SMA Islam Athirah Bukit Baruga Tamatkan 154 Siswa, 54 Dikukuhkan jadi Guru Ngaji

Sabtu, 09 Mei 2026 15:29
SMA Islam Athirah Bukit Baruga Tamatkan 154 Siswa, 54 Dikukuhkan jadi Guru Ngaji
Pengukuhan 54 siswa SMA Islam Athirah Bukit Baruga sebagai guru mengaji bersertifikasi metode Ummi. Foto: SINDO Makassar/Luqman Zainuddin
Comment
Share
MAKASSAR - SMA Islam Athirah Bukit Baruga menggelar acara penamatan bagi 154 siswa angkatan ke-15 di Auditorium Athirah Kajaolalido, Sabtu (9/5/2026). Seluruh siswa dinyatakan lulus 100 persen.

Mengusung tema “Strong Roots, Brighter Future”, penamatan tahun ini menekankan pentingnya penguatan ilmu, karakter, dan jati diri siswa sebagai bekal menghadapi masa depan.

Kepala SMA Islam Athirah Bukit Baruga, Dr. Bakry, M.Si., M.Stat., mengatakan tema tersebut menggambarkan komitmen sekolah dalam membangun fondasi karakter dan kompetensi siswa selama menempuh pendidikan.

“Ketika akarnya kuat, tidak ada alasan untuk takut kepada angin,” ujar Bakry dalam sambutannya.

Ia menjelaskan, sekolah telah menetapkan enam jaminan mutu bagi siswa, mulai dari kemampuan membaca Al-Qur’an secara tartil, hafalan minimal satu juz, pembentukan karakter beriman dan mandiri, kemampuan presentasi projek akhir, hingga capaian bahasa asing dengan skor TOEFL minimal 420.

Menurutnya, jaminan mutu tersebut tidak hanya menjadi slogan, tetapi dikawal melalui evaluasi rutin dan rapor mutu setiap tahun.

Bakry menyebut SMA Islam Athirah Bukit Baruga memiliki lima program unggulan, yakni penguatan keagamaan, village observation, program intensif masuk perguruan tinggi, peningkatan kemampuan TOEFL, dan projek akhir siswa.

SMA Islam Athirah Bukit Baruga Tamatkan 154 Siswa, 54 Dikukuhkan jadi Guru Ngaji

Pada bidang Tahsin dan Tahfiz, seluruh siswa disebut telah mampu membaca Al-Qur’an secara tartil. Sementara 84 persen siswa berhasil mencapai target hafalan.

Tidak hanya itu, sebanyak 52 siswa juga telah mengantongi sertifikasi Ummi dan dinyatakan layak menjadi pengajar Al-Qur’an.

“Selain tamat, mereka juga kami kukuhkan menjadi guru Al-Qur’an,” ujarnya.

Sekolah juga menerapkan penilaian sikap yang dituangkan dalam rapor khusus setiap semester. Menurut Bakry, pendidikan tidak hanya berfokus pada aspek akademik, tetapi juga adab dan karakter siswa.

“Menyiapkan anak bukan hanya kognitif, tetapi juga aspek adab, kemampuan, dan sikap. Ini tidak bisa hanya dilisankan, tapi dituliskan dan diukur,” katanya.

Dalam capaian bahasa asing, sebanyak 77 persen siswa berhasil mencapai skor TOEFL 420. Bahkan, 21 siswa meraih skor di atas 500. Selain TOEFL, sejumlah siswa juga mengikuti ujian IELTS dan sertifikasi bahasa Prancis DELF.

Pada fase akhir pendidikan, siswa juga diwajibkan mengikuti projek akhir berbentuk pengabdian masyarakat. Sebanyak 29 siswa menjalani pengabdian sebagai guru Al-Qur’an maupun pengajar di sekolah dasar mitra, termasuk di SD Pannara selama tiga pekan.

Sekolah juga menjalin kerja sama dengan sejumlah instansi, seperti RS Pendidikan Unhas dan Perpustakaan Daerah Sulawesi Selatan.

Bakry mengatakan projek akhir tersebut menjadi salah satu program paling menantang karena siswa harus membuat laporan dan menjalani ujian oleh penguji eksternal. Nilai projek akhir bahkan dilampirkan dalam sertifikat pendamping ijazah.

Adapun syarat kelulusan siswa meliputi penyelesaian seluruh rangkaian pembelajaran, nilai sikap minimal B, lulus projek akhir, serta tingkat kehadiran minimal 85 persen.

Dari 154 lulusan tahun ini, sebanyak 20 siswa diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Jumlah tersebut menjadi capaian tertinggi selama SMA Islam Athirah Bukit Baruga berdiri.

Secara keseluruhan, persentase siswa yang lolos jalur prestasi tanpa tes mencapai 32 persen, melampaui rata-rata nasional yang berada di kisaran 19 persen.

“Ini pilihan tepat menyekolahkan anak di sini,” ujar Bakry.

Direktur Sekolah Islam Athirah, Syamril, S.T., M.M., dalam sambutannya menekankan bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari jabatan, harta, atau profesi, tetapi juga keberhasilan mendidik generasi.

“Banyak orang profesinya bagus, posisinya tinggi, hartanya banyak, tapi belum tentu sukses. Orang baru bisa dikatakan sukses kalau mampu membuat anaknya sukses,” katanya.

Ia menyebut kesuksesan memiliki beberapa tingkatan, mulai dari sukses profesi, sukses relasi, sukses generasi, hingga sukses abadi.

“Percuma punya harta banyak kalau tidak punya wakaf dan sedekah jariyah. Percuma gelar panjang kalau tidak punya ilmu bermanfaat, dan percuma punya anak yang bisa dibanggakan kalau tidak saleh,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Dinas Pendidikan Sulawesi Selatan, Asqar, S.E., M.M., mengapresiasi SMA Islam Athirah yang dinilai mampu mendorong siswa meraih keberhasilan dunia dan akhirat.

“Kami berharap dan mendoakan mereka yang ikut SNBT bisa lulus. Teruslah berjuang dan pantang menyerah,” katanya.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru