Menjaga Warisan, Menempa Masa Depan: Nasdem Sulsel di Tangan Syahruddin Alrif
Sabtu, 07 Feb 2026 07:34
Eks Komisioner KPU Majene / Founder Garansi Institute Sulbar, Zulkarnain Hasanuddin. Foto: Istimewa
Oleh: Zulkarnain Hasanuddin
Eks Komisioner KPUMajene / Founder Garansi Institute Sulbar
Dalam perjalanan politik, pergantian kepemimpinan tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu memuat makna, menyimpan pesan, dan menandai sebuah fase baru—entah sebagai kelanjutan yang matang atau sebagai koreksi atas masa lalu.
Pergantian nahkoda Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Sulawesi Selatan dari Rusdi Masse (RMS) kepada Syahruddin Alrif—yang lebih dikenal publik dengan sapaan KK Syahar—harus dibaca dalam bingkai itu: sebagai peristiwa politik yang sarat simbol, penuh beban sejarah, sekaligus menyimpan harapan baru.
NasDem Sulsel bukan partai kecil yang sedang belajar berjalan. Ia adalah kekuatan politik mapan yang pada Pemilu 2024 tampil sebagai pemenang dan berhasil menempatkan kader terbaiknya memimpin DPRD Sulawesi Selatan.
Prestasi ini tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari akumulasi strategi panjang, konsistensi organisasi, serta kepemimpinan yang kuat dan teruji. Di balik capaian itu, nama Rusdi Masse berdiri sebagai figur sentral—arsitek politik yang berhasil meramu kekuatan struktural, elektoral, dan kultural NasDem Sulsel.
Karena itu, menggantikan RMS bukan sekadar soal regenerasi. Ia adalah soal keberanian menghadapi standar tinggi, ekspektasi publik, dan ingatan kolektif partai yang masih segar. Di sinilah makna penunjukan KK Sahar oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) NasDem menjadi relevan untuk dibaca lebih dalam. Keputusan ini tidak bisa dilihat sebagai pengisian kursi kosong semata, tetapi sebagai kalkulasi politik yang matang dan strategis.
-Politik Sebagai Proses Panjang, Bukan Kejadian Seketika-
Syahruddin Alrif bukan figur yang muncul secara instan. Jauh sebelum ia dipercaya memimpin DPW NasDem Sulsel, ia telah lama berada di jantung kerja-kerja partai, mendampingi RMS sebagai sekretaris. Posisi ini bukan posisi simbolik, melainkan ruang belajar paling intens dalam memahami anatomi kekuasaan, dinamika internal partai, serta medan politik Sulawesi Selatan yang kompleks dan berlapis.
Dalam politik, menjadi orang kedua sering kali lebih berat daripada menjadi orang pertama. Ia harus memahami kehendak pemimpin, membaca arah angin politik, sekaligus menjaga soliditas organisasi. Pengalaman itu memberi KK Sahar keunggulan yang tidak dimiliki banyak pemimpin baru: ia tidak memulai dari nol. Ia memulai dari pemahaman.
Lebih jauh, karier politik KK Sahar juga menunjukkan satu hal penting: bahwa kekuasaan yang ia raih adalah hasil proses panjang, bukan loncatan sesaat. Dari Wakil Ketua DPRD Sulsel, kini menjabat sebagai Bupati Sidrap periode 2025–2030, ia menapaki jalur politik secara bertahap, terukur, dan konsisten. Dalam dunia politik yang kerap tergoda jalan pintas, perjalanan semacam ini menjadi nilai tersendiri.
Jejak Organisasi dan Pembentukan Watak Kepemimpinan
Apa yang membedakan politisi yang sekadar berkuasa dengan politisi yang mampu memimpin adalah pengalaman organisasi. Dalam konteks ini, KK Sahar memiliki rekam jejak yang relatif lengkap. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPD KNPI Sulsel, Wakil Ketua HIPMI Sulsel, hingga Sekretaris PP Muhammadiyah. Tiga ruang yang berbeda, tetapi sama-sama keras dalam mendidik karakter.
KNPI membentuk sensitivitas sosial dan kemampuan membaca generasi muda. HIPMI menempa naluri kewirausahaan dan manajemen organisasi. Muhammadiyah mendidik etika, disiplin moral, dan orientasi pengabdian. Perpaduan ketiganya membentuk sosok politisi yang tidak hanya piawai berstrategi, tetapi juga memiliki fondasi nilai.
Inilah yang sering luput dari pembacaan politik jangka pendek. Politik bukan sekadar soal menang dan kalah dalam pemilu, tetapi tentang kemampuan mengelola perbedaan, membangun konsensus, dan menjaga kepercayaan publik. Pengalaman organisasi yang panjang membuat KK Sahar relatif matang dalam menghadapi kompleksitas itu.
Menggantikan RMS: Tantangan yang Tidak Ringan
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa RMS meninggalkan “warisan besar” bagi NasDem Sulsel. Warisan itu bukan hanya berupa kursi legislatif atau jabatan struktural, tetapi juga standar kepemimpinan dan ekspektasi elektoral. Dalam politik, warisan semacam ini sering kali menjadi pedang bermata dua: ia bisa menjadi modal awal, tetapi juga tekanan psikologis yang berat.
DPP NasDem tentu menyadari hal ini. Karena itu, pilihan kepada KK Syahar harus dibaca sebagai upaya menjaga kesinambungan sekaligus menyiapkan regenerasi. Ia diharapkan bukan hanya mampu melanjutkan strategi RMS, tetapi juga mampu menyesuaikannya dengan tantangan baru: perubahan perilaku pemilih, dinamika politik nasional dan daerah, hingga tuntutan publik yang semakin kritis. Dalam bahasa filosofis, NasDem Sulsel hari ini berada pada fase “menjaga api” sekaligus “menyalakan arah”. Api kemenangan harus tetap menyala, tetapi arah perjuangan harus terus diperbarui agar tidak terjebak pada romantisme masa lalu.
Sidrap sebagai Miniatur Kepemimpinan
Pengalaman KK Sahar sebagai Bupati Sidrap menjadi referensi penting dalam membaca arah kepemimpinannya ke depan. Di tengah banyaknya kepala daerah yang tenggelam dalam rutinitas birokrasi, Sidrap justru tampil sebagai salah satu daerah yang cukup mencolok di Sulawesi Selatan.
Program-program yang pro-rakyat, pendekatan kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat, serta keberanian mengambil kebijakan populis menjadi ciri yang mudah dikenali. Kedekatan dengan rakyat bukan sekadar strategi pencitraan.
Ia adalah modal politik jangka panjang. Dalam konteks partai, hal ini penting karena NasDem Sulsel tidak hanya membutuhkan mesin politik yang kuat, tetapi juga figur yang mampu menjadi jembatan antara elite partai dan akar rumput.
Jika pola kepemimpinan di Sidrap ini dapat direplikasi dalam skala partai, maka NasDem Sulsel berpeluang mempertahankan bahkan memperluas basis dukungannya. Politik yang terlalu elitis selalu berisiko kehilangan sentuhan sosial, sementara politik yang membumi cenderung lebih tahan uji.
Energi Baru dan Beban Prestasi
Salah satu kata kunci yang sering muncul dalam setiap pergantian kepemimpinan adalah “energi baru”. Namun energi baru tidak selalu berarti perubahan drastis. Dalam konteks NasDem Sulsel, energi baru yang diharapkan dari KK Sahar adalah kemampuan menyuntikkan semangat segar tanpa merusak fondasi yang sudah kokoh.
Beban prestasi elektoral yang ditinggalkan RMS tentu menjadi pekerjaan rumah besar. Mempertahankan kemenangan sering kali lebih sulit daripada meraihnya. Apalagi di tengah dinamika politik nasional dan daerah yang cepat berubah, fragmentasi pemilih, serta meningkatnya pragmatisme politik.
Namun di sinilah pengalaman panjang KK Sahar menjadi relevan. Ia bukan politisi yang baru belajar membaca peta. Ia telah lama berada di dalamnya. Tantangannya kini adalah bagaimana mengelola ekspektasi, menjaga soliditas internal, dan tetap adaptif terhadap perubahan.
NasDem Sulsel dan Masa Depan Politik Regional
Pergantian kepemimpinan ini juga harus dibaca dalam konteks yang lebih luas: peran NasDem Sulsel dalam politik regional dan nasional. Sulawesi Selatan bukan sekadar provinsi besar secara demografis, tetapi juga wilayah strategis dalam peta politik nasional. Kekuatan partai di daerah ini sering kali menjadi barometer arah politik kawasan timur Indonesia.
Dengan KK Sahar sebagai nahkoda baru, NasDem Sulsel memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan politik regional yang stabil dan berpengaruh. Namun peluang ini hanya bisa terwujud jika kepemimpinan baru mampu menjaga keseimbangan antara konsolidasi internal dan ekspansi eksternal.
Politik sebagai Ikhtiar Panjang
Pada akhirnya, politik bukanlah panggung bagi mereka yang hanya ingin cepat sampai. Ia adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan keteguhan nilai. Pergantian kepemimpinan NasDem Sulsel dari RMS kepada KK Sahar adalah bagian dari perjalanan itu—sebuah fase baru yang penuh tantangan sekaligus harapan.
Jika RMS dikenal sebagai arsitek kemenangan, maka KK Sahar kini diuji sebagai penjaga warisan sekaligus perancang masa depan. Sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang memimpin, tetapi bagaimana kepemimpinan itu dijalankan: apakah ia mampu menjawab harapan rakyat, menjaga kepercayaan partai, dan menempatkan politik sebagai alat pengabdian, bukan sekadar perebutan kekuasaan.
Dalam dunia politik yang sering kali bising oleh ambisi, kepemimpinan yang tenang, matang, dan membumi justru menjadi oase. NasDem Sulsel kini menaruh harapan pada sosok yang relatif muda, tetapi sarat pengalaman. Waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal pasti: estafet telah berpindah, dan arah baru sedang ditata.
Eks Komisioner KPUMajene / Founder Garansi Institute Sulbar
Dalam perjalanan politik, pergantian kepemimpinan tidak pernah benar-benar netral. Ia selalu memuat makna, menyimpan pesan, dan menandai sebuah fase baru—entah sebagai kelanjutan yang matang atau sebagai koreksi atas masa lalu.
Pergantian nahkoda Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai NasDem Sulawesi Selatan dari Rusdi Masse (RMS) kepada Syahruddin Alrif—yang lebih dikenal publik dengan sapaan KK Syahar—harus dibaca dalam bingkai itu: sebagai peristiwa politik yang sarat simbol, penuh beban sejarah, sekaligus menyimpan harapan baru.
NasDem Sulsel bukan partai kecil yang sedang belajar berjalan. Ia adalah kekuatan politik mapan yang pada Pemilu 2024 tampil sebagai pemenang dan berhasil menempatkan kader terbaiknya memimpin DPRD Sulawesi Selatan.
Prestasi ini tidak lahir dari kebetulan, melainkan dari akumulasi strategi panjang, konsistensi organisasi, serta kepemimpinan yang kuat dan teruji. Di balik capaian itu, nama Rusdi Masse berdiri sebagai figur sentral—arsitek politik yang berhasil meramu kekuatan struktural, elektoral, dan kultural NasDem Sulsel.
