuan agar masyarakat lebih siap menghadapi risiko, kepedulian agar lingkungan tetap terjaga, pemberdayaan agar masyarakat semakin tangguh, dan kepercayaan agar perlindungan benar-benar menghadirkan ketenangan.
Dari literasi menuju aksi. Selanjutnya, dari perlindungan menuju kontribusi. Dan dari tujuh dekade perjalanan, Asuransi Astra melanjutkan satu pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai yakni menjaga kepercayaan untuk memberikan ketenangan yang lebih luas.
Begitu pula ketenangan. Bukan semata hadir setelah musibah berlalu, melainkan dipersiapkan jauh sebelumnya. Semua itu dibangun melalui pemahaman terhadap risiko, kesiapan mengelola keuangan, serta kemampuan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tepat.
Dari sanalah literasi menemukan maknanya. Bukan sekadar kemampuan memahami istilah keuangan, melainkan bekal untuk menghadapi ketidakpastian dengan lebih siap.
Selama tujuh dekade, perjalanan Asuransi Astra tidak hanya ditandai dengan jualan maupun pengembangan produk perlindungan. Ada upaya yang berjalan lebih panjang. Mulai dari menanamkan pemahaman agar masyarakat semakin mengenali risiko, memahami kebutuhan perlindungan, hingga akhirnya mampu menentukan pilihan secara tepat.
Dari sekolah hingga komunitas, dari literasi keuangan hingga kepedulian terhadap lingkungan, berbagai kontribusi tersebut bermuara pada satu tujuan. Asuransi Astra ingin memastikan masyarakat lebih siap menghadapi berbagai ketidakpastian. Di Makassar, langkah tersebut bermula dari ruang yang sederhana yakni ruang edukasi.
Branch Manager Asuransi Astra Makassar, Anselmo Sebastian Rendika, menilai literasi keuangan sebagai pintu masuk untuk membangun pemahaman masyarakat mengenai asuransi. Karena itu, edukasi perlu dilakukan secara rutin dengan menyasar kelompok masyarakat yang berbeda.
“Edukasi asuransi itu tidak instan,” kata Anselmo, saat berbincang dengan SINDO Makassar, awal Oktober 2026.
Asuransi Astra secara rutin menjalankan kegiatan literasi keuangan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Makassar dan sekitarnya, sedikitnya dua kali dalam setahun. Materi yang diberikan antara lain pengenalan risiko dan pemahaman mengenai perlindungan asuransi.
Sasaran edukasi pun terus diperluas. Anselmo menyebut jika sebelumnya kegiatan lebih banyak dilakukan di sekolah maupun perguruan tinggi, tahun ini pihaknya mencoba untuk menjangkau segmen masyarakat lain.
“Kalau tahun sebelumnya menyasar anak sekolah hingga kuliah, tahun ini kami memutuskan ke segmen tertentu. Ya, salah satunya ibu-ibu PKK," ujar dia.
Perubahan sasaran didasarkan pada kebutuhan untuk memperluas jangkauan literasi. Menurut Anselmo, kelompok masyarakat memiliki kebutuhan dan karakter yang berbeda sehingga metode edukasi juga perlu disesuaikan.
“Tidak menutup kemungkinan bahwa edukasi berikutnya akan menyasar komunitas lainnya, seperti komunitas rental atau komunitas otomotif yang memang perlu diedukasi," tutur Anselmo.
Bagi Asuransi Astra, edukasi memang menjadi pekerjaan yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Pemahaman yang tumbuh secara bertahap diharapkan membuat masyarakat tidak hanya mengenal asuransi, tetapi juga mampu memahami perlindungan yang dimiliki.

Perlindungan Dimulai dari Pemahaman
Persoalan literasi keuangan memang tidak dapat dilepaskan dari perlindungan konsumen. Asisten Manager Divisi Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Sulselbar, Nadhilah Avissa Nashar, menilai edukasi merupakan salah satu fondasi utama perlindungan konsumen di sektor jasa keuangan.
“Perlindungan konsumen tidak hanya berbicara mengenai penyelesaian masalah ketika sesuatu terjadi, tetapi juga bagaimana masyarakat memperoleh informasi yang jelas dan pemahaman yang tepat sejak awal,” ujar Nadhilah.
Pandangan tersebut menempatkan edukasi sebagai bagian dari upaya pencegahan. Konsumen yang memahami karakteristik produk akan memiliki bekal lebih baik untuk menilai manfaat, risiko, biaya, serta konsekuensi dari keputusan yang diambil. Karena itu, keterbukaan informasi menjadi unsur penting.
Nadhilah menjelaskan bahwa perlindungan konsumen mencakup edukasi yang memadai, serta transparansi informasi produk dan layanan. Tidak kalah penting, informasi tentang perlindungan aset, privasi serta data konsumen, hingga mekanisme pengaduan dan penyelesaian sengketa.
“Intinya konsumen perlu memperoleh informasi yang jelas, benar, akurat, mudah dipahami dan tidak menyesatkan mengenai produk dan layanan yang digunakan,” kata Nadhilah.
Perspektif OJK tersebut memperlihatkan bahwa literasi dan perlindungan konsumen bukan dua hal yang terpisah. Pemahaman yang baik sejak awal dapat membantu masyarakat mengambil keputusan secara lebih rasional sekaligus mengurangi potensi persoalan di kemudian hari.
Regional Manager Asuransi Astra Jawa Barat - Sulawesi, Hendra Tan, berpendapat bahwa kolaborasi antara industri, regulator dan media memiliki peran penting untuk memperluas pemahaman tersebut. Menurut dia, tingkat pemahaman masyarakat mengenai literasi keuangan, khususnya asuransi, memang masih perlu terus diperkuat.
“Sehingga pemahaman masyarakat kita terhadap literasi keuangan ini benar-benar memahami,” ujarnya.

Dari LENTERA ke ACTION!
Semangat memperluas literasi kemudian dikembangkan Asuransi Astra melalui program LENTERA atau Literasi Keuangan Terpadu Asuransi Astra.
Diinisiasi sejak 2023, LENTERA dirancang untuk memberikan edukasi pengelolaan keuangan dan perlindungan asuransi kepada berbagai kelompok masyarakat. Pelajar, perempuan, pelaku UMKM, komunitas, masyarakat perdesaan, petani, nelayan, penyandang disabilitas, hingga masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan dan terluar menjadi bagian dari sasaran program.
Pendekatan tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk memperluas literasi kepada kelompok yang tingkat pemahaman maupun akses keuangannya masih perlu diperkuat.
Pada 2026, rangkaian LENTERA setidaknya telah menjangkau 1.066 peserta di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Makassar. Program juga melahirkan Sobat LENTERA sebagai duta pelajar pelopor literasi keuangan.
Asuransi Astra turut membawa semangat yang sama ke lingkungan perguruan tinggi melalui ACTION! atau Agent of Change for Financial Literacy & Inclusion. Kompetisi tahunan tersebut mengajak mahasiswa menghasilkan gagasan dan solusi kreatif untuk meningkatkan literasi serta inklusi keuangan. Pada 2026, sebanyak 12 proposal terbaik dipilih untuk mendapatkan modal implementasi.
Dengan pendekatan tersebut, edukasi tidak berhenti pada penyampaian materi. Pengetahuan diberi ruang untuk berkembang menjadi gagasan, kemudian diterjemahkan menjadi aksi yang dapat memberi manfaat bagi masyarakat.

Jejak Hijau Asuransi Astra
Kontribusi Asuransi Astra tidak berhenti pada pendidikan dan literasi keuangan. Di Makassar, perusahaan juga menjalankan kegiatan sosial dan lingkungan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah serta pemangku kepentingan setempat.
Salah satunya berupa edukasi pemilahan sampah yang menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pemerintah kecamatan dan kelurahan. Anselmo menjelaskan, kegiatan tersebut tidak sekadar memberikan informasi mengenai pemilahan sampah. Masyarakat juga mendapatkan dukungan berupa fasilitas yang dibutuhkan agar pengetahuan tersebut dapat diterapkan.
“Kami memanggil edukator dari DLH yang bisa mengajarkan. Kami juga bekerja sama dengan camat dan lurah, kemudian memberikan bantuan seperti apa yang dibutuhkan untuk pemilahan sampah dan memfasilitasi tempat untuk dilakukan edukasi tersebut kepada warga,” terangnya.
Program tersebut menjadi bagian dari kontribusi Asuransi Astra di bidang lingkungan. Di Sulawesi Selatan, kontribusi serupa diwujudkan melalui transplantasi sedikitnya 7.000 terumbu karang, penanaman 20.000 bibit mangrove di Kampung Berseri Astra (KBA) Rammang-Rammang, Kabupaten Maros, serta kegiatan beach clean up di Pulau Samalona.
Penanaman mangrove di Rammang-Rammang dilakukan melalui sinergi ekosistem Astra Group. Selain Asuransi Astra, juga terlibat ACC, TAF dan Kalla Toyota. Masing-masing perusahaan menyumbangkan 5.000 bibit.
Bagi Asuransi Astra, kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya membangun manfaat jangka panjang bagi lingkungan sekaligus masyarakat.

Public Contribution Jadi Jalan Keberlanjutan
Presiden Direktur Asuransi Astra, Maximiliaan Agatisianus, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian kontribusi tersebut ditempatkan dalam kerangka keberlanjutan perusahaan. Menurut dia, keberlanjutan membutuhkan proses panjang dan kemampuan untuk terus beradaptasi terhadap perubahan.
“Perjalanan menuju keberlanjutan merupakan proses jangka panjang yang menuntut kemampuan adaptasi dan inovasi,” ujar Maximiliaan, dalam laporan keberlanjutan.
Asuransi Astra kemudian mengintegrasikan prinsip keberlanjutan melalui Triple-P Roadmap yang mencakup Portfolio, People dan Public Contribution. Portfolio Roadmap diarahkan untuk membangun bisnis yang kuat sekaligus bertanggung jawab melalui pengembangan produk, layanan dan operasional berkelanjutan.
Langkah tersebut antara lain diwujudkan melalui produk asuransi kendaraan listrik, GardaMe Mikro, Mikro Persona, Mikro Syariah Persona, serta Asuransi Perikanan bagi Pembudidaya Ikan Kecil (APPIK).
Asuransi Astra juga mengembangkan Green Operation, termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca, peningkatan penggunaan energi terbarukan, penghematan air, pengelolaan limbah, serta penggunaan kendaraan hybrid. Hingga 2025, panel surya telah digunakan di 10 lokasi cabang dan perusahaan mencatat penurunan emisi sebesar 9,68 persen dibandingkan 2024.
Pada People Roadmap, karyawan ditempatkan sebagai penggerak keberlanjutan melalui pengembangan kompetensi, pelatihan dan sertifikasi, sekaligus penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Sementara Public Contribution menjadi ruang untuk memperluas manfaat perusahaan kepada masyarakat.
“Melalui Public Contribution Roadmap, kami memperkuat kontribusi sosial dengan memberdayakan masyarakat melalui empat pilar utama Corporate Social Responsibility Asuransi Astra, yakni kesehatan, pendidikan, lingkungan dan kewirausahaan,” ujar Maximiliaan.
Pada bidang kesehatan, program diarahkan pada Integrasi Layanan Primer (ILP), aksi cegah stunting atau ACTing, serta pemeriksaan kesehatan. Sedangkan pada bidang pendidikan, perhatian diberikan melalui literasi keuangan, beasiswa dan edukasi keselamatan berlalu lintas.
Sementara di bidang lingkungan, Asuransi Astra menjalankan penanaman pohon dan transplantasi terumbu karang. Pada bidang kewirausahaan, dukungan diberikan kepada UMKM melalui pelatihan, pendampingan usaha dan perluasan akses layanan keuangan.
Berbagai program tersebut terintegrasi dalam Estafet Peduli Bumi (EPB), yang melibatkan sinergi Astra Group hingga pelanggan. “Hal ini kami lakukan sebagai wujud nyata komitmen kami untuk menciptakan dampak positif terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi,” terang Maximiliaan.

Menjaga Kepercayaan di Tengah Perubahan
Tujuh dekade perjalanan membawa Asuransi Astra melewati perubahan zaman yang panjang.Teknologi berkembang, kebutuhan masyarakat berubah, sementara risiko yang dihadapi masyarakat juga semakin beragam. Dalam situasi tersebut, kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting untuk menjaga keberlanjutan bisnis.
Karena itu, Asuransi Astra mengusung tema 2026 “Enhancing Capabilities for Business Resilience”. Penguatan fundamental bisnis pun berjalan beriringan dengan agenda keberlanjutan.
Pada 2025, pendapatan asuransi tumbuh 10 persen dari Rp8,05 triliun menjadi Rp8,88 triliun. Laba bersih meningkat 9 persen dari Rp1,49 triliun menjadi Rp1,62 triliun. Namun, perjalanan tujuh dekade tidak cukup dibaca melalui angka.
Ada cerita yang berlangsung jauh dari laporan keuangan. Mulai dari pelajar yang mulai memahami pengelolaan uang, ibu-ibu yang mengenali pentingnya perlindungan, mahasiswa yang mengubah gagasan menjadi solusi, warga yang belajar memilah sampah, mangrove yang ditanam, hingga terumbu karang yang dipulihkan.
Semua itu menunjukkan bahwa kontribusi dapat dimulai dari sesuatu yang sederhana yakni pengetahuan. Dari pengetahuan tumbuh kesadaran, yang berlanjut pada kesiapan. Dan dari kesiapan, kepercayaan dapat dibangun yang bakal menjadi kekuatan.
Anselmo memahami bahwa proses tersebut tidak akan selesai dalam satu kegiatan. Sekali lagi, karena edukasi asuransi tidak instan. Kalimat tersebut mungkin terdengar sederhana. Namun, dalam perjalanan tujuh dekade, makna kalimat itu menjadi lebih dalam.
Kepercayaan memang tidak dibangun dalam sehari. Seperti literasi yang membutuhkan waktu untuk mengakar, perubahan perilaku juga memerlukan proses. Seperti mangrove yang tidak langsung menjadi pelindung pesisir setelah ditanam, manfaat sebuah kontribusi terkadang baru terasa jauh setelah sebuah langkah dimulai.
Karena itu, tujuh dekade bukan sekadar penanda usia. Tujuh dekade adalah perjalanan untuk terus menanam pengetahuan agar masyarakat lebih siap menghadapi risiko, kepedulian agar lingkungan tetap terjaga, pemberdayaan agar masyarakat semakin tangguh, dan kepercayaan agar perlindungan benar-benar menghadirkan ketenangan.
Dari literasi menuju aksi. Selanjutnya, dari perlindungan menuju kontribusi. Dan dari tujuh dekade perjalanan, Asuransi Astra melanjutkan satu pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai yakni menjaga kepercayaan untuk memberikan ketenangan yang lebih luas.
(TRI)
Berita Terkait
Sulsel
Bupati Bantaeng Ajak Pelajar Peduli Lingkungan
Bupati Bantaeng, Muh. Fathul Fauzy Nurdin, mengajak pelajar membangun kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kamis, 08 Okt 2026 17:11
Ekbis
6 Tahun Konsisten, Kredivo Perluas Literasi Keuangan Generasi Muda Indonesia Timur
Kredivo memperluas program edukasi finansial Generasi Djempolan ke Ambon, Maluku, untuk pertama kalinya.
Rabu, 07 Okt 2026 16:27
Ekbis
Kisah Haji Amir Tumbuh Bersama Asuransi Astra: Truk Terbakar, Bisnis Terus Berkibar
Insiden truk terbakar semestinya menjadi cerita tentang kehilangan. Namun, bagi Haji Amir yang justru diingatnya adalah apa yang terjadi setelah api padam.
Rabu, 07 Okt 2026 08:05
Ekbis
OJK Sulselbar Dorong Anak Muda Jadi Penggerak Literasi Keuangan
OJK Sulselbar menyiapkan anak muda untuk mengambil dapat mengambil peran dalam memperluas edukasi keuangan melalui pemilihan Duta Literasi dan Inklusi Keuangan.
Minggu, 04 Okt 2026 20:38
Ekbis
FIN Expo 2026 Jadi Momentum Perluas Akses & Literasi Keuangan Masyarakat Sulsel
Selain meningkatkan literasi dan inklusi keuangan, kegiatan ini juga diharapkan mendorong transaksi dan aktivitas ekonomi masyarakat di Sulawesi Selatan.
Sabtu, 03 Okt 2026 19:46
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Resmi Gabung Demokrat, Appi Ajak Kader Bersama-sama Besarkan Partai
2
Kuasa Hukum Husniah Talenrang Desak Polda Sulsel Usut Dugaan Hilangnya Dokumen MA
3
Daftar Pilrek UNM, Prof Hasmyati Usung Visi Center of Excellence Kependidikan
4
Kuasa Hukum Bupati Gowa Ungkap Resi & Foto Penerimaan Surat MA di PA Sungguminasa
5
Tujuh Dekade Asuransi Astra: Menanam Literasi, Memanen Kepercayaan
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Resmi Gabung Demokrat, Appi Ajak Kader Bersama-sama Besarkan Partai
2
Kuasa Hukum Husniah Talenrang Desak Polda Sulsel Usut Dugaan Hilangnya Dokumen MA
3
Daftar Pilrek UNM, Prof Hasmyati Usung Visi Center of Excellence Kependidikan
4
Kuasa Hukum Bupati Gowa Ungkap Resi & Foto Penerimaan Surat MA di PA Sungguminasa
5
Tujuh Dekade Asuransi Astra: Menanam Literasi, Memanen Kepercayaan