Safari Ramadhan, Gubernur Papua Dengar Aspirasi Rakyat untuk Jaga Arah Pembangunan
Sabtu, 14 Mar 2026 15:27
Gubernur Papua Matius D Fakhiri melakukan Safari Ramadhan di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom.
JAYAPURA - Gubernur Papua Matius D Fakhiri melakukan Safari Ramadhan di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, dan Kabupaten Keerom.
Kegiatan ini sebagai bukan hanya agenda rutin seperti berbuka bersama, salat berjamaah, lalu sambutan pemerintah. Tetapi lebih dari sekadar seremoni Safari Ramadhan ini perlahan berubah menjadi ruang mendengar rakyat.
Di setiap masjid yang didatangi, Gubernur selalu membuka ruang dialog. Jamaah dipersilakan menyampaikan apa yang mereka rasakan tentang pembangunan: jalan, sekolah, layanan kesehatan, bantuan ekonomi, hingga pelayanan publik. Tidak ada sekat yang terlalu formal. Masyarakat berbicara langsung dan kadang sederhana, tetapi jujur.
Yang menarik, Gubernur tidak datang sendiri. Ia selalu mengajak SKPD teknis yang terkait dengan persoalan masyarakat. Ketika jamaah berbicara tentang jalan, dinas teknis ada untuk mendengar. Ketika yang muncul soal pendidikan atau kesehatan, pejabat yang bertanggung jawab ikut mencatat dan merespons.
Dengan cara ini, masjid tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga menjadi ruang komunikasi antara pemerintah dan rakyat.
Sering kali dalam pembangunan, masalah terbesar bukan semata kekurangan program, melainkan jarak komunikasi antara kebijakan dan masyarakat. Pemerintah merasa telah bekerja, tetapi masyarakat belum tentu mengetahui arah dan prosesnya. Sebaliknya, pemerintah juga tidak selalu cukup mendengar bagaimana rakyat merasakan dampak kebijakan itu. Safari Ramadhan ini mencoba memperpendek jarak tersebut.
Dalam setiap kesempatan, Gubernur Papua juga menyampaikan secara terbuka berbagai langkah pembangunan yang sedang dan akan dilakukan. Ia menjelaskan kepada jamaah tentang berbagai kolaborasi program antara pemerintah provinsi dan pemerintah Pusat, serta berbagai upaya agar visi Papua Cerah tetap berjalan secara terarah.
Transparansi ini penting. Pembangunan tidak boleh berhenti sebagai dokumen di meja birokrasi. Ia harus menjadi pengetahuan publik, agar masyarakat mengetahui ke mana arah perjalanan daerahnya.
Pendekatan mendengar ini tidak hanya diarahkan kepada umat Muslim. Dalam beberapa kesempatan, Gubernur juga menyampaikan bahwa cara yang sama perlu dilakukan kepada seluruh umat beragama di Papua.
“Saya juga meminta kepada Pak Wakil Gubernur untuk melakukan safari dari gereja ke gereja, untuk mendengar suara umat,” ujar Gubernur Matius D Fakhiri dalam salah satu pertemuan Safari Ramadan.
Pernyataan ini bukan sekadar kalimat simbolik. Papua adalah rumah besar yang dibangun oleh keberagaman iman. Jika masjid menjadi ruang mendengar umat Muslim, maka gereja juga harus menjadi ruang mendengar suara umat Kristiani. Dengan demikian, pemerintah hadir bagi semua dan tanpa sekat.
Dari perjalanan Safari Ramadan ini, banyak belajar satu hal sederhana: pembangunan tidak selalu dimulai dari ruang rapat. Kadang ia justru dimulai dari ruang ibadah dan pemerintah mau duduk bersama rakyat, mendengar suara mereka, dan menjadikan suara itu sebagai arah kebijakan.
Di Papua, ruang ibadah sering kali juga menjadi ruang kepercayaan. Ketika pemerintah hadir untuk mendengar di tempat-tempat itu, yang sedang dibangun bukan hanya program pembangunan, tetapi juga jembatan kepercayaan antara negara dan rakyatnya.
Dan dari rumah ibadah, kepercayaan itu sedang dirawat agar harapan tentang masa depan Papua tetap menyala serta membuktikan bahwa kehidupan toleransi beragama diPapua patut menjadi pembelajaran bagi Indonesia.
Kegiatan ini sebagai bukan hanya agenda rutin seperti berbuka bersama, salat berjamaah, lalu sambutan pemerintah. Tetapi lebih dari sekadar seremoni Safari Ramadhan ini perlahan berubah menjadi ruang mendengar rakyat.
