Sekolah Islam Athirah Hadirkan Kelas Pendidik dan Pemimpin di TPN XII Makassar
Senin, 30 Jun 2025 16:44
Sekolah Islam Athirah Bukit Baruga menjadi tuan rumah pelaksanaan Kelas Pendidik dan Kelas Pemimpin, bagian dari Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII Kota Makassar. Foto/Istimewa
MAKASSAR - Sekolah Islam Athirah Bukit Baruga menjadi tuan rumah pelaksanaan Kelas Pendidik dan Kelas Pemimpin, bagian dari Temu Pendidik Nusantara (TPN) XII Kota Makassar. Kegiatan ini menghadirkan kisah nyata para guru dan pemimpin pendidikan yang berani berinovasi, berjejaring, dan bertransformasi—dari ruang kelas hingga level pengelolaan sekolah.
Terdiri dari satu kelas pemimpin dan empat kelas pendidik, seluruh sesi berlangsung paralel dengan total 18 pembicara dari berbagai latar belakang yang berbagi praktik baik untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini.
Kelas Pemimpin: Kepemimpinan yang Menggerakkan
Kelas Pemimpin menampilkan dua praktik kepemimpinan sekolah yang menggugah:
• Sarwinah mempresentasikan “DEBUS: Solusi Membantu Mengurangi Sampah di Sekolah”, sebuah inisiatif untuk membangun budaya sadar lingkungan melalui kebijakan sekolah.
• Muhammad Agus berbagi kisah kepemimpinan di sekolah pinggiran lewat topik “Sekolah Pinggiran, Mimpi Besar: Perjalanan Menuju Sekolah Bermakna”, menunjukkan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk perubahan transformatif.
Kelas Pendidik 1: Menguatkan Relasi, Membangun Makna
Pada kelas ini, sebanyk empat guru mengangkat pentingnya emosi, relasi, dan kehadiran penuh dalam pembelajaran:
• Taufiqurrahman: “Mengelola EMOSI, Membangun Relasi”
• Cicit Fatimiyah: “Mengajar Bukan untuk Hebat, Tapi untuk Berdampak”
• Reski Indah Sari: “Cinta yang Mendidik: Relasi Tulus dan Profesional”
• Ayu Rezky Pratiwi: “BAKTI (Berbagi Konten, Tebar Inspirasi)”
Kelas Pendidik 2: Menulis, Berbagi, dan Bertumbuh
Kelas ini menyoroti bagaimana guru bisa memperluas peran ke dunia kepenulisan dan digital:
• Ayu Rezky Pratiwi: “Langkah Kecil Menuju Buku Pertama”
• Ratih: “Kreativitas Mengajar di Era Digital”
• Anggraeni Latif: “Jadi Guru Promotor: Awalnya Canggung, Kini Jadi Ruang Bertumbuh Karier”
• Asriani Geno: “Dari Buku Harian ke Buku Nyata”
Kelas Pendidik 3: Kolaborasi dan Keberanian Bertumbuh
Empat guru menunjukkan bagaimana strategi kolaboratif dan inklusif bisa mengatasi tantangan pendidikan:
• Nur Rahma: “Dari Pelengkap Menjadi Penggerak”
• Muhammad Taqwa Jailil: “Asesmen Bermakna: Dari Pilihan Ganda ke Pilihan Berkarya”
• Suparmin: “Menumbuhkan Kepercayaan Murid Lewat Asesmen yang Transparan”
• Maurensyiah P.: “Dari Penolakan ke Kepercayaan: Strategi Berkontribusi di Sekolah Baru”
Kelas Pendidik 4: Memberi Ruang bagi Murid Bertumbuh
Guru-guru di kelas ini berbagi praktik yang memberi ruang bagi murid untuk percaya dan berkembang:
• Satang: “Muridku Bukan Tak Bisa, Mereka Hanya Belum Percaya”
• Sabrianti: “Melatih Nalar, Menyuarakan Gagasan: Cerita dari Program KIR SMA Islam Athirah”
• Anita Taurisia Putri: “Berbagi Ilmu, Membangun Karier: Praktik Baik Menjadi Narasumber Profesional”
• Syamsul Alim Bahri: “Creating Lively Classes: How Educators Create Impactful Learning Journey”
Kekuatan Cerita, Keberanian Berbagi
Adelia Octoryta, Kurator Daerah TPN XII Makassar, menyampaikan pihaknya tidak sedang mencari guru terbaik, tapi menyuarakan praktik baik. "Karena yang kita perlukan hari ini bukan sekadar prestasi, tapi kolaborasi dan refleksi yang menular," ungkap dia.
