RMS Pergi, NasDem Goyang? PSI Tak Otomatis Diuntungkan
Senin, 26 Jan 2026 12:45
Direktur Eksekutif Parameter Publik Indonesia, Ras MD. Foto: Istimewa
Oleh: Ras MD
Pengamat Politik/Direktur Eksekutif Parameter Publik Indonesia
Kabar pamitnya Rusdi Masse (RMS) dari Partai NasDem sejatinya bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Selama hampir setahun terakhir, isu ini berulang kali beredar di ruang publik, meskipun kerap dibantah oleh jajaran DPW NasDem Sulawesi Selatan. Namun dalam politik, bantahan sering kali hanya soal waktu. Realitas pada akhirnya selalu menemukan jalannya sendiri.
RMS—figur yang selama ini dikenal sebagai lokomotif elektoral NasDem di Sulsel—akhirnya resmi berpamitan. Mundurnya RMS tentu bukan sekadar peristiwa personal, melainkan sebuah momentum politik yang berpotensi memicu dampak serius terhadap infrastruktur NasDem Sulsel, baik di level DPW hingga ke akar rumput.
Tak bisa dipungkiri, kultur politik RMS telah lama mewarnai perjalanan NasDem di Sulawesi Selatan. Dari partai yang semula dipersepsikan sebagai kekuatan papan bawah, NasDem menjelma menjadi salah satu partai paling dominan di daerah ini. Mesin partai, jejaring elektoral, hingga soliditas struktur tumbuh dan menguat dalam bayang-bayang figur RMS.
Karena itu, kekhawatiran patut diajukan. Jika fase transisi kepemimpinan di tubuh NasDem Sulsel tidak dikelola secara kuat, kolektif, dan solid, maka infrastruktur partai hingga ke level terbawah berpotensi mengalami kerapuhan. Jika kondisi ini dibiarkan, NasDem Sulsel bukan tidak mungkin hanya akan dikenang sebagai partai yang pernah berjaya—bukan lagi sebagai kekuatan dominan pada pemilu-pemilu mendatang.
Di sisi lain, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) disebut-sebut sebagai partai yang paling menantikan kehadiran RMS. Bahkan, beredar kabar bahwa agenda Rakernas PSI yang digelar di Makassar akhir bulan ini disiapkan sebagai momentum simbolik—di mana para elite PSI akan menyaksikan langsung RMS mengenakan atribut kebesaran PSI.
Pertanyaannya kemudian: akankah PSI Sulsel bernasib seperti NasDem Sulsel dengan hadirnya sosok RMS?
Menurut saya, jawabannya justru sangat berbeda. Pengaruh RMS terhadap NasDem bisa melonjak signifikan karena adanya keselarasan antara figur dan ekosistem partai. Namun kondisi tersebut tidak serta-merta berlaku bagi PSI.
Hingga hari ini, PSI belum tampil sebagai partai alternatif solusi bagi mayoritas publik Sulawesi Selatan. Pengalaman di berbagai pemilu menunjukkan bahwa elektoral PSI belum mampu bersaing dengan partai-partai mapan. Ini menjadi indikator kuat bahwa PSI belum memperoleh ruang yang cukup dalam struktur sosial dan politik masyarakat Sulsel.
#Tiga Faktor Mengapa PSI Tak Istimewa di Mata Publik Sulsel, Meski RMS Bergabung
Dalam perspektif publik Sulawesi Selatan, kehadiran PSI belum menghadirkan lompatan elektoral yang signifikan. Sekalipun RMS bergabung, daya tarik PSI tetap terbatas. Setidaknya, ada tiga faktor kunci yang menjelaskannya.
Pertama, segmentasi pemilih yang terlalu sempit.
Sejak awal, PSI memosisikan diri sebagai partai anak muda, urban, dan terdidik. Segmentasi ini mungkin relevan di kota-kota besar tertentu, namun tidak dominan di Sulsel. Basis pemilih terbesar di daerah ini masih bertumpu pada komunitas lokal, pemilih tradisional, jejaring kekerabatan, keagamaan, serta patronase sosial. Ketika PSI gagal menembus ekosistem ini, pesan politiknya memang terdengar, tetapi tidak mengakar.
Kedua, bayang-bayang figur pusat yang terlalu kuat.
PSI kerap dipersepsikan sebagai partai elite Jakarta. Narasi nasional jauh lebih dominan ketimbang narasi lokal. Akibatnya, PSI Sulsel sulit tampil sebagai “partai orang Sulsel”. Bukan karena kekurangan kader, melainkan karena otonomi narasi daerah nyaris tidak terlihat. Padahal, publik daerah menginginkan partai yang berbicara tentang problem mereka—dengan bahasa mereka sendiri.
Ketiga, Jokowi bukan magnet elektoral di Sulsel.
Faktor ini sering diabaikan, padahal krusial. Joko Widodo memang figur nasional yang kuat, namun daya dongkraknya terhadap elektoral PSI di Sulsel terbukti tidak signifikan. Data pemilu menunjukkan bahwa asosiasi PSI dengan Jokowi tidak otomatis berbanding lurus dengan perolehan suara. Di Sulsel, pilihan politik jauh lebih ditentukan oleh figur lokal dan jejaring sosial ketimbang endorsement simbolik dari pusat.
#Figur Besar Tak Selalu Cukup
Pada akhirnya, RMS sukses membesarkan NasDem di Sulawesi Selatan karena terdapat keselarasan antara figur RMS dan karakter partai NasDem. Namun dalam konteks PSI, keselarasan itu belum tampak. Karena itu, saya cukup pesimis RMS dapat membesarkan PSI seperti ia membesarkan NasDem.
Dalam politik, figur besar tidak selalu cukup. Tanpa ekosistem sosial yang hidup, struktur partai yang mengakar, dan narasi lokal yang kuat, figur sebesar apa pun akan menghadapi keterbatasan serius dalam mengubah peta kekuatan politik di daerah.
Pengamat Politik/Direktur Eksekutif Parameter Publik Indonesia
Kabar pamitnya Rusdi Masse (RMS) dari Partai NasDem sejatinya bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Selama hampir setahun terakhir, isu ini berulang kali beredar di ruang publik, meskipun kerap dibantah oleh jajaran DPW NasDem Sulawesi Selatan. Namun dalam politik, bantahan sering kali hanya soal waktu. Realitas pada akhirnya selalu menemukan jalannya sendiri.
RMS—figur yang selama ini dikenal sebagai lokomotif elektoral NasDem di Sulsel—akhirnya resmi berpamitan. Mundurnya RMS tentu bukan sekadar peristiwa personal, melainkan sebuah momentum politik yang berpotensi memicu dampak serius terhadap infrastruktur NasDem Sulsel, baik di level DPW hingga ke akar rumput.
Tak bisa dipungkiri, kultur politik RMS telah lama mewarnai perjalanan NasDem di Sulawesi Selatan. Dari partai yang semula dipersepsikan sebagai kekuatan papan bawah, NasDem menjelma menjadi salah satu partai paling dominan di daerah ini. Mesin partai, jejaring elektoral, hingga soliditas struktur tumbuh dan menguat dalam bayang-bayang figur RMS.
Karena itu, kekhawatiran patut diajukan. Jika fase transisi kepemimpinan di tubuh NasDem Sulsel tidak dikelola secara kuat, kolektif, dan solid, maka infrastruktur partai hingga ke level terbawah berpotensi mengalami kerapuhan. Jika kondisi ini dibiarkan, NasDem Sulsel bukan tidak mungkin hanya akan dikenang sebagai partai yang pernah berjaya—bukan lagi sebagai kekuatan dominan pada pemilu-pemilu mendatang.
Di sisi lain, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) disebut-sebut sebagai partai yang paling menantikan kehadiran RMS. Bahkan, beredar kabar bahwa agenda Rakernas PSI yang digelar di Makassar akhir bulan ini disiapkan sebagai momentum simbolik—di mana para elite PSI akan menyaksikan langsung RMS mengenakan atribut kebesaran PSI.
Pertanyaannya kemudian: akankah PSI Sulsel bernasib seperti NasDem Sulsel dengan hadirnya sosok RMS?
Menurut saya, jawabannya justru sangat berbeda. Pengaruh RMS terhadap NasDem bisa melonjak signifikan karena adanya keselarasan antara figur dan ekosistem partai. Namun kondisi tersebut tidak serta-merta berlaku bagi PSI.
Hingga hari ini, PSI belum tampil sebagai partai alternatif solusi bagi mayoritas publik Sulawesi Selatan. Pengalaman di berbagai pemilu menunjukkan bahwa elektoral PSI belum mampu bersaing dengan partai-partai mapan. Ini menjadi indikator kuat bahwa PSI belum memperoleh ruang yang cukup dalam struktur sosial dan politik masyarakat Sulsel.
#Tiga Faktor Mengapa PSI Tak Istimewa di Mata Publik Sulsel, Meski RMS Bergabung
Dalam perspektif publik Sulawesi Selatan, kehadiran PSI belum menghadirkan lompatan elektoral yang signifikan. Sekalipun RMS bergabung, daya tarik PSI tetap terbatas. Setidaknya, ada tiga faktor kunci yang menjelaskannya.
Pertama, segmentasi pemilih yang terlalu sempit.
Sejak awal, PSI memosisikan diri sebagai partai anak muda, urban, dan terdidik. Segmentasi ini mungkin relevan di kota-kota besar tertentu, namun tidak dominan di Sulsel. Basis pemilih terbesar di daerah ini masih bertumpu pada komunitas lokal, pemilih tradisional, jejaring kekerabatan, keagamaan, serta patronase sosial. Ketika PSI gagal menembus ekosistem ini, pesan politiknya memang terdengar, tetapi tidak mengakar.
Kedua, bayang-bayang figur pusat yang terlalu kuat.
PSI kerap dipersepsikan sebagai partai elite Jakarta. Narasi nasional jauh lebih dominan ketimbang narasi lokal. Akibatnya, PSI Sulsel sulit tampil sebagai “partai orang Sulsel”. Bukan karena kekurangan kader, melainkan karena otonomi narasi daerah nyaris tidak terlihat. Padahal, publik daerah menginginkan partai yang berbicara tentang problem mereka—dengan bahasa mereka sendiri.
Ketiga, Jokowi bukan magnet elektoral di Sulsel.
Faktor ini sering diabaikan, padahal krusial. Joko Widodo memang figur nasional yang kuat, namun daya dongkraknya terhadap elektoral PSI di Sulsel terbukti tidak signifikan. Data pemilu menunjukkan bahwa asosiasi PSI dengan Jokowi tidak otomatis berbanding lurus dengan perolehan suara. Di Sulsel, pilihan politik jauh lebih ditentukan oleh figur lokal dan jejaring sosial ketimbang endorsement simbolik dari pusat.
#Figur Besar Tak Selalu Cukup
Pada akhirnya, RMS sukses membesarkan NasDem di Sulawesi Selatan karena terdapat keselarasan antara figur RMS dan karakter partai NasDem. Namun dalam konteks PSI, keselarasan itu belum tampak. Karena itu, saya cukup pesimis RMS dapat membesarkan PSI seperti ia membesarkan NasDem.
Dalam politik, figur besar tidak selalu cukup. Tanpa ekosistem sosial yang hidup, struktur partai yang mengakar, dan narasi lokal yang kuat, figur sebesar apa pun akan menghadapi keterbatasan serius dalam mengubah peta kekuatan politik di daerah.
(UMI)
Berita Terkait
News
Dari Bilik Suara OSIS, Demokrasi Belajar Tumbuh
Masa depan demokrasi Indonesia sedang diuji di tempat yang sering kita anggap sederhana: bilik suara pemilihan ketua OSIS.
Selasa, 22 Sep 2026 17:28
News
Sekwan Terima Surat Usulan Pergantian Ketua DPRD Jeneponto dari DPP Nasdem
Sekretariat DPRD Jeneponto telah menerima surat penyampaian pengusulan pergantian Ketua DPRD Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan, dari DPP Partai Nasdem.
Senin, 14 Sep 2026 17:51
News
Antrean BBM, Ketika Kesabaran Rakyat Diuji
Barangkali suatu saat antrean BBM perlu dimasukkan sebagai salah satu destinasi wisata baru, karena hampir di setiap SPBU masyarakat dapat menikmati “perjalanan panjang” tanpa harus meninggalkan kendaraannya.
Minggu, 13 Sep 2026 09:44
Sulsel
Didis Suryadi Dicopot sebagai Ketua DPRD Jeneponto, NasDem Usulkan Sumarni Kr Layu
Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai NasDem resmi mengeluarkan keputusan terkait pergantian Ketua DPRD Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan (Sulsel). Sumarni Kr. Layu diusulkan menggantikan Didis Suryadi untuk sisa masa jabatan 2024-2029.
Kamis, 03 Sep 2026 20:29
News
Panoptikon Digital dan Kemerdekaan yang Semu
Setiap 17 Agustus, ruang digital Indonesia berubah menjadi lautan merah putih. Foto profil berganti, bendera menghiasi linimasa, tagar kemerdekaan bermunculan, dan video lomba tujuh belasan beredar dari berbagai daerah.
Senin, 24 Agu 2026 07:27
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Matangkan Pelaksanaan SKD Poltekpin 2026, 132 Peserta Siap Ikuti Seleksi
2
PJM Tingkatkan SDM Pandu, Perkuat Keselamatan dan Keandalan Pelayaran
3
Gandeng Tiga Bank, Perumahan Subsidi Alexandria City Moncongloe Gelar Akad Massal 250 User
4
FSIKP UMI Gelar Kick-Off BIPA untuk Mahasiswa Internasional
5
Guru Jeneponto Ikuti Bimtek Literasi dan Numerasi
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Matangkan Pelaksanaan SKD Poltekpin 2026, 132 Peserta Siap Ikuti Seleksi
2
PJM Tingkatkan SDM Pandu, Perkuat Keselamatan dan Keandalan Pelayaran
3
Gandeng Tiga Bank, Perumahan Subsidi Alexandria City Moncongloe Gelar Akad Massal 250 User
4
FSIKP UMI Gelar Kick-Off BIPA untuk Mahasiswa Internasional
5
Guru Jeneponto Ikuti Bimtek Literasi dan Numerasi