Di setiap masjid yang didatangi, Gubernur selalu membuka ruang dialog. Jamaah dipersilakan menyampaikan apa yang mereka rasakan tentang pembangunan: jalan, sekolah, layanan kesehatan, bantuan ekonomi, hingga pelayanan publik. Tidak ada sekat yang terlalu formal. Masyarakat berbicara langsung dan kadang sederhana, tetapi jujur.
Yang menarik, Gubernur tidak datang sendiri. Ia selalu mengajak SKPD teknis yang terkait dengan persoalan masyarakat. Ketika jamaah berbicara tentang jalan, dinas teknis ada untuk mendengar. Ketika yang muncul soal pendidikan atau kesehatan, pejabat yang bertanggung jawab ikut mencatat dan merespons.
Dengan cara ini, masjid tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga menjadi ruang komunikasi antara pemerintah dan rakyat.
Sering kali dalam pembangunan, masalah terbesar bukan semata kekurangan program, melainkan jarak komunikasi antara kebijakan dan masyarakat. Pemerintah merasa telah bekerja, tetapi masyarakat belum tentu mengetahui arah dan prosesnya. Sebaliknya, pemerintah juga tidak selalu cukup mendengar bagaimana rakyat merasakan dampak kebijakan itu. Safari Ramadhan ini mencoba memperpendek jarak tersebut.
Dalam setiap kesempatan, Gubernur Papua juga menyampaikan secara terbuka berbagai langkah pembangunan yang sedang dan akan dilakukan. Ia menjelaskan kepada jamaah tentang berbagai kolaborasi program antara pemerintah provinsi dan pemerintah Pusat, serta berbagai upaya agar visi Papua Cerah tetap berjalan secara terarah.
Transparansi ini penting. Pembangunan tidak boleh berhenti sebagai dokumen di meja birokrasi. Ia harus menjadi pengetahuan publik, agar masyarakat mengetahui ke mana arah perjalanan daerahnya.
Pendekatan mendengar ini tidak hanya diarahkan kepada umat Muslim. Dalam beberapa kesempatan, Gubernur juga menyampaikan bahwa cara yang sama perlu dilakukan kepada seluruh umat beragama di Papua.
“Saya juga meminta kepada Pak Wakil Gubernur untuk melakukan safari dari gereja ke gereja, untuk mendengar suara umat,” ujar Gubernur Matius D Fakhiri dalam salah satu pertemuan Safari Ramadan.
Pernyataan ini bukan sekadar kalimat simbolik. Papua adalah rumah besar yang dibangun oleh keberagaman iman. Jika masjid menjadi ruang mendengar umat Muslim, maka gereja juga harus menjadi ruang mendengar suara umat Kristiani. Dengan demikian, pemerintah hadir bagi semua dan tanpa sekat.
Dari perjalanan Safari Ramadan ini, banyak belajar satu hal sederhana: pembangunan tidak selalu dimulai dari ruang rapat. Kadang ia justru dimulai dari ruang ibadah dan pemerintah mau duduk bersama rakyat, mendengar suara mereka, dan menjadikan suara itu sebagai arah kebijakan.
Di Papua, ruang ibadah sering kali juga menjadi ruang kepercayaan. Ketika pemerintah hadir untuk mendengar di tempat-tempat itu, yang sedang dibangun bukan hanya program pembangunan, tetapi juga jembatan kepercayaan antara negara dan rakyatnya.
Dan dari rumah ibadah, kepercayaan itu sedang dirawat agar harapan tentang masa depan Papua tetap menyala serta membuktikan bahwa kehidupan toleransi beragama diPapua patut menjadi pembelajaran bagi Indonesia.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
SIT Darul Fikri Bangun Kolam Renang, Bidik Status Sekolah Internasional
2
Ramadan Berkah, Semen Bosowa Bagikan 8 Ton Pangan untuk Warga Barru
3
Semen Bosowa Salurkan 1.000 Paket Sembako di Barru, Gaungkan Upaya Pengentasan Kemiskinan
4
Ramadan Berbagi, SD Terpadu Rama Salurkan Bantuan ke 11 Panti Asuhan
5
Akhir Ramadan: Service Rutin Tahunan bagi Tubuh hingga Hati kita
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
SIT Darul Fikri Bangun Kolam Renang, Bidik Status Sekolah Internasional
2
Ramadan Berkah, Semen Bosowa Bagikan 8 Ton Pangan untuk Warga Barru
3
Semen Bosowa Salurkan 1.000 Paket Sembako di Barru, Gaungkan Upaya Pengentasan Kemiskinan
4
Ramadan Berbagi, SD Terpadu Rama Salurkan Bantuan ke 11 Panti Asuhan
5
Akhir Ramadan: Service Rutin Tahunan bagi Tubuh hingga Hati kita