Hadapi El Nino, LAZ Hadji Kalla Dorong Petani Diversifikasi Usaha

Kamis, 15 Okt 2026 21:41
Hadapi El Nino, LAZ Hadji Kalla Dorong Petani Diversifikasi Usaha
Program Manager Bidang Community & Development Care (Comdev) LAZ Hadji Kalla, Erny Rachmi Nurdin, mengunjungi beberapa titik demplot petani di desa binaan di Kabupaten Parigi Moutong. Foto/IST
Comment
Share
PARIGI MOUTONG - Ketika kemarau panjang mengancam produktivitas pertanian, diversifikasi usaha menjadi salah satu cara petani menjaga pendapatan keluarga. Melalui program Desa Bangkit Sejahtera (DBS), Lembaga Amil Zakat (LAZ) Hadji Kalla mendorong masyarakat di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mengembangkan usaha alternatif agar tidak bergantung pada satu komoditas pertanian.

Program Manager Bidang Community and Development Care (Comdev) LAZ Hadji Kalla, Erny Rachmi Nurdin, mengatakan fenomena El Nino menjadi tantangan sekaligus momentum bagi masyarakat untuk beradaptasi dengan perubahan iklim. Ketergantungan pada satu jenis usaha membuat petani lebih rentan ketika kekeringan mengganggu produktivitas tanaman dan ketersediaan air.

“Ketika terjadi El Nino berupa kemarau yang panjang, kelompok masyarakat yang sebelumnya fokus melakukan budi daya komoditas pertanian ataupun perkebunan menghadapi tantangan karena kondisi kekeringan dan debit sumber air yang menurun drastis,” kata Erny.

Karena itu, LAZ Hadji Kalla mendorong masyarakat menggali potensi usaha lain yang sesuai dengan kondisi wilayah. Dengan begitu, sumber penghasilan keluarga tidak hanya bergantung pada kegiatan budi daya pertanian dan perkebunan.

Melalui program DBS, petani dan kelompok masyarakat didampingi untuk mengembangkan usaha yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui budi daya komoditas seperti mentimun dan kacang panjang, serta pengembangan kakao.

Selain sektor pertanian, masyarakat juga didorong mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi. Di antaranya, pemanfaatan daun kelapa untuk membuat sapu lidi dan piring lidi, serta pembentukan kelompok usaha rumahan yang memproduksi suvenir berupa celengan karakter.

Diversifikasi usaha tersebut diharapkan dapat memperluas sumber pendapatan keluarga sekaligus menjaga produktivitas masyarakat ketika kondisi cuaca tidak mendukung kegiatan pertanian.

Program DBS telah berjalan selama dua tahun terakhir di tiga desa di Kabupaten Parigi Moutong, yakni Desa Ta’aniuge di Kecamatan Tomini, Desa Baina’a Barat, serta Desa Ambason Mekar di Kecamatan Tinombo.

Kepala Desa Ambason Mekar, Abdul Aziz E. Hamu, mengapresiasi pendampingan yang diberikan LAZ Hadji Kalla. Menurut dia, program tersebut tidak hanya menambah pengetahuan dan keterampilan warga, tetapi juga memberikan dampak terhadap pendapatan kelompok masyarakat penerima manfaat.

“Saya selaku Kepala Desa Ambason Mekar sangat bersyukur dan berterima kasih kepada LAZ Hadji Kalla yang telah banyak menjalankan kegiatan-kegiatan pemberdayaan masyarakat di desa kami selama ini,” ujar Abdul Aziz.

Ia berharap semakin banyak desa yang memperoleh pendampingan serupa. Abdul Aziz juga berharap masyarakat dapat melanjutkan program secara mandiri setelah masa pendampingan berakhir.

“Semoga semakin banyak desa yang akan mendapatkan pendampingan dari LAZ Hadji Kalla di waktu mendatang dan semoga kami juga akan selalu dapat melanjutkan programnya secara mandiri, walaupun desa kami sudah tidak didampingi lagi,” katanya.

Program Desa Bangkit Sejahtera dirancang untuk mendorong kemandirian masyarakat melalui peningkatan keterampilan dan pengembangan sumber penghasilan yang beragam. Dengan pendekatan tersebut, pemberdayaan diharapkan tidak berhenti ketika pendampingan berakhir, tetapi menjadi bekal bagi masyarakat untuk menghadapi tantangan ekonomi dan perubahan kondisi lingkungan.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru