PLN UIP Sulawesi Uji Respons Darurat dan Pemulihan Bisnis melalui Simulasi BCMS

Senin, 05 Okt 2026 18:51
PLN UIP Sulawesi Uji Respons Darurat dan Pemulihan Bisnis melalui Simulasi BCMS
PLN UIP Sulawesi menguji kesiapsiagaan darurat dan pemulihan bisnis melalui simulasi tanggap darurat dan Business Continuity Management System (BCMS) di Kantor PLN UIP Sulawesi, Makassar. Foto/IST
Comment
Share
MAKASSAR - Kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat tidak cukup hanya mengandalkan prosedur tertulis. Kecepatan mengambil keputusan, ketepatan koordinasi, hingga kemampuan memulihkan operasional perlu diuji secara nyata. Hal inilah yang dilakukan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi melalui simulasi tanggap darurat dan Business Continuity Management System (BCMS) di Kantor PLN UIP Sulawesi, Makassar, Senin (5/10).

Simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya PLN UIP Sulawesi memastikan seluruh personel memahami peran dan tanggung jawab masing-masing ketika menghadapi kondisi darurat, sekaligus memastikan proses bisnis tetap berjalan atau dapat segera dipulihkan apabila terjadi gangguan terhadap operasional perusahaan.

General Manager PLN UIP Sulawesi, I Gusti Made Aditya San Adinatha, mengatakan kesiapan menghadapi kondisi darurat perlu diuji secara berkala. Dengan simulasi, setiap personel dapat memahami langkah yang harus dilakukan sekaligus menguji efektivitas koordinasi antartim.

“Kesiapan menghadapi kondisi darurat tidak cukup hanya dengan memiliki prosedur, tetapi perlu diuji melalui simulasi agar setiap personel memahami perannya dan mampu mengambil tindakan yang tepat. Pada saat yang sama, kami juga harus memastikan proses bisnis tetap dapat berjalan dan dipulihkan dengan cepat ketika terjadi gangguan,” ujar Aditya.

Simulasi mencakup sejumlah skenario keadaan darurat, mulai dari gangguan keamanan, kebakaran, evakuasi dan penanganan korban, hingga ancaman benda mencurigakan.

Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, di antaranya tim keamanan, Emergency Response Team (ERT), petugas pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), manajemen, Crisis Management Team (CMT), Business Recovery Team (BRT), Business Process Owner (BPO), serta kepolisian dan instansi terkait.

Dalam simulasi, setiap tim menjalankan fungsi masing-masing sesuai prosedur penanganan keadaan darurat dan keberlangsungan bisnis. Respons personel diuji mulai dari kecepatan menerima informasi, pengambilan keputusan, komunikasi, pengamanan lokasi, proses evakuasi, hingga penanganan korban.

Tidak berhenti pada penanganan keadaan darurat, simulasi juga menguji kesiapan perusahaan dalam memulihkan proses bisnis setelah kondisi berhasil dikendalikan. Aspek tersebut menjadi bagian penting dalam penerapan BCMS untuk memastikan gangguan tidak berdampak berkepanjangan terhadap operasional perusahaan.

Aditya mengatakan ketahanan organisasi dalam menghadapi kondisi darurat membutuhkan koordinasi yang kuat dan keterlibatan seluruh personel. Semakin baik kesiapan setiap unsur, semakin besar pula peluang perusahaan meminimalkan dampak gangguan terhadap operasional.

“Melalui simulasi ini, kami ingin memastikan seluruh unsur memahami apa yang harus dilakukan ketika menghadapi kondisi darurat. Evaluasi dari kegiatan ini akan menjadi bahan perbaikan untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan, koordinasi, dan ketahanan operasional PLN UIP Sulawesi,” katanya.

Hasil simulasi selanjutnya menjadi bahan evaluasi untuk mengidentifikasi aspek yang masih perlu diperkuat, baik dari sisi prosedur, koordinasi, komunikasi maupun kesiapan sumber daya manusia.

Upaya tersebut menjadi bagian dari komitmen PLN UIP Sulawesi dalam membangun budaya kesiapsiagaan dan ketahanan operasional secara berkelanjutan. Dengan penerapan BCMS yang terus diperkuat, PLN memastikan pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan dapat tetap berjalan secara aman, andal, dan berkelanjutan, termasuk ketika perusahaan menghadapi kondisi yang tidak terduga.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru