Siapa Kita? Kita UNM: Merawat Identitas Kolektif di Tengah Zaman yang Individualistik

Rabu, 19 Agu 2026 20:52
Siapa Kita? Kita UNM: Merawat Identitas Kolektif di Tengah Zaman yang Individualistik
Basti Tetteng, Pemerhati Pendidikan dan Dosen Fakultas Psikologi UNM. Foto: Istimewa
Comment
Share
Basti Tetteng
(Pemerhati Pendidikan dan Dosen Fakultas Psikologi UNM)

DI sebuah kampus di ujung timur Indonesia, sebuah pertanyaan sederhana sedang digaungkan: "Siapa kita?" Jawabannya pun singkat, padat, dan sarat makna: "Kita UNM." Frasa ini bukan sekadar jargon institusional yang lahir dari ruang rapat humas. Ia adalah pernyataan sikap-sebuah upaya sadar Universitas Negeri Makassar (UNM) untuk merawat sesuatu yang belakangan makin langka di ruang-ruang pendidikan tinggi kita: rasa kebersamaan.

Kata "kita" tampak sepele. Ia hanya kata ganti orang pertama jamak, diajarkan sejak kelas satu sekolah dasar. Namun dalam praktiknya, "kita" adalah salah satu kata paling revolusioner dalam kosakata sosial manusia. Ia membedakan diri dari "saya", dari "aku", dari "gue". Ketika seseorang berkata "aku", ia berbicara sebagai individu yang berdiri sendiri, dengan kepentingan, ambisi, dan batas-batasnya sendiri. Namun ketika ia berkata "kita", ia telah melangkah keluar dari dirinya sendiri dan masuk ke dalam sebuah ruang bersama, ruang di mana keberhasilan dan kegagalan, kebanggaan dan tanggung jawab, tidak lagi ditanggung sendirian.

Krisis "Aku" di Kampus Kita

Kita hidup di era yang secara struktural mendorong orang untuk berpikir sebagai "aku". Media sosial mengajarkan kita membangun personal branding. Sistem pendidikan tinggi, dengan segala tekanan indeks prestasi, jalur beasiswa kompetitif, dan rasionalisasi ekonomi pendidikan, kerap tanpa sadar menempatkan mahasiswa dalam logika kompetisi individual: siapa cepat, dia dapat; siapa unggul, dia menang. Dosen berlomba mengejar angka kredit dan publikasi atas nama diri sendiri. Mahasiswa berlomba mengejar IPK dan sertifikat demi CV pribadi.

Tidak ada yang salah dengan ambisi individu. Namun ketika sebuah kampus yang idealnya adalah rumah bersama bagi ribuan civitas akademika- kehilangan bahasa "kita"-nya, ia berisiko menjadi sekadar kumpulan individu yang kebetulan berbagi alamat dan logo yang sama. Gedung boleh megah, akreditasi boleh unggul, tetapi jika setiap orang di dalamnya merasa sendirian dalam perjuangannya, maka kampus itu telah kehilangan jiwanya.

Di titik inilah slogan "Kita UNM" menemukan relevansinya yang mendalam. Ia adalah upaya menahan laju individualisasi yang, jika dibiarkan, akan mengikis apa yang sesungguhnya membuat sebuah universitas layak disebut komunitas ilmiah, bukan sekadar korporasi jasa pendidikan.

Identitas Kolektif Bukan Keseragaman

Penting untuk menegaskan satu hal: "kita" tidak berarti seragam. Kebersamaan yang sehat bukanlah kebersamaan yang menghapus perbedaan, melainkan kebersamaan yang merangkulnya. Di UNM, ada mahasiswa dari Fakultas Ilmu Pendidikan yang bercita-cita menjadi guru di pelosok Sulawesi, ada mahasiswa Fakultas Teknik yang merancang solusi infrastruktur, ada dosen ilmu sosial yang meneliti dinamika masyarakat adat, ada tenaga kependidikan yang setiap hari memastikan roda administrasi berjalan. Mereka berbeda peran, berbeda disiplin ilmu, berbeda latar belakang. Tetapi ketika mereka berkata "kita UNM", perbedaan itu tidak lenyap—ia justru dirangkai menjadi kekuatan kolektif yang lebih besar daripada jumlah bagian-bagiannya.

