IPCM dan Jalan Panjang Membangun Ekosistem Pelabuhan yang Berkelanjutan

Kamis, 24 Sep 2026 08:47
IPCM dan Jalan Panjang Membangun Ekosistem Pelabuhan yang Berkelanjutan
IPCM berkomitmen mengedepankan prinsip ESG dalam menjalankan operasi maupun bisnis maritim sebagai upaya membangun ekosistem pelabuhan yang berkelanjutan. Foto/Istimewa
Comment
Share
JAKARTA - Sebuah kapal tidak pernah benar-benar bergerak sendirian ketika memasuki atau meninggalkan pelabuhan. Di ruang sempit antara kapal, dermaga dan alur pelayaran, ada kapal pandu yang mengarahkan manuver dan kapal tunda yang memastikan kapal bergerak aman.

Pekerjaan itu berlangsung cepat, presisi, dan kerap luput dari perhatian publik. Padahal, dari layanan pemanduan dan penundaan itulah denyut ekonomi maritim bergerak.

PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) mencatat sepanjang 2025, segmen jasa pelayanan kapal menyumbang sekitar 96,75 persen pendapatan perusahaan. IPCM mendata terdapat 101.544 gerakan pemanduan dengan volume 747,99 juta GT, sementara layanan penundaan mencapai 197.819 jam pelayanan atau 1,848 miliar GT-Jam.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa bisnis IPCM tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan pelabuhan yang dilayaninya. Ketika aktivitas pelabuhan berkembang dan arus logistik meningkat, tantangannya bukan sekadar menambah kapasitas layanan, tetapi bagaimana pertumbuhan itu dijalankan dengan memperhitungkan lingkungan, keselamatan manusia, masyarakat dan tata kelola.

Di titik inilah prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) mulai menemukan bentuk praktisnya dalam operasi IPCM. Nah, sebagai bagian dari Pelindo Group, perusahaan menempatkan keberlanjutan bukan semata program tambahan, tetapi sebagai bagian dari cara menjalankan bisnis.

“Kami berupaya mendukung pembentukan green port melalui armada kapal yang ramah lingkungan. Ini artinya, kami wajib memperhatikan dampak lingkungan dari pengoperasian unit kapal, baik itu emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang ditimbulkan, limbah kapal, hingga dampak lain yang wajib dipantau,” kata Direktur Utama IPCM, Shanti Puruhita, dalam laporan keberlanjutan perusahaan.

Komitmen itu diterjemahkan melalui berbagai langkah operasional. IPCM memanfaatkan panel surya pada sejumlah kapal, Biosolar B40, shore connection, teknologi inverter/hybrid, harbour generator, serta sistem anti-fouling pada lambung kapal. Pada 2025, perusahaan menginvestasikan Rp183 juta untuk pemasangan panel surya pada tiga unit kapal.

Upaya tersebut berjalan bersamaan dengan pemeliharaan armada dan pemenuhan sertifikasi pencegahan pencemaran lingkungan dari kapal. Logikanya sederhana yakni semakin besar aktivitas maritim yang dijalankan, semakin penting pula pengendalian dampak lingkungan agar keberlangsungan operasi dapat dipertahankan.

Skala operasional IPCM memang terus berkembang. Pada akhir 2025, perusahaan mengoperasikan 68 kapal tunda, 30 kapal pandu dan lima kapal kepil. Wilayah operasinya mencakup 11 pelabuhan umum Pelindo Regional 2, tujuh wilayah pelimpahan BUP IPCM dan tujuh kerja sama operasi.

Namun, kapal hanyalah salah satu bagian dari keberlanjutan. Di balik setiap layanan terdapat manusia yang bekerja dengan tuntutan keselamatan dan ketepatan tinggi. Karena itu, IPCM juga memasukkan kesejahteraan, pengembangan kompetensi, keselamatan dan kesehatan kerja, serta inklusi ke dalam agenda sosial perusahaan.

IPCM dan Jalan Panjang Membangun Ekosistem Pelabuhan yang Berkelanjutan

Salah satu wujudnya adalah Srikandi Maritim IPCM, program yang membuka kesempatan bagi perempuan untuk menjadi awak kapal tunda. Inisiatif tersebut membawa isu kesetaraan gender ke ruang operasional yang selama ini identik dengan dominasi laki-laki.

“Program Srikandi Maritim IPCM bukan sekadar simbol, tetapi merupakan aksi nyata perusahaan dalam membuka ruang yang setara bagi perempuan untuk berkembang dan berkontribusi di sektor strategis. Kami percaya bahwa keberagaman akan memperkuat kinerja dan daya saing perusahaan,” ujar Shanti.

Ketua Umum Women in Maritime Association Indonesia (WIMA INA), Chandra Motik, mengapresiasi IPCM atas peluncuran program Srikandi Maritim. Ia menilai keterlibatan perempuan di sektor operasional maritim menunjukkan bahwa transformasi industri juga menyangkut perubahan kesempatan di dalamnya.

“Langkah IPCM ini merupakan contoh nyata bagaimana industri maritim mulai membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan. Kehadiran Srikandi Maritim tidak hanya memperkuat kesetaraan gender, tetapi juga membuktikan bahwa perempuan memiliki kompetensi dan ketangguhan untuk berkontribusi langsung di sektor yang selama ini didominasi laki-laki,” kata dia.

Perspektif tersebut memperluas makna ESG. Keberlanjutan bukan hanya tentang menurunkan emisi atau menghemat bahan bakar, tetapi juga memastikan orang-orang yang menjalankan bisnis memiliki ruang untuk tumbuh dan berkontribusi secara adil.

Dari tempat kerja, perhatian IPCM juga bergerak ke lingkungan sosial di sekitar operasi. Perusahaan menjalankan program tanggung jawab sosial dan lingkungan melalui bidang pendidikan, kesehatan, bantuan sosial, pengembangan UMKM, hingga pelestarian lingkungan.

IPCM dan Jalan Panjang Membangun Ekosistem Pelabuhan yang Berkelanjutan

Salah satu program lingkungan diwujudkan IPCM bersama PT Energi Pelabuhan Indonesia melalui penanaman 2.000 pohon mangrove jenis Rhizophora mucronata di Pantai Bahagia, Kabupaten Bekasi. Kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu pengendalian abrasi dan menjaga ekosistem pesisir.

“Menjaga keseimbangan dan kelestarian ekosistem laut menjadi bagian penting dalam mendukung aktivitas bisnis perusahaan. Kolaborasi penanaman mangrove ini menjadi sebuah cerminan sinergi positif antar-anak usaha Pelindo Group untuk menciptakan dampak nyata bagi lingkungan dan masyarakat pesisir,” ujar Deputy Vice President Komunikasi Perusahaan, GCG dan CSR IPCM Ridwan Budiman.

IPCM juga mencatat penyaluran dana CSR sekitar Rp1,32 miliar. Program tersebut mencakup pemberdayaan masyarakat dan berbagai kegiatan sosial yang diarahkan untuk menciptakan nilai tambah di sekitar wilayah operasi.

Pada akhirnya, hubungan antara operasi dan masyarakat menjadi bagian penting dari keberlanjutan bisnis. IPCM berkomitmen untuk terus memitigasi dampak sosial dari aktivitas operasional serta membangun hubungan dengan masyarakat di sekitar wilayah kerja.

Sementara itu, aspek tata kelola menjadi fondasi agar agenda lingkungan dan sosial berjalan secara konsisten. IPCM memperkuat penerapan Good Corporate Governance melalui sistem manajemen terintegrasi, transparansi, pelaporan keberlanjutan dan pengembangan kapasitas ESG.

Berdasarkan penilaian eksternal menggunakan ASEAN Corporate Governance Scorecard (ACGS), IPCM memperoleh skor 124,67 pada 2025 dan berada dalam kategori Leadership in Corporate Governance. Capaian tersebut melengkapi upaya perusahaan mengintegrasikan aspek lingkungan dan sosial dengan tata kelola.

Ke depan, IPCM menyiapkan roadmap keberlanjutan yang mencakup pengurangan jejak karbon, identifikasi isu material, indikator kinerja utama serta rencana aksi bertahap. Dengan peta jalan tersebut, keberlanjutan diarahkan menjadi bagian yang semakin terukur dalam pengambilan keputusan bisnis. Langkah itu tentunya menjadi relevan ketika IPCM terus memperluas wilayah dan kapasitas layanan.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru