Antrean BBM, Ketika Kesabaran Rakyat Diuji
Minggu, 13 Sep 2026 09:44
Samsir Salam, Mantan Ketua HMI Cabang Gowa Raya. Foto: Istimewa
Oleh Samsir Salam
(Mantan Ketua HMI Cabang Gowa Raya)
Ada pemandangan baru yang tampaknya mulai menjadi ciri khas Sulawesi Selatan akhir-akhir ini: antrean kendaraan di SPBU. Pagi ada antrean, siang masih antrean, malam pun antrean. Barangkali suatu saat antrean BBM perlu dimasukkan sebagai salah satu destinasi wisata baru, karena hampir di setiap SPBU masyarakat dapat menikmati “perjalanan panjang” tanpa harus meninggalkan kendaraannya.
Bedanya, wisatawan biasanya membayar untuk mendapatkan pengalaman, sementara masyarakat di sini harus menghabiskan waktu hanya untuk mendapatkan BBM.
Di balik pemandangan yang tampak sederhana itu, sesungguhnya terdapat persoalan yang tidak sederhana. Antrean yang panjang mulai memunculkan pertengkaran, bahkan perkelahian karena saling menyerobot.
Masyarakat yang semestinya hanya menunggu giliran akhirnya harus berhadapan dengan emosi dan ketegangan. Ironisnya, di tengah keadaan tersebut kita masih mendengar bahwa stok BBM tersedia dan aman. Kalau BBM memang tersedia, mungkin yang perlu diperiksa bukan hanya tangki penyimpanannya, tetapi juga perjalanan BBM itu sebelum sampai ke tangki kendaraan masyarakat.
BBM bukan sekadar bahan bakar. Ia menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Terlebih BBM bersubsidi yang di dalamnya terdapat kebijakan dan uang negara. Karena itu, masyarakat berhak mengetahui bagaimana BBM dialokasikan dan didistribusikan.
Jangan sampai BBM tersedia dalam laporan, tetapi menjadi langka ketika masyarakat datang ke SPBU. Al-Qur’an mengingatkan dalam QS Al-Muthaffifin ayat 1–3: “Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”
Pesannya sederhana: jangan mengambil lebih dari yang menjadi hak kita dan jangan mengurangi hak orang lain. John Rawls menyebut keadilan sebagai fairness, bahwa manfaat dan beban dalam kehidupan bersama harus ditempatkan secara adil. Dalam konteks BBM, subsidi seharusnya sampai kepada masyarakat yang memang berhak, bukan lebih mudah dinikmati oleh mereka yang memiliki akses lebih besar.
Kita tidak perlu tergesa-gesa menyebut mafia BBM tanpa bukti. Tetapi pemerintah juga tidak cukup hanya mengatakan stok aman. Jika persoalannya distribusi, benahi; jika kuota tidak mencukupi, jelaskan; jika ada penyalahgunaan, tindak. Masyarakat tidak membutuhkan banyak alasan. Mereka hanya membutuhkan kepastian bahwa BBM yang tersedia benar-benar dapat mereka peroleh.
Sebab ketika orang yang sudah berjam-jam mengantre harus berhadapan dengan mereka yang menyerobot, persoalannya tidak lagi sekadar tentang BBM. Ada rasa percaya yang ikut dipertaruhkan.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu bersyukur karena antrean BBM telah mengajarkan satu hal yang sangat sederhana: masyarakat ternyata masih sangat sabar. Mereka rela berdiri berjam-jam, mematikan mesin, menunggu giliran, bahkan menunda pekerjaannya.
Hanya saja, jangan sampai kesabaran rakyat dianggap sebagai sistem distribusi yang sudah berjalan baik. Sebab kalau rakyat terus diminta belajar bersabar, sementara BBM terus mengajarkan mereka untuk mengantre, mungkin yang sesungguhnya perlu belajar bukan rakyat, tetapi mereka yang diberi amanah mengatur perjalanan BBM sampai ke tangki rakyat.
(Mantan Ketua HMI Cabang Gowa Raya)
Ada pemandangan baru yang tampaknya mulai menjadi ciri khas Sulawesi Selatan akhir-akhir ini: antrean kendaraan di SPBU. Pagi ada antrean, siang masih antrean, malam pun antrean. Barangkali suatu saat antrean BBM perlu dimasukkan sebagai salah satu destinasi wisata baru, karena hampir di setiap SPBU masyarakat dapat menikmati “perjalanan panjang” tanpa harus meninggalkan kendaraannya.
Bedanya, wisatawan biasanya membayar untuk mendapatkan pengalaman, sementara masyarakat di sini harus menghabiskan waktu hanya untuk mendapatkan BBM.
Di balik pemandangan yang tampak sederhana itu, sesungguhnya terdapat persoalan yang tidak sederhana. Antrean yang panjang mulai memunculkan pertengkaran, bahkan perkelahian karena saling menyerobot.
Masyarakat yang semestinya hanya menunggu giliran akhirnya harus berhadapan dengan emosi dan ketegangan. Ironisnya, di tengah keadaan tersebut kita masih mendengar bahwa stok BBM tersedia dan aman. Kalau BBM memang tersedia, mungkin yang perlu diperiksa bukan hanya tangki penyimpanannya, tetapi juga perjalanan BBM itu sebelum sampai ke tangki kendaraan masyarakat.
BBM bukan sekadar bahan bakar. Ia menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Terlebih BBM bersubsidi yang di dalamnya terdapat kebijakan dan uang negara. Karena itu, masyarakat berhak mengetahui bagaimana BBM dialokasikan dan didistribusikan.
Jangan sampai BBM tersedia dalam laporan, tetapi menjadi langka ketika masyarakat datang ke SPBU. Al-Qur’an mengingatkan dalam QS Al-Muthaffifin ayat 1–3: “Celakalah bagi orang-orang yang curang, yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”
Pesannya sederhana: jangan mengambil lebih dari yang menjadi hak kita dan jangan mengurangi hak orang lain. John Rawls menyebut keadilan sebagai fairness, bahwa manfaat dan beban dalam kehidupan bersama harus ditempatkan secara adil. Dalam konteks BBM, subsidi seharusnya sampai kepada masyarakat yang memang berhak, bukan lebih mudah dinikmati oleh mereka yang memiliki akses lebih besar.
Kita tidak perlu tergesa-gesa menyebut mafia BBM tanpa bukti. Tetapi pemerintah juga tidak cukup hanya mengatakan stok aman. Jika persoalannya distribusi, benahi; jika kuota tidak mencukupi, jelaskan; jika ada penyalahgunaan, tindak. Masyarakat tidak membutuhkan banyak alasan. Mereka hanya membutuhkan kepastian bahwa BBM yang tersedia benar-benar dapat mereka peroleh.
Sebab ketika orang yang sudah berjam-jam mengantre harus berhadapan dengan mereka yang menyerobot, persoalannya tidak lagi sekadar tentang BBM. Ada rasa percaya yang ikut dipertaruhkan.
Pada akhirnya, mungkin kita perlu bersyukur karena antrean BBM telah mengajarkan satu hal yang sangat sederhana: masyarakat ternyata masih sangat sabar. Mereka rela berdiri berjam-jam, mematikan mesin, menunggu giliran, bahkan menunda pekerjaannya.
Hanya saja, jangan sampai kesabaran rakyat dianggap sebagai sistem distribusi yang sudah berjalan baik. Sebab kalau rakyat terus diminta belajar bersabar, sementara BBM terus mengajarkan mereka untuk mengantre, mungkin yang sesungguhnya perlu belajar bukan rakyat, tetapi mereka yang diberi amanah mengatur perjalanan BBM sampai ke tangki rakyat.
(GUS)
Berita Terkait
News
Menakar Keadilan Substantif Putusan MK: Ijazah, Kekuasaan, dan Konstitusi
Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 mengenai persoalan syarat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyisakan pertanyaan yang lebih besar daripada sekadar persoalan ijazah: apakah keadilan substantif telah benar-benar menemukan tempatnya
Rabu, 07 Okt 2026 12:42
News
Linieritas Penting, tetapi Guru Bukan Garis Lurus
Karena itu, persoalannya bukan sesederhana: linier berarti baik, tidak linier berarti buruk. Linieritas adalah fondasi penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran profesionalitas.
Senin, 05 Okt 2026 21:49
News
Dari Bilik Suara OSIS, Demokrasi Belajar Tumbuh
Masa depan demokrasi Indonesia sedang diuji di tempat yang sering kita anggap sederhana: bilik suara pemilihan ketua OSIS.
Selasa, 22 Sep 2026 17:28
News
Panoptikon Digital dan Kemerdekaan yang Semu
Setiap 17 Agustus, ruang digital Indonesia berubah menjadi lautan merah putih. Foto profil berganti, bendera menghiasi linimasa, tagar kemerdekaan bermunculan, dan video lomba tujuh belasan beredar dari berbagai daerah.
Senin, 24 Agu 2026 07:27
News
Siapa Kita? Kita UNM: Merawat Identitas Kolektif di Tengah Zaman yang Individualistik
Di sebuah kampus di ujung timur Indonesia, sebuah pertanyaan sederhana sedang digaungkan: "Siapa kita?" Jawabannya pun singkat, padat, dan sarat makna: "Kita UNM." Frasa ini bukan sekadar jargon institusional yang lahir dari ruang rapat humas. Ia adalah pernyataan sikap-sebuah upaya sadar Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk merawat sesuatu yang belakangan makin langka di ruang-ruang pendidikan tinggi kita: rasa kebersamaan.
Rabu, 19 Agu 2026 20:52
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Resmi Gabung Demokrat, Appi Ajak Kader Bersama-sama Besarkan Partai
2
Kuasa Hukum Husniah Talenrang Desak Polda Sulsel Usut Dugaan Hilangnya Dokumen MA
3
Putusan MA Soal Prof Ichsan Ali Belum Tuntas, Legalitas Senat UNM Jelang Pilrek Disorot
4
Tujuh Dekade Asuransi Astra: Menanam Literasi, Memanen Kepercayaan
5
Sarasehan Kemitraan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting Bersama Mitra Pentahelix
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Resmi Gabung Demokrat, Appi Ajak Kader Bersama-sama Besarkan Partai
2
Kuasa Hukum Husniah Talenrang Desak Polda Sulsel Usut Dugaan Hilangnya Dokumen MA
3
Putusan MA Soal Prof Ichsan Ali Belum Tuntas, Legalitas Senat UNM Jelang Pilrek Disorot
4
Tujuh Dekade Asuransi Astra: Menanam Literasi, Memanen Kepercayaan
5
Sarasehan Kemitraan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting Bersama Mitra Pentahelix