Buri Prahastyo dari Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) menambahkan bahwa Kelas Pendidik dan Pemimpin adalah ruang aman untuk tumbuh bersama. “Kita ingin guru tumbuh bukan karena kompetisi, tapi karena kolaborasi, inspirasi, dan keberanian membagikan prosesnya,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator TPN XII Makassar, Mukhlis Rahmad, menegaskan bahwa pembelajaran terbaik lahir dari praktik nyata guru: “Kita ingin menunjukkan bahwa pembelajaran terbaik seringkali lahir dari guru untuk guru, dari sekolah untuk sekolah," ungkapnya.
Dengan tema nasional "Iklim Pendidikan & Pendidikan Iklim", TPN XII Makassar membuka ruang perjumpaan lintas sekolah, komunitas, dan pengalaman. Dalam satu jam, para peserta menyerap kisah-kisah yang telah melalui proses panjang: jatuh bangun, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.
Kegiatan ini membuktikan bahwa perubahan dalam pendidikan bisa dimulai hari ini—dari ruang kelas, dan dari guru-guru yang berani berbagi.
Terdiri dari satu kelas pemimpin dan empat kelas pendidik, seluruh sesi berlangsung paralel dengan total 18 pembicara dari berbagai latar belakang yang berbagi praktik baik untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini.
Kelas Pemimpin: Kepemimpinan yang Menggerakkan
Kelas Pemimpin menampilkan dua praktik kepemimpinan sekolah yang menggugah:
• Sarwinah mempresentasikan “DEBUS: Solusi Membantu Mengurangi Sampah di Sekolah”, sebuah inisiatif untuk membangun budaya sadar lingkungan melalui kebijakan sekolah.
• Muhammad Agus berbagi kisah kepemimpinan di sekolah pinggiran lewat topik “Sekolah Pinggiran, Mimpi Besar: Perjalanan Menuju Sekolah Bermakna”, menunjukkan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk perubahan transformatif.
Kelas Pendidik 1: Menguatkan Relasi, Membangun Makna
Pada kelas ini, sebanyk empat guru mengangkat pentingnya emosi, relasi, dan kehadiran penuh dalam pembelajaran:
• Taufiqurrahman: “Mengelola EMOSI, Membangun Relasi”
• Cicit Fatimiyah: “Mengajar Bukan untuk Hebat, Tapi untuk Berdampak”
• Reski Indah Sari: “Cinta yang Mendidik: Relasi Tulus dan Profesional”
• Ayu Rezky Pratiwi: “BAKTI (Berbagi Konten, Tebar Inspirasi)”
Kelas Pendidik 2: Menulis, Berbagi, dan Bertumbuh
Kelas ini menyoroti bagaimana guru bisa memperluas peran ke dunia kepenulisan dan digital:
• Ayu Rezky Pratiwi: “Langkah Kecil Menuju Buku Pertama”
• Ratih: “Kreativitas Mengajar di Era Digital”
• Anggraeni Latif: “Jadi Guru Promotor: Awalnya Canggung, Kini Jadi Ruang Bertumbuh Karier”
• Asriani Geno: “Dari Buku Harian ke Buku Nyata”
Kelas Pendidik 3: Kolaborasi dan Keberanian Bertumbuh
Empat guru menunjukkan bagaimana strategi kolaboratif dan inklusif bisa mengatasi tantangan pendidikan:
• Nur Rahma: “Dari Pelengkap Menjadi Penggerak”
• Muhammad Taqwa Jailil: “Asesmen Bermakna: Dari Pilihan Ganda ke Pilihan Berkarya”
• Suparmin: “Menumbuhkan Kepercayaan Murid Lewat Asesmen yang Transparan”
• Maurensyiah P.: “Dari Penolakan ke Kepercayaan: Strategi Berkontribusi di Sekolah Baru”
Kelas Pendidik 4: Memberi Ruang bagi Murid Bertumbuh
Guru-guru di kelas ini berbagi praktik yang memberi ruang bagi murid untuk percaya dan berkembang:
• Satang: “Muridku Bukan Tak Bisa, Mereka Hanya Belum Percaya”
• Sabrianti: “Melatih Nalar, Menyuarakan Gagasan: Cerita dari Program KIR SMA Islam Athirah”
• Anita Taurisia Putri: “Berbagi Ilmu, Membangun Karier: Praktik Baik Menjadi Narasumber Profesional”
• Syamsul Alim Bahri: “Creating Lively Classes: How Educators Create Impactful Learning Journey”
Kekuatan Cerita, Keberanian Berbagi
Adelia Octoryta, Kurator Daerah TPN XII Makassar, menyampaikan pihaknya tidak sedang mencari guru terbaik, tapi menyuarakan praktik baik. "Karena yang kita perlukan hari ini bukan sekadar prestasi, tapi kolaborasi dan refleksi yang menular," ungkap dia.
