Gala Premiere Uang Passolo, Film Lokal Makassar Angkat Realitas Sosial & Budaya

Selasa, 06 Jan 2026 08:43
Gala Premiere Uang Passolo, Film Lokal Makassar Angkat Realitas Sosial & Budaya
Film lokal berjudul Uang Passolo resmi diperkenalkan kepada publik melalui Gala Premiere yang digelar di XXI Panakkukang, Makassar. Foto/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Film lokal berjudul Uang Passolo resmi diperkenalkan kepada publik melalui Gala Premiere yang digelar di XXI Panakkukang, Makassar, Senin (5/1/2025). Acara ini dirangkaikan dengan sesi ramah tamah dan nonton bareng bersama para tamu undangan.

Gala premiere tersebut dihadiri Wakil Wali Kota Makassar Aliyah Mustika Ilham beserta jajaran Pemerintah Kota Makassar, pelaku industri perfilman, para pemain dan kru film, hingga selebgram serta TikTokers Makassar. Sejumlah tokoh turut hadir, termasuk pengusaha skincare asal Makassar, Fenny Frans.

Uang Passolo disutradarai oleh Andi Burhamzah, yang juga bertindak sebagai produser bersama Adhy Basto. Film ini dibintangi Jade Thamrin, Tumming, Abu, Imran Ismail, Adhy Basto, dan Mashita Asapa, serta menghadirkan aktor nasional Godfred Orindeod, yang dikenal lewat film Kaka Boss.

Usai pemutaran perdana, Adhy Basto mengungkapkan bahwa Uang Passolo merupakan pengalaman pertamanya terlibat sebagai produser sekaligus penggagas ide cerita.

“Ini film pertama saya sebagai produser. Saya terlibat sejak menggagas cerita hingga proses produksi, dan hari ini akhirnya bisa disaksikan bersama,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seluruh proses syuting dilakukan dj Desa Parintunan, Kabupaten Pangkep, selama sekitar 26 hari. Pemilihan lokasi tersebut dinilai paling merepresentasikan karakter cerita yang diangkat.

“Lokasi ini dipilih karena memiliki karakter yang sangat kuat dan sesuai dengan dunia cerita Uang Passolo,” jelasnya.

Adhy menambahkan, film ini lahir dari realitas sosial yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari, khususnya terkait budaya dan gengsi sosial. “Cerita ini banyak terjadi di sekitar kita. Kami mencoba menjahit potongan realitas itu menjadi sebuah karya film,” katanya.

Film Uang Passolo dijadwalkan tayang di jaringan bioskop nasional, termasuk XXI dan CGV, serta di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan seperti Makassar, Sengkang, dan Palopo. Adhy berharap film ini menjadi pintu pembuka bagi karya-karya lokal Makassar untuk menembus pasar nasional.

“Kami belajar untuk berani. Mudah-mudahan ini bisa jadi langkah awal film lokal Makassar melangkah lebih jauh,” tutupnya.

Pemeran utama pria, Imran Ismail, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim produksi yang telah terlibat sejak awal. “Terima kasih kepada Timur Picture, para produser, sutradara Andi Burhamzah, dan seluruh tim yang membimbing kami sejak reading hingga syuting,” ujarnya.

Ia berharap Uang Passolo dapat memantik lahirnya lebih banyak film yang mengangkat budaya daerah, khususnya Sulawesi Selatan.

Sementara itu, pemeran utama wanita Mashita Asapa mengaku film ini menjadi pengalaman berharga karena merupakan debutnya di layar lebar. “Ini pengalaman pertama saya bermain film. Dari yang awalnya bingung, saya belajar banyak hal dan menemukan keluarga baru di proyek ini,” ungkapnya.

Aktor Godfred Orindeod juga menekankan pentingnya peran seluruh unsur dalam film, termasuk figuran. “Jangan melihat besar atau kecilnya peran. Tanpa figuran dan pemeran pendukung, cerita ini tidak akan hidup,” tegasnya.

Dari pihak pemerintah, Kepala Dinas Pariwisata Kota Makassar, Achmad Hendra Hakamuddin, menyampaikan apresiasi atas kehadiran film tersebut. Menurutnya, Uang Passolo merupakan karya anak Makassar yang mampu membaca tren nasional sekaligus mengangkat kearifan lokal.

“Kehadiran Ibu Wakil Wali Kota adalah bentuk dukungan nyata Pemerintah Kota Makassar agar film ini bisa melangkah ke tingkat nasional,” ujarnya.

Ia menilai film sebagai medium efektif untuk memperkenalkan adat dan budaya Bugis-Makassar kepada masyarakat luas.

Secara cerita, Uang Passolo mengisahkan Biba (Mashita Asapa), seorang guru dengan keterbatasan ekonomi, dan Rizky (Imran Ismail), videografer pernikahan yang tengah menghadapi kesulitan hidup. Keduanya berencana menggelar pernikahan sederhana, namun terhalang oleh tuntutan keluarga Biba yang menjunjung tinggi gengsi sosial dan besarnya uang passolo.

Pesta mewah tetap dipaksakan hingga tanah keluarga harus digadaikan. Di tengah tekanan tersebut, Biba dan Rizky berusaha mencari jalan agar tetap menghormati keluarga tanpa mengorbankan makna cinta dan pilihan hidup mereka.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru