Appi Tak Diberi Ruang, Pengamat: Golkar Bisa Kehilangan Momentum

Minggu, 27 Sep 2026 17:53
Appi Tak Diberi Ruang, Pengamat: Golkar Bisa Kehilangan Momentum
Ketua DPD II Golkar Makassar, Munafri Arifuddin saat memimpin konsolidasi beberapa waktu lalu. Foto: Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Nama Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin kini ramai dilirik sejumlah partai politik lain. Terbaru ada Demokrat.

Nama Munafri mencuat jelang musyawarah daerah Demokrat Sulsel. Segitiga mercy mencari Ketua DPD baru akhir 2026 ini. Masa kepengurusan Ni'matullah Rahim Bone tidak lama lagi genap lima tahun.

Sebelumnya 21 DPD II Golkar kabupaten/kota sempat mendorong nama Munafri memimpin Golkar Sulsel. Namun peta politik berubah setelah Ketua Umum Golkar Bahli Lahadalia menerbitkan surat diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin.

IAS pun melenggeng dan terpilih Ketua DPD I Golkar Sulsel.

Appi, sapaan Munafri, bergabung ke Golkar pada 2020 lalu. Di tahun 2021 Appi terpilih sebagai Ketua DPD II Golkar Makassar.

Di Pemilu 2024 lalu, Appi berhasil menuntaskan tugas Golkar dengan membantu di pileg. Appi terpilih dan mengamankan 1 kursi DPRD Sulsel dari Dapil Makassar A, 29.802 suara sah, mengalahkan Kadir Halid.

Appi memilih mengundurkan diri sebelum pelantikan karena maju calon Wali Kota Makassar.

Di pileg DPRD Kota, Appi membantu Partai Golkar meraih total 97.209 suara terbaik, unggul atas Partai NasDem yang memperoleh 94.756 suara pada Pileg DPRD Kota Makassar 2024.

Kursi Golkar naik dari 5 jadi 6 kursi, jadi pemenang kedua untuk perolehan kursi di bawah nasdem 8 kursi.

Pengamat Politik Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Arief Wicaksono, menilai Appi pemimpin muda masa depan yang dimiliki Golkar.

Menurut Arief, Appi bukan kader yang belum teruji. Dua kontestasi besar pada 2024, kata Arief, menunjukkan kapasitas elektoral Appi sekaligus kemampuan mengonsolidasikan kekuatan politik.

“Iye, jadi menurut saya, data yang disampaikan di atas adalah fakta bahwa Appi bukan cuma sekadar figur populer, tetapi sudah terbukti mampu menggerakkan mesin politik seperti partai. Kepemimpinannya mumpuni sebagai figur yang memang saat ini menjadi modal penting bagi partai,” kata Arief dalam siaran pers yang diterima.

Appi maju sebagai calon anggota DPRD Sulsel dari Daerah Pemilihan Sulsel I yang meliputi Kota Makassar. Ia memperoleh 29.802 suara, tertinggi di antara calon Golkar pada dapil tersebut. Kadir Halid yang berada dalam daftar calon yang sama memperoleh 8.009 suara. Hasil itu mengantarkan Appi mendapatkan kursi DPRD Sulsel sebelum kemudian mundur untuk mengikuti Pilkada Makassar.

Pada saat yang sama, performa Golkar di Pileg DPRD Kota Makassar juga menunjukkan peningkatan.

Golkar mengumpulkan 97.209 suara, lebih tinggi dibandingkan NasDem yang meraih 94.756 suara.

Namun, dalam konversi kursi, NasDem memperoleh delapan kursi sedangkan Golkar enam kursi.

Jumlah kursi Golkar meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang memiliki lima kursi.

Ujian berikutnya datang dalam Pilkada Makassar 2024. Appi yang saat itu memimpin Golkar Makassar maju bersama Aliyah Mustika Ilham.

Pasangan ini meraih 319.112 suara atau 54,72 persen, jauh di atas pasangan Andi Seto Gadhista Asapa–Rezki Mulfiati Lutfi yang memperoleh 162.427 suara atau 27,85 persen.

Andi Seto–Rezki ketika itu diusung Gerindra, NasDem, PAN, dan PSI, sedangkan Appi–Aliyah diusung Golkar bersama Demokrat, Perindo, Hanura, PBB, dan Partai Ummat.

Kemenangan tersebut penting bagi Golkar karena mengembalikan kader partai berlambang pohon beringin itu ke kursi Wali Kota Makassar setelah penantian panjang.

Terakhir kali pasangan yang diusung Golkar memenangi Pilkada Makassar adalah Ilham Arief Sirajuddin–Supomo Guntur pada Pilkada 2008. Keduanya ditetapkan memimpin Makassar periode 2009–2014 setelah memperoleh 370.912 suara atau 67,06 persen

Didorong 21 DPD II Golkar

Menjelang Musda Golkar Sulsel 2026, Appi sempat memperoleh dukungan dari sejumlah DPD II untuk maju sebagai calon ketua.

Namun, dinamika kemudian berubah setelah DPP Golkar memberikan diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin. Appi akhirnya tidak maju dalam Musda tersebut.
Arief melihat situasi itu dapat memunculkan persepsi bahwa partai belum sepenuhnya memberikan ruang strategis kepada kader muda dengan modal elektoral kuat.

“Keputusan DPP Golkar yang tidak memberi ruang strategis bagi Appi justru menimbulkan pertanyaan besar bagi publik. Dalam politik modern, partai dituntut untuk merawat kader muda yang berprestasi dan memiliki kapasitas leadership dan elektoral yang memadai,” ujar Arief.

Menurut dia, persoalan ini lebih besar daripada sekadar perebutan jabatan struktural.

Regenerasi, kata Arief, menjadi kebutuhan partai apabila ingin mempertahankan kesinambungan kekuatan politik dalam jangka panjang.

“Ketika figur seperti Appi tidak diakomodasi, muncul kesan bahwa Golkar lebih mengutamakan patron lama dibandingkan regenerasi. Hal ini menjadi titik lemah Golkar di masa depan karena publik melihat dengan jelas tentang apa yang terjadi,” katanya.

Mulai Dilirik Partai Lain

Situasi itu pula yang membuat posisi Appi menarik perhatian partai lain.

Belakangan, namanya santer dikaitkan dengan Demokrat Sulsel. Sejumlah elite Demokrat mengakui nama Appi beredar dalam pembicaraan menjelang Musda partai tersebut, meski belum ada keputusan resmi bahwa Appi akan bergabung.

Isu kepindahan itu semakin menguat setelah Appi hadir dalam kegiatan Demokrat Makassar pada akhir Agustus 2026. Namun, kehadirannya ketika itu juga dijelaskan dalam kapasitas sebagai Wali Kota Makassar. Appi sendiri sebelumnya, pada Juli 2026, masih menegaskan dirinya sebagai kader Golkar.

Arief menilai munculnya ketertarikan partai lain merupakan konsekuensi dari modal politik yang dimiliki Appi.

“Tidak mengherankan bila sejumlah parpol kini melirik Appi. Bukan hanya Demokrat, Appi juga punya peluang untuk masuk di partai-partai politik yang lain. Saat ini, tidak bisa dipungkiri, Appi adalah aset politik yang jadi rebutan,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan bahwa jika Appi benar-benar memilih jalan politik baru, implikasinya tidak hanya menyangkut perpindahan seorang kader.

Menurut Arief, Golkar juga berpotensi kehilangan salah satu figur yang memiliki basis elektoral teruji di Makassar.

“Maka ketika Appi benar-benar pindah, Golkar akan kehilangan momentum regenerasi, dan basis elektoral Appi bisa bergeser ke partai lain,” katanya.

Dalam pandangan Arief, situasi saat ini bahkan dapat memperluas daya tawar politik Appi.

“Appi menjadi figur lintas partai, yang justru memperkuat posisi tawarnya di luar Golkar. Hal ini menunjukkan bahwa Appi adalah variabel penting dalam politik Sulsel ke depan,” ujar Arief.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru