6 Tahun Konsisten, Kredivo Perluas Literasi Keuangan Generasi Muda Indonesia Timur

Rabu, 07 Okt 2026 16:27
6 Tahun Konsisten, Kredivo Perluas Literasi Keuangan Generasi Muda Indonesia Timur
Kredivo memperluas program edukasi finansial Generasi Djempolan ke Ambon, Maluku, untuk pertama kalinya. Foto/Istimewa
Comment
Share
AMBON - Kredivo memperluas program edukasi finansial Generasi Djempolan ke Ambon, Maluku, untuk pertama kalinya. Langkah ini menjadi bagian dari upaya memperluas literasi keuangan generasi muda di Indonesia Timur, di tengah pertumbuhan penggunaan layanan buy now pay later (BNPL) di Indonesia.

Program yang memasuki tahun keenam sejak 2020 tersebut menyasar mahasiswa Universitas Pattimura dengan tema “Jago Atur Keuangan, Siap Hadapi Masa Depan”. Sebelumnya, Generasi Djempolan telah hadir di sejumlah kota, termasuk Makassar, Kupang, Manado, Pontianak, Palu, Banjarmasin, Semarang, Solo, Jakarta, Batam, dan Bandung.

Perluasan edukasi dinilai penting seiring pertumbuhan pembiayaan BNPL yang mencapai Rp31,56 triliun per Juli 2026. Pada periode yang sama, jumlah rekening BNPL secara nasional mencapai 33,55 juta akun atau tumbuh 33,54 persen secara tahunan.

Chief Marketing Officer Kredivo, Indina Andamari, mengatakan literasi keuangan perlu menjadi fondasi sebelum generasi muda menggunakan layanan keuangan digital. Menurut dia, Indonesia Timur memiliki potensi ekonomi digital dan populasi muda yang besar sehingga pertumbuhan tersebut perlu diiringi kemampuan mengelola keuangan secara bijak.

“Selama enam tahun terakhir, kami percaya bahwa literasi keuangan adalah fondasi utama sebelum generasi muda mengakses layanan keuangan digital. Indonesia Timur adalah kawasan dengan potensi ekonomi digital yang terus tumbuh dan populasi muda yang besar, sehingga penting bagi kami untuk hadir dan memastikan momentum pertumbuhan ini dibarengi kesiapan literasi yang memadai,” ujar Indina.

Dalam program tersebut, Kredivo memperkenalkan tiga prinsip pengelolaan keuangan bagi generasi muda, yakni set priority untuk menentukan prioritas dan batas pengeluaran sesuai kemampuan, value over price untuk memahami nilai sebuah pengeluaran, serta best of both worlds agar generasi muda mampu menjadi pengguna teknologi sekaligus pengelola keuangan yang cakap.

Berdasarkan Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi Kredivo bersama Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LD FEB UI), sebanyak 65,7 persen pengguna Kredivo tergolong well-literate secara finansial. Laporan yang sama mencatat 57 persen pengguna Kredivo merupakan generasi muda, sementara rata-rata Debt-to-Income Ratio berada pada kisaran 10–19 persen dari total pendapatan.

Di Ambon, pertumbuhan pengguna aktif Kredivo tercatat mencapai 4,5 kali lipat sepanjang 2022–2025, dengan mayoritas berasal dari kelompok usia produktif 26–35 tahun. Menurut Kredivo, tren tersebut menunjukkan potensi pertumbuhan ekosistem keuangan digital di Ambon dan kawasan Indonesia Timur.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pattimura, Evelin Watumlawar, mengatakan mahasiswa perlu memahami pengelolaan keuangan sejak dini, terutama di tengah tren YOLO dan FOMO. Menurut dia, penggunaan layanan keuangan digital harus diiringi kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan serta memahami batas kemampuan membayar.

“Generasi muda hari ini punya akses keuangan digital paling luas sepanjang sejarah. Tapi akses tanpa kendali sama saja jebakan. Kuncinya bukan menahan diri dari hidup enak, tapi tahu batas aman untuk kantong sendiri, dan memastikan fintech dipakai untuk membantu, bukan justru membebani,” kata Evelin.

Untuk menghindari risiko utang, mahasiswa didorong memperhatikan legalitas penyedia layanan keuangan, menggunakan pinjaman sesuai kebutuhan, menyusun anggaran bulanan, memantau arus kas, menerapkan mindful spending, serta tidak mudah terpengaruh tren di media sosial. Melalui Generasi Djempolan, Kredivo berharap edukasi tersebut dapat membantu generasi muda menjadi konsumen digital yang lebih cerdas dan bertanggung jawab.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru