RUPSLB Telkom Setujui Spin-Off InfraCo dan Tetapkan Nanang Hendarno Jadi Dirut Baru
Kamis, 01 Okt 2026 08:43
Telkom resmi memisahkan sebagian besar bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke InfraNexia. Aksi korporasi tersebut mendapat persetujuan pemegang saham independen dalam RUPSLB Telkom. Foto/IST
JAKARTA - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) resmi memisahkan sebagian besar bisnis dan aset wholesale fiber connectivity ke PT Telkom Infrastruktur Indonesia (InfraNexia). Aksi korporasi tersebut mendapat persetujuan pemegang saham independen dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Telkom yang digelar secara daring, Rabu (30/9).
Persetujuan ini menjadi tahapan penting dalam pembentukan InfraNexia sebagai operating company yang secara khusus mengelola bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup. Melalui konsolidasi tersebut, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom kini berada di bawah pengelolaan InfraNexia.
Sebagai transaksi afiliasi yang diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan, pelaksanaan spin-off telah memenuhi ketentuan kuorum dan memperoleh persetujuan mayoritas pemegang saham independen.
Pembentukan InfraNexia merupakan bagian dari implementasi strategi TLKM 30 untuk mendorong monetisasi aset bernilai tinggi sekaligus memperluas peluang kemitraan strategis. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari transformasi Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding dengan model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo).
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan persetujuan pemegang saham terhadap spin-off InfraCo menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus sekaligus memberikan ruang bagi InfraNexia untuk mengembangkan bisnis infrastruktur secara lebih optimal.
“Atas nama direksi Perseroan, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan yang senantiasa menyertai perjalanan transformasi Telkom. Kepercayaan yang diberikan kepada Telkom atas Spin-Off InfraCo ini menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus, sekaligus memberi ruang dan fleksibilitas bagi InfraNexia untuk berkembang lebih optimal,” ujar Nanang.
Menurut dia, transformasi tersebut diarahkan untuk memberikan dampak terhadap kinerja dan penciptaan nilai perusahaan sekaligus memperbesar kontribusi TelkomGroup terhadap pengembangan ekosistem digital Indonesia.
Selain menyetujui spin-off InfraCo, RUPSLB juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi Telkom. Salah satunya adalah penunjukan Direktur Utama alias dirut yang baru yakni Nanang Hendarno menggantikan Dian Siswarini. Perubahan tersebut menjadi bagian dari penguatan tata kelola dan dukungan terhadap agenda transformasi TLKM 30.
Dewan Komisaris Telkom
Komisaris Utama: Angga Raka Prabowo
Komisaris: Ossy Darmawan
Komisaris: Rizal Mallarangeng
Komisaris: Edwin Hidayat Abdullah
Komisaris Independen: Rofikoh Rokhim
Komisaris Independen: Anthony Leong
Komisaris Independen: Deswandhy Agusman
Komisaris Independen: Ira Noviarti
Direksi Telkom
Direktur Utama: Nanang Hendarno
Direktur Enterprise & Business Service: Veranita Yosephine
Direktur Human Capital Management: Willy Saelan
Direktur Keuangan & Manajemen Risiko: Arthur Angelo Syailendra
Direktur Network: Budi Satria Dharma Purba
Direktur Strategic Business Development & Portfolio: Seno Soemadji
Direktur Wholesale & International Service: Radita Ali Putra
Direktur IT Digital: Kharim I. G. Siregar
Direktur Legal & Compliance: Andy Kelana
InfraNexia Kelola Lebih dari 90 Persen Aset Infrastruktur
Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia menandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) sebagai salah satu milestone penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2. Akta tersebut ditandatangani Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf di Telkom Landmark Tower, Jakarta.
Melalui tahapan tersebut, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom resmi dikonsolidasikan ke InfraNexia. Konsolidasi ini memperkuat skala InfraNexia sebagai perusahaan penyedia infrastruktur digital berbasis wholesale dengan cakupan jaringan di berbagai wilayah Indonesia.
Secara keseluruhan, jaringan yang dikelola mencakup sekitar 112.000 kilometer serat optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik. Total nilai transaksi dalam aksi korporasi tersebut mencapai sekitar Rp85,7 triliun.
Nanang mengatakan, InfraNexia diarahkan untuk mempertajam fokus bisnis dan meningkatkan produktivitas aset infrastruktur. Dengan pengelolaan yang lebih terfokus, perusahaan diharapkan dapat meningkatkan kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup.
“Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri. Langkah ini menjadi bagian dari upaya TelkomGroup membangun bisnis agar semakin fokus, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai yang jauh lebih besar dari tiap aset strategis yang dimiliki,” kata Nanang.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menambahkan, konsolidasi aset memberikan ruang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan sekaligus memperluas kolaborasi dalam ekosistem digital nasional.
“Skala infrastruktur yang semakin besar memberi kami fleksibilitas untuk menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi berbagai kebutuhan pelanggan. Fokus kami bukan hanya memperluas pemanfaatan aset, tetapi memastikan infrastruktur yang kami miliki dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan lebih banyak mitra dan layanan digital,” ujar Seno.
Pasca-konsolidasi, InfraNexia mengelola jaringan serat optik yang terhubung melalui infrastruktur darat dan laut, dengan dukungan empat area, 12 regional, dan 61 distrik di seluruh Indonesia. Cakupan tersebut menjadi fondasi bagi operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, data center, serta berbagai pelaku industri untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas jangkauan layanan.
Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan, fase baru ini memperkuat peran perusahaan dalam mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka, terintegrasi, dan dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai pelaku industri.
“Indonesia membutuhkan AI Ready Infrastructure yang mampu berkembang seiring kebutuhan industri dan teknologi. Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan scalable, kami ingin menghadirkan fondasi yang dapat mendukung pertumbuhan AI, cloud, data center, serta berbagai inovasi digital lainnya di masa depan,” kata Lukman.
Menurut dia, penguatan infrastruktur juga diharapkan membuka ruang bagi mitra untuk memperluas layanan dan menciptakan peluang pertumbuhan tanpa harus membangun seluruh infrastrukturnya secara mandiri.
InfraNexia menjalankan model bisnis berbasis prinsip carrier-neutral dan open-access melalui dua lini utama, yakni Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx. Portofolionya mencakup layanan konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, hingga pemanfaatan infrastruktur pasif bersama yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas, cakupan, dan model bisnis pelanggan.
Sejalan dengan penguatan skala bisnis, InfraNexia juga mempercepat modernisasi operasi jaringan melalui otomasi, integrasi sistem, serta pengembangan kapabilitas autonomous network. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan keandalan layanan, efisiensi operasional, dan kemampuan jaringan dalam merespons pertumbuhan kebutuhan pelanggan.
Dengan skala jaringan nasional, model bisnis terbuka, dan pengelolaan yang semakin terintegrasi, InfraNexia diarahkan untuk memperkuat perannya sebagai penyedia infrastruktur yang mendukung pertumbuhan ekosistem digital Indonesia.
“InfraNexia dengan semangat Flowing Through Nusantara merefleksikan bagaimana infrastruktur kami akan terus menghubungkan wilayah, industri, dan berbagai peluang pertumbuhan di seluruh Indonesia. Semangat ini menjadi pengingat bahwa setiap pengembangan yang kami lakukan harus memberikan ruang bagi konektivitas dan ekosistem digital untuk terus bertumbuh,” tutup Lukman.
Persetujuan ini menjadi tahapan penting dalam pembentukan InfraNexia sebagai operating company yang secara khusus mengelola bisnis infrastruktur jaringan TelkomGroup. Melalui konsolidasi tersebut, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan Telkom kini berada di bawah pengelolaan InfraNexia.
Sebagai transaksi afiliasi yang diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor 42/POJK.04/2020 tentang Transaksi Afiliasi dan Benturan Kepentingan, pelaksanaan spin-off telah memenuhi ketentuan kuorum dan memperoleh persetujuan mayoritas pemegang saham independen.
Pembentukan InfraNexia merupakan bagian dari implementasi strategi TLKM 30 untuk mendorong monetisasi aset bernilai tinggi sekaligus memperluas peluang kemitraan strategis. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari transformasi Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding dengan model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo).
Direktur Utama Telkom, Nanang Hendarno, mengatakan persetujuan pemegang saham terhadap spin-off InfraCo menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus sekaligus memberikan ruang bagi InfraNexia untuk mengembangkan bisnis infrastruktur secara lebih optimal.
“Atas nama direksi Perseroan, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang tinggi kepada pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan yang senantiasa menyertai perjalanan transformasi Telkom. Kepercayaan yang diberikan kepada Telkom atas Spin-Off InfraCo ini menjadi langkah penting untuk membangun struktur bisnis yang lebih fokus, sekaligus memberi ruang dan fleksibilitas bagi InfraNexia untuk berkembang lebih optimal,” ujar Nanang.
Menurut dia, transformasi tersebut diarahkan untuk memberikan dampak terhadap kinerja dan penciptaan nilai perusahaan sekaligus memperbesar kontribusi TelkomGroup terhadap pengembangan ekosistem digital Indonesia.
Selain menyetujui spin-off InfraCo, RUPSLB juga menyetujui perubahan susunan Dewan Komisaris dan Direksi Telkom. Salah satunya adalah penunjukan Direktur Utama alias dirut yang baru yakni Nanang Hendarno menggantikan Dian Siswarini. Perubahan tersebut menjadi bagian dari penguatan tata kelola dan dukungan terhadap agenda transformasi TLKM 30.
Dewan Komisaris Telkom
Komisaris Utama: Angga Raka Prabowo
Komisaris: Ossy Darmawan
Komisaris: Rizal Mallarangeng
Komisaris: Edwin Hidayat Abdullah
Komisaris Independen: Rofikoh Rokhim
Komisaris Independen: Anthony Leong
Komisaris Independen: Deswandhy Agusman
Komisaris Independen: Ira Noviarti
Direksi Telkom
Direktur Utama: Nanang Hendarno
Direktur Enterprise & Business Service: Veranita Yosephine
Direktur Human Capital Management: Willy Saelan
Direktur Keuangan & Manajemen Risiko: Arthur Angelo Syailendra
Direktur Network: Budi Satria Dharma Purba
Direktur Strategic Business Development & Portfolio: Seno Soemadji
Direktur Wholesale & International Service: Radita Ali Putra
Direktur IT Digital: Kharim I. G. Siregar
Direktur Legal & Compliance: Andy Kelana
InfraNexia Kelola Lebih dari 90 Persen Aset Infrastruktur
Pada hari yang sama, Telkom dan InfraNexia menandatangani akta pemisahan (deed of spin-off) sebagai salah satu milestone penyelesaian Spin-Off InfraCo Tahap 2. Akta tersebut ditandatangani Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno dan Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf di Telkom Landmark Tower, Jakarta.
Melalui tahapan tersebut, lebih dari 90 persen aset infrastruktur jaringan yang sebelumnya berada di bawah Telkom resmi dikonsolidasikan ke InfraNexia. Konsolidasi ini memperkuat skala InfraNexia sebagai perusahaan penyedia infrastruktur digital berbasis wholesale dengan cakupan jaringan di berbagai wilayah Indonesia.
Secara keseluruhan, jaringan yang dikelola mencakup sekitar 112.000 kilometer serat optik, termasuk 26.000 kilometer Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) domestik. Total nilai transaksi dalam aksi korporasi tersebut mencapai sekitar Rp85,7 triliun.
Nanang mengatakan, InfraNexia diarahkan untuk mempertajam fokus bisnis dan meningkatkan produktivitas aset infrastruktur. Dengan pengelolaan yang lebih terfokus, perusahaan diharapkan dapat meningkatkan kontribusi pasar eksternal terhadap pendapatan segmen B2B Infrastructure TelkomGroup.
“Dengan skala dan fokus yang semakin solid, InfraNexia diharapkan mampu mengelola infrastruktur secara lebih optimal sekaligus membuka pemanfaatannya bagi lebih banyak pelaku industri. Langkah ini menjadi bagian dari upaya TelkomGroup membangun bisnis agar semakin fokus, kompetitif, dan mampu menciptakan nilai yang jauh lebih besar dari tiap aset strategis yang dimiliki,” kata Nanang.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji menambahkan, konsolidasi aset memberikan ruang lebih luas bagi InfraNexia untuk meningkatkan utilisasi jaringan sekaligus memperluas kolaborasi dalam ekosistem digital nasional.
“Skala infrastruktur yang semakin besar memberi kami fleksibilitas untuk menghadirkan solusi yang lebih relevan bagi berbagai kebutuhan pelanggan. Fokus kami bukan hanya memperluas pemanfaatan aset, tetapi memastikan infrastruktur yang kami miliki dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan lebih banyak mitra dan layanan digital,” ujar Seno.
Pasca-konsolidasi, InfraNexia mengelola jaringan serat optik yang terhubung melalui infrastruktur darat dan laut, dengan dukungan empat area, 12 regional, dan 61 distrik di seluruh Indonesia. Cakupan tersebut menjadi fondasi bagi operator telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan cloud, data center, serta berbagai pelaku industri untuk meningkatkan kapasitas dan memperluas jangkauan layanan.
Direktur Utama InfraNexia Lukman Hakim Abd. Rauf mengatakan, fase baru ini memperkuat peran perusahaan dalam mengembangkan jaringan nasional sebagai AI Ready Infrastructure yang terbuka, terintegrasi, dan dapat dimanfaatkan bersama oleh berbagai pelaku industri.
“Indonesia membutuhkan AI Ready Infrastructure yang mampu berkembang seiring kebutuhan industri dan teknologi. Dengan jaringan yang semakin terintegrasi dan scalable, kami ingin menghadirkan fondasi yang dapat mendukung pertumbuhan AI, cloud, data center, serta berbagai inovasi digital lainnya di masa depan,” kata Lukman.
Menurut dia, penguatan infrastruktur juga diharapkan membuka ruang bagi mitra untuk memperluas layanan dan menciptakan peluang pertumbuhan tanpa harus membangun seluruh infrastrukturnya secara mandiri.
InfraNexia menjalankan model bisnis berbasis prinsip carrier-neutral dan open-access melalui dua lini utama, yakni Wholesale Connectivity dan Wholesale FTTx. Portofolionya mencakup layanan konektivitas berkapasitas tinggi, akses jaringan, hingga pemanfaatan infrastruktur pasif bersama yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan kapasitas, cakupan, dan model bisnis pelanggan.
Sejalan dengan penguatan skala bisnis, InfraNexia juga mempercepat modernisasi operasi jaringan melalui otomasi, integrasi sistem, serta pengembangan kapabilitas autonomous network. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan keandalan layanan, efisiensi operasional, dan kemampuan jaringan dalam merespons pertumbuhan kebutuhan pelanggan.
Dengan skala jaringan nasional, model bisnis terbuka, dan pengelolaan yang semakin terintegrasi, InfraNexia diarahkan untuk memperkuat perannya sebagai penyedia infrastruktur yang mendukung pertumbuhan ekosistem digital Indonesia.
“InfraNexia dengan semangat Flowing Through Nusantara merefleksikan bagaimana infrastruktur kami akan terus menghubungkan wilayah, industri, dan berbagai peluang pertumbuhan di seluruh Indonesia. Semangat ini menjadi pengingat bahwa setiap pengembangan yang kami lakukan harus memberikan ruang bagi konektivitas dan ekosistem digital untuk terus bertumbuh,” tutup Lukman.
(TRI)
Berita Terkait
Ekbis
BATIC 2026 Buka Babak Baru Transformasi Digital Asia Pasifik
Memasuki tahun ke-11, BATIC 2026 digelar pada 24–28 Agustus 2026 di Bali International Convention Center (BICC), The Westin Resort Nusa Dua, Bali.
Rabu, 26 Agu 2026 19:14
News
Konektivitas NTT Kembali Normal, TelkomGroup Lanjutkan Bantuan Kemanusiaan
Tiga hari setelah gempa bumi melanda sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), TelkomGroup menuntaskan pemulihan 100% layanan telekomunikasi dan digital yang terdampak.
Rabu, 19 Agu 2026 14:24
News
TelkomGroup Hadirkan Internet Gratis di Posko Pengungsian NTT
TelkomGroup menghadirkan berbagai dukungan konektivitas di titik-titik strategis dan memastikan masyarakat memiliki akses komunikasi yang dapat diandalkan.
Senin, 17 Agu 2026 20:21
News
85% Konektivitas Pulih, TelkomGroup Percepat Perbaikan Layanan Pascagempa NTT
Saat ini, sebanyak 85% dari total 735 site BTS Telkomsel telah kembali beroperasi. Pemulihan terhadap site yang masih terdampak terus dilakukan secara bertahap.
Minggu, 16 Agu 2026 21:29
News
Layanan Terdampak Gempa, TelkomGroup Kebut Pemulihan Jaringan di Flores
TelkomGroup memastikan upaya pemulihan terus dilakukan dengan mengedepankan percepatan perbaikan dan penguatan operasional jaringan pascagempa di Flores.
Minggu, 16 Agu 2026 09:54
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
WR IV UMI Buka Seleksi Calon Hafizh/Hafizhah UPT PKD, 36 Mahasiswa Ikuti Seleksi
2
3 DPO Kasus Penyiraman Cabai di Jeneponto Ditangkap
3
Siswa SD Maros Juara Panahan Tradisional Sulsel
4
Beasiswa Pemkab Luwu Timur Bantu Tiga Anak Satu Keluarga Jadi Sarjana
5
Perkuat Layanan KB, BKKBN Sulsel Ajak Fasyankes Toraja Utara Penguatan Tata Kelola Alkon
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
WR IV UMI Buka Seleksi Calon Hafizh/Hafizhah UPT PKD, 36 Mahasiswa Ikuti Seleksi
2
3 DPO Kasus Penyiraman Cabai di Jeneponto Ditangkap
3
Siswa SD Maros Juara Panahan Tradisional Sulsel
4
Beasiswa Pemkab Luwu Timur Bantu Tiga Anak Satu Keluarga Jadi Sarjana
5
Perkuat Layanan KB, BKKBN Sulsel Ajak Fasyankes Toraja Utara Penguatan Tata Kelola Alkon