Inilah makna sejati dari identitas kolektif: bukan penyeragaman, melainkan penyatuan tujuan di atas keragaman cara. Guru besar dan mahasiswa baru sama-sama "kita UNM" ketika mereka merasa memiliki tanggung jawab yang sama terhadap nama baik almamater, terhadap mutu pendidikan yang dihasilkan, dan terhadap kontribusi kampus bagi masyarakat luas.

Dari Slogan Menuju Praktik

Namun slogan yang baik selalu menghadapi ujian yang sama: apakah ia akan berhenti sebagai kalimat di baliho, pidato dan media sosial kampus, ataukah ia benar-benar meresap menjadi budaya keseharian? Sejarah dunia pendidikan tinggi Indonesia tidak kekurangan slogan-slogan indah yang pada akhirnya menguap tanpa bekas, sekadar jadi hiasan gerbang kampus.

Agar "Kita UNM" tidak bernasib serupa, ia harus diterjemahkan ke dalam praktik-praktik konkret. Ia harus terasa ketika seorang mahasiswa baru dari daerah terpencil disambut bukan dengan birokrasi yang dingin, melainkan dengan kepedulian yang tulus dari kakak tingkat dan dosen pembimbingnya. Ia harus terasa ketika tenaga kebersihan dan satpam kampus diperlakukan sebagai bagian yang sama pentingnya dari "kita", bukan sekadar latar belakang yang tak terlihat. Ia harus terasa ketika kebijakan kampus dirumuskan dengan mendengarkan suara mahasiswa, bukan sekadar menetapkannya dari atas.

Rasa memiliki tidak tumbuh dari slogan yang diulang-ulang, melainkan dari pengalaman berulang bahwa dirinya diperhitungkan, didengarkan, dan dilibatkan. "Kita" adalah kata yang harus dibuktikan melalui perlakuan, bukan sekadar diucapkan melalui jargon.

Kita dalam Konteks yang Lebih Luas

Ada dimensi lain yang layak direnungkan. Di tengah tantangan bangsa yang kian kompleks, polarisasi sosial, disrupsi teknologi, hingga krisis kepercayaan terhadap institusi publik- kampus semestinya menjadi salah satu ruang terakhir yang masih mengajarkan bagaimana caranya hidup bersama secara bermakna. Jika mahasiswa dan dosen di UNM belajar merawat "kita" di lingkungan kampusnya sendiri, mereka sesungguhnya sedang berlatih menjadi warga negara yang mampu merawat "kita Indonesia" yang jauh lebih besar dan lebih rumit.

Dengan demikian, "Siapa Kita? Kita UNM" bukan hanya slogan pencitraan lembaga. Ia adalah latihan kebangsaan dalam skala kecil, sebuah laboratorium sosial di mana ribuan individu belajar bahwa kepentingan bersama tidak harus mengorbankan keunikan pribadi, dan bahwa keberhasilan kolektif justru memperkuat, bukan meniadakan, pencapaian individu.

Pertanyaan "siapa kita" pada akhirnya bukan pertanyaan yang cukup dijawab sekali, melalui satu slogan yang dipidatokan atau dicetak di spanduk. Ia adalah pertanyaan yang harus terus-menerus dijawab ulang, dalam setiap keputusan, setiap kebijakan, setiap interaksi keseharian di kampus. Dan jika UNM sungguh-sungguh menghidupi jawaban itu, bukan sekadar mengucapkannya, maka "Kita UNM" akan menjadi lebih dari sekadar identitas kelembagaan. Ia akan menjadi warisan nilai yang dibawa pulang oleh setiap lulusannya, ke mana pun mereka pergi. Fastabiqulkhaerat
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru