Belajar Membaca Tanda Alam Sejak Dini, Edukasi Perubahan Iklim di SD Inpres Perumnas Antang I

Sabtu, 14 Feb 2026 14:56
Belajar Membaca Tanda Alam Sejak Dini, Edukasi Perubahan Iklim di SD Inpres Perumnas Antang I
Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Gelombang 115 Universitas Hasanuddin mengajak siswa memahami perubahan iklim secara sederhana, kontekstual, dan dekat dengan pengalaman.
Comment
Share
MAKASSAR - Mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Gelombang 115 Universitas Hasanuddin mengajak siswa memahami perubahan iklim secara sederhana, kontekstual, dan dekat dengan pengalaman sehari-hari di lingkungan tempat tinggal mereka.

Melalui program “Edukasi dan Pengenalan Perubahan Iklim pada Anak Sekolah Dasar” dan melihat Cuaca yang semakin tidak menentu menjadi pintu masuk edukasi perubahan iklim bagi siswa di Kota Makassar hal yang menjadi penting.

Perubahan iklim kini tidak lagi menjadi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Di Kota Makassar dan wilayah sekitarnya, cuaca yang sulit diprediksi, hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat, serta panas yang terasa lebih ekstrem mulai sering dirasakan masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak perubahan iklim telah hadir di tingkat lokal dan perlu dipahami sejak usia dini.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi tersebut, mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Gelombang 115 Universitas Hasanuddin melaksanakan program kerja “Edukasi dan Pengenalan Perubahan Iklim pada Anak Sekolah Dasar” di SD Inpres Perumnas Antang I, yang berlokasi di Kelurahan Manggala, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Kegiatan ini dilaksanakan pada 24 Januari 2026, pukul 10.45–12.00 WITA, dan diikuti oleh 60 siswa, terdiri dari 30 siswa kelas 5 dan 30 siswa kelas 6.

Kepala SD Inpres Perumnas Antang I, Bapak Rahdan Rahman, mengapresiasi atas pelaksanaan kegiatan edukatif yang dinilai relevan dengan kondisi lingkungan saat ini dan penting bagi peningkatan literasi lingkungan siswa. "Ini hal positif, dan baik untuk anak-anak," katanya.

Andi Aliyah Febrianti, mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2023, yang menjalan KKN Tematik Perubahan Iklim Gelombang 115 Universitas Hasanuddin. Penyampaian materi dirancang interaktif dengan menggunakan bahasa sederhana, ilustrasi visual, serta contoh-contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari siswa di lingkungan perkotaan Makassar.

Kegiatan diawali dengan mengajak siswa merefleksikan kondisi cuaca yang mereka rasakan akhir-akhir ini. Siswa diminta berbagi pengalaman terkait hujan deras yang datang tiba-tiba, panas yang terasa lebih lama, atau perubahan musim yang sulit ditebak.

"Pendekatan ini dilakukan untuk menunjukkan bahwa perubahan iklim bukanlah konsep yang jauh, melainkan fenomena nyata yang dapat diamati di sekitar mereka," katanya, Sabtu 14 Februari 2026.

Aliyah menambahkan, siswa diperkenalkan pada konsep dasar perubahan iklim sebagai perubahan pola cuaca jangka panjang yang terjadi secara berulang. Penjelasan difokuskan pada pemahaman bahwa perubahan iklim tidak diukur dari satu kejadian cuaca ekstrem, tetapi dari kejadian-kejadian yang terus berulang dari tahun ke tahun dan membentuk pola baru.

Dalam sesi berikutnya, siswa diajak memahami penyebab perubahan iklim yang berkaitan dengan aktivitas manusia, seperti meningkatnya penggunaan energi, perilaku konsumtif, serta penumpukan sampah rumah tangga dan industri. Materi disampaikan secara persuasif untuk menumbuhkan kesadaran bahwa tindakan manusia memiliki kontribusi terhadap kondisi lingkungan.

Untuk menjaga antusiasme siswa, kegiatan ini juga dimeriahkan dengan kuis interaktif berhadiah.

"Melalui kuis tersebut, siswa didorong untuk aktif menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat, serta mengulang kembali materi yang telah disampaikan. Suasana kelas berlangsung hidup dan partisipatif," ujarnya.

“Kegiatannya seru dan menyenangkan. Saya jadi tahu kenapa cuaca sekarang sering berubah-ubah dan jadi lebih peduli sama lingkungan.”

Melalui program ini, mahasiswa KKN Tematik Perubahan Iklim Gelombang 115 Universitas Hasanuddin berharap siswa sekolah dasar di Kelurahan Manggala dan wilayah sekitarnya tidak hanya memahami konsep perubahan iklim, tetapi juga tumbuh rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan sejak dini.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru