Ketika yang Salah Bukan Murid, Melainkan Cara Kita Membacanya
Senin, 03 Agu 2026 17:40
Zaid Buri Prahastyo Mangunpuspito. Foto/Istimewa
Oleh: Zaid Buri Prahastyo Mangunpuspito
Ada satu pertanyaan yang selalu saya bawa setiap kali memasuki sekolah. Mengapa ada murid yang datang terlambat? Mengapa ada yang memilih tidak masuk sekolah? Mengapa ada yang hadir setiap hari, tetapi pulang tanpa pernah benar-benar merasa belajar?
Selama ini kita terlalu cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Aturan diperketat, pengawasan ditambah, dan berbagai program terus dibuat. Seolah-olah setiap persoalan murid selalu dapat diselesaikan dengan disiplin yang lebih kuat. Namun, semakin lama saya berkecimpung di dunia pendidikan, semakin saya percaya bahwa persoalannya mungkin bukan pada murid. Yang perlu kita ubah justru cara kita membacanya. Seorang murid tidak pernah hidup sebagai angka. Ia hidup sebagai manusia.
Yang kita lihat adalah nilainya. Yang kita catat adalah absensinya. Yang kita beri sanksi adalah pelanggarannya. Padahal, di balik semua itu ada cerita yang sering tidak kita baca. Mungkin ada anak yang harus membantu orang tuanya sebelum berangkat ke sekolah. Mungkin ada kegelisahan yang tak pernah memiliki ruang untuk diceritakan. Bahkan, di balik nilai yang rendah bisa jadi ada seorang anak yang telah kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri.
Di era teknologi, sekolah tidak kekurangan data. Yang mulai langka justru kemampuan membaca manusia. Padahal, berbagai penelitian menyampaikan pesan yang sama. PISA 2022 menegaskan bahwa dukungan guru dan rasa memiliki terhadap sekolah berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. UNESCO menempatkan empati dan kemampuan sosial-emosional sebagai kompetensi penting abad ke-21. Sementara itu, WHO mengingatkan bahwa kesehatan mental remaja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar. Anak belajar lebih baik ketika mereka merasa dipahami.
Kegelisahan itu saya bawa ketika dipercaya memfasilitasi Kelas Kompetensi Temu Pendidik Nusantara XIII di Kabupaten Enrekang. Hari itu saya tidak memulai kelas dengan teori. Saya mengajak para guru menjadi murid. Mereka membaca setumpuk cerita, berdiskusi, lalu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang sengaja saya batasi. Perlahan, ruangan menjadi sunyi. Mereka mulai merasakan bagaimana rasanya dinilai sebelum dipahami. Yang paling saya ingat bukanlah ramainya peserta, melainkan perubahan satu pertanyaan.
Di awal sesi mereka bertanya, “Bagaimana cara memperbaiki murid?”
Di akhir sesi, pertanyaannya berubah, “Bagaimana sebenarnya kita membaca murid?”
Saya percaya, perubahan pendidikan hampir selalu dimulai ketika pertanyaan kita berubah.
Perjalanan pulang dari Enrekang membawa saya pada kisah yang sejak kecil hidup di tengah keluarga kami, yaitu sosok buyut saya, Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito, yang menjadi tokoh Kongres Perempuan Indonesia sekaligus salah satu penggerak lahirnya Hari Ibu.
Hampir satu abad lalu, para perempuan dari berbagai daerah berkumpul dalam Kongres Perempuan Indonesia. Mereka percaya bahwa membangun bangsa harus dimulai dengan membangun manusia melalui pendidikan, keluarga, dan kesadaran sosial. Dari semangat itulah lahir sejarah yang kini kita kenal sebagai Hari Ibu.
Semakin saya mempelajari jejak perjuangannya, semakin saya memahami bahwa warisan terbesarnya bukanlah sebuah peringatan tahunan, melainkan cara memandang manusia. Pendidikan bukan sekadar mencetak anak yang patuh, tetapi memerdekakan manusia agar mampu bertumbuh. Kesadaran itulah yang membuat saya merasa bahwa setiap kali berdiri di hadapan para guru, saya hanya sedang melanjutkan sebuah percakapan yang telah dimulai hampir seabad lalu.
Percakapan itu justru semakin relevan hari ini. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan yang mampu membaca jutaan data, hanya guru yang mampu membaca manusia. Tidak ada algoritma yang dapat memahami tatapan seorang anak yang sedang kehilangan harapan atau menangkap luka yang membuatnya berhenti percaya pada dirinya sendiri.
Karena itu, saya percaya bahwa pekerjaan pertama seorang guru bukanlah mengajar.
Pekerjaan pertama seorang guru adalah membaca.
Membaca cerita yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran.
Membaca kecemasan yang tidak pernah muncul di rapor.
Membaca potensi yang sering tersembunyi di balik perilaku seorang anak.
Jika ada satu pola pikir yang perlu terus ditanamkan kepada setiap pendidik Indonesia, maka itu adalah, “Jangan terburu-buru menilai sebelum sungguh-sungguh memahami.” Sebab, setiap perilaku adalah pesan, dan hanya guru yang bersedia memahami yang mampu membacanya.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan Indonesia mungkin tidak selalu dimulai dari kurikulum baru atau teknologi baru. Bisa jadi, perubahan terbesar justru lahir ketika seorang guru memilih melihat seorang murid sebagai manusia terlebih dahulu.
Ada satu pertanyaan yang selalu saya bawa setiap kali memasuki sekolah. Mengapa ada murid yang datang terlambat? Mengapa ada yang memilih tidak masuk sekolah? Mengapa ada yang hadir setiap hari, tetapi pulang tanpa pernah benar-benar merasa belajar?
Selama ini kita terlalu cepat menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Aturan diperketat, pengawasan ditambah, dan berbagai program terus dibuat. Seolah-olah setiap persoalan murid selalu dapat diselesaikan dengan disiplin yang lebih kuat. Namun, semakin lama saya berkecimpung di dunia pendidikan, semakin saya percaya bahwa persoalannya mungkin bukan pada murid. Yang perlu kita ubah justru cara kita membacanya. Seorang murid tidak pernah hidup sebagai angka. Ia hidup sebagai manusia.
Yang kita lihat adalah nilainya. Yang kita catat adalah absensinya. Yang kita beri sanksi adalah pelanggarannya. Padahal, di balik semua itu ada cerita yang sering tidak kita baca. Mungkin ada anak yang harus membantu orang tuanya sebelum berangkat ke sekolah. Mungkin ada kegelisahan yang tak pernah memiliki ruang untuk diceritakan. Bahkan, di balik nilai yang rendah bisa jadi ada seorang anak yang telah kehilangan keyakinan pada dirinya sendiri.
Di era teknologi, sekolah tidak kekurangan data. Yang mulai langka justru kemampuan membaca manusia. Padahal, berbagai penelitian menyampaikan pesan yang sama. PISA 2022 menegaskan bahwa dukungan guru dan rasa memiliki terhadap sekolah berpengaruh terhadap keberhasilan belajar. UNESCO menempatkan empati dan kemampuan sosial-emosional sebagai kompetensi penting abad ke-21. Sementara itu, WHO mengingatkan bahwa kesehatan mental remaja merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar. Anak belajar lebih baik ketika mereka merasa dipahami.
Kegelisahan itu saya bawa ketika dipercaya memfasilitasi Kelas Kompetensi Temu Pendidik Nusantara XIII di Kabupaten Enrekang. Hari itu saya tidak memulai kelas dengan teori. Saya mengajak para guru menjadi murid. Mereka membaca setumpuk cerita, berdiskusi, lalu mengambil keputusan berdasarkan informasi yang sengaja saya batasi. Perlahan, ruangan menjadi sunyi. Mereka mulai merasakan bagaimana rasanya dinilai sebelum dipahami. Yang paling saya ingat bukanlah ramainya peserta, melainkan perubahan satu pertanyaan.
Di awal sesi mereka bertanya, “Bagaimana cara memperbaiki murid?”
Di akhir sesi, pertanyaannya berubah, “Bagaimana sebenarnya kita membaca murid?”
Saya percaya, perubahan pendidikan hampir selalu dimulai ketika pertanyaan kita berubah.
Perjalanan pulang dari Enrekang membawa saya pada kisah yang sejak kecil hidup di tengah keluarga kami, yaitu sosok buyut saya, Siti Sukaptinah Sunaryo Mangunpuspito, yang menjadi tokoh Kongres Perempuan Indonesia sekaligus salah satu penggerak lahirnya Hari Ibu.
Hampir satu abad lalu, para perempuan dari berbagai daerah berkumpul dalam Kongres Perempuan Indonesia. Mereka percaya bahwa membangun bangsa harus dimulai dengan membangun manusia melalui pendidikan, keluarga, dan kesadaran sosial. Dari semangat itulah lahir sejarah yang kini kita kenal sebagai Hari Ibu.
Semakin saya mempelajari jejak perjuangannya, semakin saya memahami bahwa warisan terbesarnya bukanlah sebuah peringatan tahunan, melainkan cara memandang manusia. Pendidikan bukan sekadar mencetak anak yang patuh, tetapi memerdekakan manusia agar mampu bertumbuh. Kesadaran itulah yang membuat saya merasa bahwa setiap kali berdiri di hadapan para guru, saya hanya sedang melanjutkan sebuah percakapan yang telah dimulai hampir seabad lalu.
Percakapan itu justru semakin relevan hari ini. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan yang mampu membaca jutaan data, hanya guru yang mampu membaca manusia. Tidak ada algoritma yang dapat memahami tatapan seorang anak yang sedang kehilangan harapan atau menangkap luka yang membuatnya berhenti percaya pada dirinya sendiri.
Karena itu, saya percaya bahwa pekerjaan pertama seorang guru bukanlah mengajar.
Pekerjaan pertama seorang guru adalah membaca.
Membaca cerita yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran.
Membaca kecemasan yang tidak pernah muncul di rapor.
Membaca potensi yang sering tersembunyi di balik perilaku seorang anak.
Jika ada satu pola pikir yang perlu terus ditanamkan kepada setiap pendidik Indonesia, maka itu adalah, “Jangan terburu-buru menilai sebelum sungguh-sungguh memahami.” Sebab, setiap perilaku adalah pesan, dan hanya guru yang bersedia memahami yang mampu membacanya.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan Indonesia mungkin tidak selalu dimulai dari kurikulum baru atau teknologi baru. Bisa jadi, perubahan terbesar justru lahir ketika seorang guru memilih melihat seorang murid sebagai manusia terlebih dahulu.
(TRI)
Berita Terkait
News
Polri di Persimpangan: Menguji Warisan Listyo Sigit, Memulihkan Marwah Bhayangkara
Presidium Pusat Alumni Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia, Illank Radjab memberikan pandangannya terhadap kondisi politik saat ini. Serta catatan tentang kekuasaan, loyalitas institusional, dan agenda penyegaran kepolisian.
Rabu, 04 Nov 2026 22:01
News
Sengkarut Bernegara: Ketika Penjaga Hukum Berhadapan dengan Hukum
ADA sesuatu yang patut direnungkan secara serius ketika aparat yang diberi mandat untuk menegakkan hukum justru harus berhadapan dengan proses hukum. Terlebih ketika persoalan tersebut melibatkan sejumlah pejabat tinggi kepolisian, termasuk mereka yang pernah menduduki posisi strategis dalam institusi penegak hukum.
Rabu, 04 Nov 2026 08:12
News
Menjemput Takdir Sejarah di Tanah Bersejarah
Begitulah Darmawangsyah Muin, yang akrab disingkat DM, menjemput takdir politiknya di tanah bersejarah, Gowa. Pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman melantiknya sebagai Bupati Gowa ke-12.
Kamis, 29 Okt 2026 13:53
News
Pilar Kepemimpinan Inklusif
Dalam kepemimpinan inklusif, terdapat empat pilar utama yang menjadi fondasi, yaitu keamanan psikologis, keadilan struktural, keberagaman kognitif, dan keteladanan empatis.
Rabu, 28 Okt 2026 11:07
News
Mencari Nasionalisme Pemuda
ADA hari-hari dalam kalender bangsa yang bukan sekadar peringatan masa lalu, melainkan cermin yang menampar kesadaran kita saat ini. Bulan Oktober mempersembahkan dua ikon penting: Sumpah Pemuda, lahir pada 1928 sebagai pernyataan politik dan budaya satu bangsa; dan Hari Santri, diperingati setiap 22 Oktober, lahir dari kesadaran bahwa keimanan dan tanah air tak terpisahkan.
Rabu, 28 Okt 2026 09:14
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Umrah Pimpinan UMI, Perkuat Ukhuwah dan Refleksi Kepemimpinan Islami
2
Kejati Sulsel Periksa 10 Kepala Sekolah SMA di Jeneponto
3
Ahli Pidana Sebut Penetapan Tersangka Kedua Bahtiar Cacat Hukum dan Tidak Sah
4
November Makin Ceria, Asmo Sulsel Tawarkan Promo Honda Beragam Keuntungan
5
Sulsel Raih Tiga Penghargaan pada GENTING Collaboration Summit 2026
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Umrah Pimpinan UMI, Perkuat Ukhuwah dan Refleksi Kepemimpinan Islami
2
Kejati Sulsel Periksa 10 Kepala Sekolah SMA di Jeneponto
3
Ahli Pidana Sebut Penetapan Tersangka Kedua Bahtiar Cacat Hukum dan Tidak Sah
4
November Makin Ceria, Asmo Sulsel Tawarkan Promo Honda Beragam Keuntungan
5
Sulsel Raih Tiga Penghargaan pada GENTING Collaboration Summit 2026