Karena itu, menggantikan RMS bukan sekadar soal regenerasi. Ia adalah soal keberanian menghadapi standar tinggi, ekspektasi publik, dan ingatan kolektif partai yang masih segar. Di sinilah makna penunjukan KK Sahar oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP) NasDem menjadi relevan untuk dibaca lebih dalam. Keputusan ini tidak bisa dilihat sebagai pengisian kursi kosong semata, tetapi sebagai kalkulasi politik yang matang dan strategis.
-Politik Sebagai Proses Panjang, Bukan Kejadian Seketika-
Syahruddin Alrif bukan figur yang muncul secara instan. Jauh sebelum ia dipercaya memimpin DPW NasDem Sulsel, ia telah lama berada di jantung kerja-kerja partai, mendampingi RMS sebagai sekretaris. Posisi ini bukan posisi simbolik, melainkan ruang belajar paling intens dalam memahami anatomi kekuasaan, dinamika internal partai, serta medan politik Sulawesi Selatan yang kompleks dan berlapis.
Dalam politik, menjadi orang kedua sering kali lebih berat daripada menjadi orang pertama. Ia harus memahami kehendak pemimpin, membaca arah angin politik, sekaligus menjaga soliditas organisasi. Pengalaman itu memberi KK Sahar keunggulan yang tidak dimiliki banyak pemimpin baru: ia tidak memulai dari nol. Ia memulai dari pemahaman.
Lebih jauh, karier politik KK Sahar juga menunjukkan satu hal penting: bahwa kekuasaan yang ia raih adalah hasil proses panjang, bukan loncatan sesaat. Dari Wakil Ketua DPRD Sulsel, kini menjabat sebagai Bupati Sidrap periode 2025–2030, ia menapaki jalur politik secara bertahap, terukur, dan konsisten. Dalam dunia politik yang kerap tergoda jalan pintas, perjalanan semacam ini menjadi nilai tersendiri.
Jejak Organisasi dan Pembentukan Watak Kepemimpinan
Apa yang membedakan politisi yang sekadar berkuasa dengan politisi yang mampu memimpin adalah pengalaman organisasi. Dalam konteks ini, KK Sahar memiliki rekam jejak yang relatif lengkap. Ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua DPD KNPI Sulsel, Wakil Ketua HIPMI Sulsel, hingga Sekretaris PP Muhammadiyah. Tiga ruang yang berbeda, tetapi sama-sama keras dalam mendidik karakter.
KNPI membentuk sensitivitas sosial dan kemampuan membaca generasi muda. HIPMI menempa naluri kewirausahaan dan manajemen organisasi. Muhammadiyah mendidik etika, disiplin moral, dan orientasi pengabdian. Perpaduan ketiganya membentuk sosok politisi yang tidak hanya piawai berstrategi, tetapi juga memiliki fondasi nilai.
Inilah yang sering luput dari pembacaan politik jangka pendek. Politik bukan sekadar soal menang dan kalah dalam pemilu, tetapi tentang kemampuan mengelola perbedaan, membangun konsensus, dan menjaga kepercayaan publik. Pengalaman organisasi yang panjang membuat KK Sahar relatif matang dalam menghadapi kompleksitas itu.
Menggantikan RMS: Tantangan yang Tidak Ringan
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa RMS meninggalkan “warisan besar” bagi NasDem Sulsel. Warisan itu bukan hanya berupa kursi legislatif atau jabatan struktural, tetapi juga standar kepemimpinan dan ekspektasi elektoral. Dalam politik, warisan semacam ini sering kali menjadi pedang bermata dua: ia bisa menjadi modal awal, tetapi juga tekanan psikologis yang berat.
DPP NasDem tentu menyadari hal ini. Karena itu, pilihan kepada KK Syahar harus dibaca sebagai upaya menjaga kesinambungan sekaligus menyiapkan regenerasi. Ia diharapkan bukan hanya mampu melanjutkan strategi RMS, tetapi juga mampu menyesuaikannya dengan tantangan baru: perubahan perilaku pemilih, dinamika politik nasional dan daerah, hingga tuntutan publik yang semakin kritis. Dalam bahasa filosofis, NasDem Sulsel hari ini berada pada fase “menjaga api” sekaligus “menyalakan arah”. Api kemenangan harus tetap menyala, tetapi arah perjuangan harus terus diperbarui agar tidak terjebak pada romantisme masa lalu.