Buri Prahastyo dari Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) menambahkan bahwa Kelas Pendidik dan Pemimpin adalah ruang aman untuk tumbuh bersama. “Kita ingin guru tumbuh bukan karena kompetisi, tapi karena kolaborasi, inspirasi, dan keberanian membagikan prosesnya,” jelasnya.
Sementara itu, Koordinator TPN XII Makassar, Mukhlis Rahmad, menegaskan bahwa pembelajaran terbaik lahir dari praktik nyata guru: “Kita ingin menunjukkan bahwa pembelajaran terbaik seringkali lahir dari guru untuk guru, dari sekolah untuk sekolah," ungkapnya.
Dengan tema nasional "Iklim Pendidikan & Pendidikan Iklim", TPN XII Makassar membuka ruang perjumpaan lintas sekolah, komunitas, dan pengalaman. Dalam satu jam, para peserta menyerap kisah-kisah yang telah melalui proses panjang: jatuh bangun, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.
Kegiatan ini membuktikan bahwa perubahan dalam pendidikan bisa dimulai hari ini—dari ruang kelas, dan dari guru-guru yang berani berbagi.
(TRI)
Berita Terkait
News
Empat Dekade Mengabdi, Kisah Rahmi Saleh Menyambut Hari Guru
Guru kelas satu SD di Sekolah Islam Athirah itu telah mengabdikan diri selama lebih dari empat dekade—sebuah perjalanan panjang yang tak pernah ia bayangkan sejak awal.
Selasa, 25 Nov 2025 13:50
News
Sekolah Islam Athirah Berangkatkan Umrah 17 Guru & Karyawan
Sebanyak 17 guru, karyawan, dan petugas kebersihan Sekolah Islam Athirah resmi diberangkatkan untuk melaksanakan ibadah umrah.
Sabtu, 22 Nov 2025 19:58
News
50 Siswa SMA Islam Athirah Bone Ikuti Pelatihan Sertifikasi Al-Qur’an
Sebanyak 50 siswa SMA Islam Athirah Bone mengikuti pelatihan sertifikasi Al-Qur’an metode UMMI yang digelar selama tiga hari di aula sekolah.
Sabtu, 15 Nov 2025 16:48
News
PDTH 2 Guru Luwu Utara, Prof Yusril Sebut Gubernur Sulsel Tidak Salah
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan, Prof Yusril Ihza Mahendra menegaskan Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan berkewajiban memulihkan status dua guru ASN asal Luwu Utara.
Jum'at, 14 Nov 2025 22:37
Sulsel
RDP DPRD Sulsel, Guru asal Luwu Utara Mengajar Setahun Tanpa Gaji, Lalu Dipecat
Guru Rasnal di Kabupaten Luwu Utara, Sulsel, mengaku merasa terzalimi karena gajinya tidak dibayar lebih dari setahun sebelum keputusan PTDH diterbitkan oleh Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman.
Rabu, 12 Nov 2025 17:03
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Rekomendasi Penginapan Bagus di Malino: Villa Week End dengan Fasilitas Super Lengkap
2
DPRD-Pemkot Makassar Sepakati APBD 2026 Senilai Rp4,6 Triliun Lebih
3
Pelindo Regional 4 Terima Izin Operasi Baru dari Kemenhub
4
Milad ke-50, IMMIM Siap Hadapi Transformasi Global Era Digital
5
PT Vale Perkuat Literasi Digital Generasi Muda Loeha Raya
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Rekomendasi Penginapan Bagus di Malino: Villa Week End dengan Fasilitas Super Lengkap
2
DPRD-Pemkot Makassar Sepakati APBD 2026 Senilai Rp4,6 Triliun Lebih
3
Pelindo Regional 4 Terima Izin Operasi Baru dari Kemenhub
4
Milad ke-50, IMMIM Siap Hadapi Transformasi Global Era Digital
5
PT Vale Perkuat Literasi Digital Generasi Muda Loeha Raya