Makkunrai Arts Academy Cetak Fasilitator Muda Pewaris Budaya Maritim
Senin, 22 Jun 2026 11:23
Kegiatan Makkunrai Arts Academy Batch 2 di Kawasan Rentan TPA Antang. Foto: Istimewa
MAKASSAR - Makkunrai Arts Academy Batch 2 menghadirkan kisah inspiratif dalam upaya pelestarian budaya. Sejumlah peserta yang pada tahun lalu mengikuti program sebagai siswa, kini kembali sebagai fasilitator muda yang mengajarkan Tari Padduppa kepada adik-adik mereka.
Transformasi tersebut menjadi salah satu capaian utama program yang digagas oleh Director Makkunrai Institute, Nurhikmah, melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Sulawesi Selatan.
Mengusung tema Warisan Budaya Maritim, program bertajuk Pendokumentasian dan Aktivasi Seni Tradisi Maritim bagi Anak Perempuan dari Kawasan Rentan TPA Antang ini berlangsung pada 8–21 Juni 2026 dan melibatkan 20 anak perempuan dari SD Inpres Bangkala 3 dan SDN Tello Baru 2.
Menurut Nurhikmah, keberhasilan program tidak hanya diukur dari kemampuan peserta menampilkan seni, tetapi juga dari tumbuhnya generasi muda yang mampu meneruskan pengetahuan budaya kepada orang lain.
"Yang paling membahagiakan bagi kami bukan hanya melihat anak-anak mampu menari atau tampil di atas panggung, tetapi ketika mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu mengajarkan kembali apa yang telah dipelajarinya kepada orang lain. Di situlah proses pewarisan budaya benar-benar terjadi," ujar Nurhikmah, Senin (22/6/2026).
Makkunrai Arts Academy Batch 2 merupakan pengembangan dari Kelas Seni Makkunrai 2025. Jika pada pelaksanaan sebelumnya program berfokus pada pengenalan seni dan budaya, tahun ini peserta memperoleh pembelajaran yang lebih komprehensif melalui asesmen potensi seni, pendampingan sesuai minat dan bakat, penguatan karakter, hingga praktik berbagi pengetahuan antargenerasi.
Seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti asesmen untuk memetakan kemampuan artistik masing-masing. Hasil asesmen menjadi dasar dalam memberikan pendampingan yang lebih sesuai dengan potensi setiap peserta.
Program ini juga menerapkan pendekatan BUMA (Budaya Makkunrai) Art Integrated Formula, metode pendidikan karakter berbasis seni yang dikembangkan oleh Nurhikmah.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran seni tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai budaya dan karakter.
Pelaksanaan kegiatan didukung delapan fasilitator serta dua narasumber dari kalangan pendidik dan praktisi seni, di antaranya Kepala SD Inpres Bangkala 3 Muh. Faisal, guru SDN Tello Baru 2 Rahmawati Sasmedi, serta praktisi seni Nur Asrinah yang juga bertindak sebagai sekretaris program.
Muh. Faisal menilai keterlibatan alumni sebagai fasilitator muda menjadi bukti nyata keberhasilan program dalam membangun karakter peserta.
"Kami melihat anak-anak yang sebelumnya belajar sebagai peserta kini memiliki keberanian dan kemampuan mendampingi teman-temannya. Mereka tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga belajar bertanggung jawab dan berbagi dengan orang lain," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendidikan karakter melalui seni memberikan dampak positif terhadap perkembangan peserta.
"Program ini menunjukkan bahwa seni bukan sekadar aktivitas ekstrakurikuler. Seni menjadi sarana membangun kepercayaan diri, kedisiplinan, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Perubahan itu kami lihat secara langsung pada peserta," katanya.
Sebagai bagian dari proses pembelajaran, peserta menampilkan hasil latihan dalam Resital Karya Seni pada 16 Juni 2026 yang dihadiri guru, orang tua, keluarga peserta, dan masyarakat.
Sementara pada penutupan kegiatan, 21 Juni 2026, seluruh peserta dan fasilitator menerima sertifikat yang diserahkan oleh Nurhikmah selaku inisiator program, Nurabdiansyah selaku Pembina Makkunrai Institute, dan Muh. Faisal selaku Kepala SD Inpres Bangkala 3.
Peserta juga memperoleh Piagam Karakter Budaya Maritim berdasarkan karakter yang paling menonjol selama mengikuti program, seperti Malempu (jujur), Magetteng (teguh pendirian), Warani (berani), Macca (cerdas), Matinulu (rajin), Alusu (santun), Mamasemase (berempati), Masengereng (menyenangkan), Makkatutu (teliti), dan Masumange (penuh semangat).