Sidrap sebagai Miniatur Kepemimpinan
Pengalaman KK Sahar sebagai Bupati Sidrap menjadi referensi penting dalam membaca arah kepemimpinannya ke depan. Di tengah banyaknya kepala daerah yang tenggelam dalam rutinitas birokrasi, Sidrap justru tampil sebagai salah satu daerah yang cukup mencolok di Sulawesi Selatan.
Program-program yang pro-rakyat, pendekatan kepemimpinan yang dekat dengan masyarakat, serta keberanian mengambil kebijakan populis menjadi ciri yang mudah dikenali. Kedekatan dengan rakyat bukan sekadar strategi pencitraan.
Ia adalah modal politik jangka panjang. Dalam konteks partai, hal ini penting karena NasDem Sulsel tidak hanya membutuhkan mesin politik yang kuat, tetapi juga figur yang mampu menjadi jembatan antara elite partai dan akar rumput.
Jika pola kepemimpinan di Sidrap ini dapat direplikasi dalam skala partai, maka NasDem Sulsel berpeluang mempertahankan bahkan memperluas basis dukungannya. Politik yang terlalu elitis selalu berisiko kehilangan sentuhan sosial, sementara politik yang membumi cenderung lebih tahan uji.
Energi Baru dan Beban Prestasi
Salah satu kata kunci yang sering muncul dalam setiap pergantian kepemimpinan adalah “energi baru”. Namun energi baru tidak selalu berarti perubahan drastis. Dalam konteks NasDem Sulsel, energi baru yang diharapkan dari KK Sahar adalah kemampuan menyuntikkan semangat segar tanpa merusak fondasi yang sudah kokoh.
Beban prestasi elektoral yang ditinggalkan RMS tentu menjadi pekerjaan rumah besar. Mempertahankan kemenangan sering kali lebih sulit daripada meraihnya. Apalagi di tengah dinamika politik nasional dan daerah yang cepat berubah, fragmentasi pemilih, serta meningkatnya pragmatisme politik.
Namun di sinilah pengalaman panjang KK Sahar menjadi relevan. Ia bukan politisi yang baru belajar membaca peta. Ia telah lama berada di dalamnya. Tantangannya kini adalah bagaimana mengelola ekspektasi, menjaga soliditas internal, dan tetap adaptif terhadap perubahan.
NasDem Sulsel dan Masa Depan Politik Regional
Pergantian kepemimpinan ini juga harus dibaca dalam konteks yang lebih luas: peran NasDem Sulsel dalam politik regional dan nasional. Sulawesi Selatan bukan sekadar provinsi besar secara demografis, tetapi juga wilayah strategis dalam peta politik nasional. Kekuatan partai di daerah ini sering kali menjadi barometer arah politik kawasan timur Indonesia.
Dengan KK Sahar sebagai nahkoda baru, NasDem Sulsel memiliki peluang untuk memperkuat posisinya sebagai kekuatan politik regional yang stabil dan berpengaruh. Namun peluang ini hanya bisa terwujud jika kepemimpinan baru mampu menjaga keseimbangan antara konsolidasi internal dan ekspansi eksternal.
Politik sebagai Ikhtiar Panjang
Pada akhirnya, politik bukanlah panggung bagi mereka yang hanya ingin cepat sampai. Ia adalah perjalanan panjang yang menuntut kesabaran, ketekunan, dan keteguhan nilai. Pergantian kepemimpinan NasDem Sulsel dari RMS kepada KK Sahar adalah bagian dari perjalanan itu—sebuah fase baru yang penuh tantangan sekaligus harapan.
Jika RMS dikenal sebagai arsitek kemenangan, maka KK Sahar kini diuji sebagai penjaga warisan sekaligus perancang masa depan. Sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang memimpin, tetapi bagaimana kepemimpinan itu dijalankan: apakah ia mampu menjawab harapan rakyat, menjaga kepercayaan partai, dan menempatkan politik sebagai alat pengabdian, bukan sekadar perebutan kekuasaan.
Dalam dunia politik yang sering kali bising oleh ambisi, kepemimpinan yang tenang, matang, dan membumi justru menjadi oase. NasDem Sulsel kini menaruh harapan pada sosok yang relatif muda, tetapi sarat pengalaman. Waktu yang akan membuktikan, tetapi satu hal pasti: estafet telah berpindah, dan arah baru sedang ditata.
(UMI)
Berita Terkait
Sulsel
Para Loyalis Kompak Ikuti Jejak RMS, Tinggalkan Nasdem dan Gabung PSI
Para loyalis Rusdi Masse (RMS) di Nasdem mulai mengambil sikap. Mereka mantap berlabuh ke PSI, usai RMS menjadi bagian dari partai gajah.
Senin, 02 Feb 2026 12:56
News
Membaca Hijrah Politik Rusdi Masse
Hijrahnya Rusdi Masse atau populer dipanggil RMS dari Partai NasDem ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) jelas berada pada kategori kedua.
Jum'at, 30 Jan 2026 10:15
News
RMS Pergi, NasDem Goyang? PSI Tak Otomatis Diuntungkan
Kabar pamitnya Rusdi Masse (RMS) dari Partai NasDem sejatinya bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Selama hampir setahun terakhir, isu ini berulang kali beredar di ruang publik, meskipun kerap dibantah oleh jajaran DPW NasDem Sulawesi Selatan.
Senin, 26 Jan 2026 12:45
News
Menuju Setahun Kepemimpinan SAR-Kanaah, Sidrap sebagai Barometer Baru Ekonomi Sulsel
Saat kepemimpinan Kabupaten Sidrap berpindah ke Bupati Syaharuddin Alrif (SAR) dan Wakil Bupati Nurkanaah pada tahun 2025, optimisme masyarakat akan adanya perubahan begitu besar.
Rabu, 21 Jan 2026 12:04
Sulsel
Bupati Syahar Lanjutkan Perjuangan RMS, SCR Sukses Digelar di Sirkuit Puncak Mario Sidrap
Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap) kembali menggelar kejuaraan otomotif, setelah sempat vakum enam tahun. Grand Final Sulawesi Cup Race (SCR) 2026 berlangsung meriah di Sirkuit Puncak Mario, Sidrap pada Sabtu malam (17/01/2026).
Minggu, 18 Jan 2026 16:31
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Bank Sulselbar Tegaskan Kooperatif dalam Sidang Dugaan Korupsi Kredit Konstruksi
2
Stok Melimpah, Bulog Sebut Sulsel Pilar Ketahanan Pangan Nasional
3
Mutasi Perdana Makassar 2026: 13 Camat Bergeser, 106 Pejabat Resmi Dilantik
4
Jelang Ramadan, DPRD Makassar Percepat Reses Serap Aspirasi
5
Garuda Indonesia Umrah Travel Fair 2026 Hadir di Makassar, Tawarkan Promo Mulai Rp15 Juta
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Bank Sulselbar Tegaskan Kooperatif dalam Sidang Dugaan Korupsi Kredit Konstruksi
2
Stok Melimpah, Bulog Sebut Sulsel Pilar Ketahanan Pangan Nasional
3
Mutasi Perdana Makassar 2026: 13 Camat Bergeser, 106 Pejabat Resmi Dilantik
4
Jelang Ramadan, DPRD Makassar Percepat Reses Serap Aspirasi
5
Garuda Indonesia Umrah Travel Fair 2026 Hadir di Makassar, Tawarkan Promo Mulai Rp15 Juta