Tidak berhenti sampai di situ, para peserta juga akan tampil dalam Makkunrai Art Festival 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang. Melalui festival tersebut, mereka akan berinteraksi dengan seniman, pegiat budaya, akademisi, serta jejaring internasional yang terlibat dalam berbagai program pemajuan kebudayaan.
Nurhikmah berharap pengalaman tampil di ruang publik dapat memperkuat rasa percaya diri sekaligus membuka wawasan peserta.
"Kami ingin anak-anak merasakan bahwa proses belajar mereka tidak berhenti di ruang kelas. Mereka berhak mendapatkan pengalaman tampil di ruang publik, bertemu banyak orang, dan menyadari bahwa budaya yang mereka pelajari memiliki nilai yang dihargai masyarakat. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi masa depan mereka," tuturnya.
Melalui Makkunrai Arts Academy, Makkunrai Institute tidak hanya menghadirkan ruang belajar seni, tetapi juga membangun ekosistem pewarisan budaya yang berkelanjutan. Keterlibatan alumni sebagai fasilitator muda menjadi bukti bahwa budaya dapat terus hidup ketika generasi penerus diberi ruang untuk belajar, mengajar, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya
Transformasi tersebut menjadi salah satu capaian utama program yang digagas oleh Director Makkunrai Institute, Nurhikmah, melalui Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Sulawesi Selatan.
Mengusung tema Warisan Budaya Maritim, program bertajuk Pendokumentasian dan Aktivasi Seni Tradisi Maritim bagi Anak Perempuan dari Kawasan Rentan TPA Antang ini berlangsung pada 8–21 Juni 2026 dan melibatkan 20 anak perempuan dari SD Inpres Bangkala 3 dan SDN Tello Baru 2.
Menurut Nurhikmah, keberhasilan program tidak hanya diukur dari kemampuan peserta menampilkan seni, tetapi juga dari tumbuhnya generasi muda yang mampu meneruskan pengetahuan budaya kepada orang lain.
"Yang paling membahagiakan bagi kami bukan hanya melihat anak-anak mampu menari atau tampil di atas panggung, tetapi ketika mereka tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan mampu mengajarkan kembali apa yang telah dipelajarinya kepada orang lain. Di situlah proses pewarisan budaya benar-benar terjadi," ujar Nurhikmah, Senin (22/6/2026).
Makkunrai Arts Academy Batch 2 merupakan pengembangan dari Kelas Seni Makkunrai 2025. Jika pada pelaksanaan sebelumnya program berfokus pada pengenalan seni dan budaya, tahun ini peserta memperoleh pembelajaran yang lebih komprehensif melalui asesmen potensi seni, pendampingan sesuai minat dan bakat, penguatan karakter, hingga praktik berbagi pengetahuan antargenerasi.
Seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti asesmen untuk memetakan kemampuan artistik masing-masing. Hasil asesmen menjadi dasar dalam memberikan pendampingan yang lebih sesuai dengan potensi setiap peserta.
Program ini juga menerapkan pendekatan BUMA (Budaya Makkunrai) Art Integrated Formula, metode pendidikan karakter berbasis seni yang dikembangkan oleh Nurhikmah.
Melalui pendekatan tersebut, pembelajaran seni tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan nilai-nilai budaya dan karakter.
Pelaksanaan kegiatan didukung delapan fasilitator serta dua narasumber dari kalangan pendidik dan praktisi seni, di antaranya Kepala SD Inpres Bangkala 3 Muh. Faisal, guru SDN Tello Baru 2 Rahmawati Sasmedi, serta praktisi seni Nur Asrinah yang juga bertindak sebagai sekretaris program.
Muh. Faisal menilai keterlibatan alumni sebagai fasilitator muda menjadi bukti nyata keberhasilan program dalam membangun karakter peserta.
"Kami melihat anak-anak yang sebelumnya belajar sebagai peserta kini memiliki keberanian dan kemampuan mendampingi teman-temannya. Mereka tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga belajar bertanggung jawab dan berbagi dengan orang lain," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pendidikan karakter melalui seni memberikan dampak positif terhadap perkembangan peserta.
"Program ini menunjukkan bahwa seni bukan sekadar aktivitas ekstrakurikuler. Seni menjadi sarana membangun kepercayaan diri, kedisiplinan, kepemimpinan, dan kepedulian sosial. Perubahan itu kami lihat secara langsung pada peserta," katanya.
Sebagai bagian dari proses pembelajaran, peserta menampilkan hasil latihan dalam Resital Karya Seni pada 16 Juni 2026 yang dihadiri guru, orang tua, keluarga peserta, dan masyarakat.
Sementara pada penutupan kegiatan, 21 Juni 2026, seluruh peserta dan fasilitator menerima sertifikat yang diserahkan oleh Nurhikmah selaku inisiator program, Nurabdiansyah selaku Pembina Makkunrai Institute, dan Muh. Faisal selaku Kepala SD Inpres Bangkala 3.
Peserta juga memperoleh Piagam Karakter Budaya Maritim berdasarkan karakter yang paling menonjol selama mengikuti program, seperti Malempu (jujur), Magetteng (teguh pendirian), Warani (berani), Macca (cerdas), Matinulu (rajin), Alusu (santun), Mamasemase (berempati), Masengereng (menyenangkan), Makkatutu (teliti), dan Masumange (penuh semangat).
Tidak berhenti sampai di situ, para peserta juga akan tampil dalam Makkunrai Art Festival 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada September mendatang. Melalui festival tersebut, mereka akan berinteraksi dengan seniman, pegiat budaya, akademisi, serta jejaring internasional yang terlibat dalam berbagai program pemajuan kebudayaan.
Nurhikmah berharap pengalaman tampil di ruang publik dapat memperkuat rasa percaya diri sekaligus membuka wawasan peserta.
"Kami ingin anak-anak merasakan bahwa proses belajar mereka tidak berhenti di ruang kelas. Mereka berhak mendapatkan pengalaman tampil di ruang publik, bertemu banyak orang, dan menyadari bahwa budaya yang mereka pelajari memiliki nilai yang dihargai masyarakat. Pengalaman ini menjadi bekal penting bagi masa depan mereka," tuturnya.
Melalui Makkunrai Arts Academy, Makkunrai Institute tidak hanya menghadirkan ruang belajar seni, tetapi juga membangun ekosistem pewarisan budaya yang berkelanjutan. Keterlibatan alumni sebagai fasilitator muda menjadi bukti bahwa budaya dapat terus hidup ketika generasi penerus diberi ruang untuk belajar, mengajar, dan mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya
(MAN)
Berita Terkait
Sports
Balance Bike Makassar Siapkan Rider Cilik Menuju Kompetisi Nasional
Komunitas Balance Bike Makassar (BBM) kembali menggelar Latihan Prestasi (Latpres) sebagai upaya mempersiapkan rider cilik menuju kompetisi tingkat nasional.
Sabtu, 06 Des 2025 22:57
News
Selebrasi 12 Tahun JKOC: Wirid, Gala Dinner, hingga Rapat Kerja
Pada 6 Desember, JKOC akan menggelar hajatan besar bertajuk “Selebrasi 12 Tahun JKOC” yang dirangkaikan dengan evaluasi program 2025 serta rapat kerja 2026.
Senin, 24 Nov 2025 17:51
Sports
46 Rider Cilik Meriahkan Fun Race Balance Bike Makassar 2025
Dengan penuh semangat kebersamaan, komunitas Balance Bike Makassar (BBM) menggelar Fun Race khusus untuk para member di Tamana Tallasa City, Sabtu, 15 November 2025.
Sabtu, 15 Nov 2025 21:52
News
Asmo Sulsel Gelar Edukasi Safety Riding untuk Komunitas Dance
Kali ini, Asmo Sulsel memberikan edukasi safety riding kepada 100 anggota komunitas dance “DTeam” (Dream Team) dalam perayaan ulang tahun ke-2 mereka.
Senin, 15 Sep 2025 16:36
News
Gelar Bakti Sosial, Avoce Celebes Berbagi dengan Ojek Online & Anak Yatim di Makassar
Komunitas otomotif Toyota, Avoce Celebes (Alphard dan Vellfire Owners Club Celebes), kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap sesama dengan menggelar bakso.
Jum'at, 05 Sep 2025 19:22
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
GWC 2026 Bantu Gerakkan Pariwisata dan Ekonomi Lokal
2
Gedung Mulo Makassar Disiapkan Jadi Sekolah Unggulan Berbasis Boarding
3
Harumkan Nama Jeneponto di MTQ Sulsel, Kafilah Dapat Penghargaan
4
Makkunrai Arts Academy Cetak Fasilitator Muda Pewaris Budaya Maritim
5
Proyek Jalan 4 Lajur Atue–Malili Dimulai 2027, Tahap Pertama Telan Anggaran Rp57 Miliar
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
GWC 2026 Bantu Gerakkan Pariwisata dan Ekonomi Lokal
2
Gedung Mulo Makassar Disiapkan Jadi Sekolah Unggulan Berbasis Boarding
3
Harumkan Nama Jeneponto di MTQ Sulsel, Kafilah Dapat Penghargaan
4
Makkunrai Arts Academy Cetak Fasilitator Muda Pewaris Budaya Maritim
5
Proyek Jalan 4 Lajur Atue–Malili Dimulai 2027, Tahap Pertama Telan Anggaran Rp57 Miliar