BRIN Siapkan Fasilitas Iradiasi Pangan dan Teknologi Energi Alternatif
Senin, 08 Jun 2026 16:50
Kepala BRIN, Arif Satria, saat ditemui di Auditorium Al-Jibra UMI, Senin (8/6/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
MAKASSAR - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus mengembangkan berbagai riset strategis untuk menjawab tantangan global, terutama perubahan iklim serta upaya mewujudkan kemandirian energi dan pangan nasional.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan lembaganya memfokuskan riset pada sejumlah isu prioritas dari 17 tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
"Termasuk di dalamnya adalah isu tentang perubahan iklim yang harus direspons dengan berbagai teknologi penting. Karena akibat perubahan iklim, sebagian daerah terjadi banjir dan memiliki lahan dengan salinitas yang tinggi," ujarnya saat ditemui di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia, Senin (8/6/2026).
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, BRIN mengembangkan varietas tanaman bio-saline yang mampu tumbuh pada lahan dengan tingkat salinitas tinggi.
Selain sektor pertanian, BRIN juga mendorong pengembangan energi alternatif berbasis pengolahan sampah.
"Kita juga perlu riset untuk energi, seperti bagaimana menghasilkan energi yang berbasis pada sampah. Sampah plastik ini, kan, tidak punya nilai sebagian, nah sampah yang tidak punya nilai ini kemudian oleh BRIN disulap untuk menjadi bahan bakar untuk nelayan," lanjutnya.
Menurut Arif, BRIN telah mengembangkan teknologi Fast Pyrolysis untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan nelayan.
"Jika konversi ini bisa terus berlangsung, maka ketergantungan kita pada solar akan menurun. Bisa membawa kita dalam kemandirian energi, khususnya untuk para nelayan ini. Untuk sektor energi masih banyak peluang-peluang lain yang harus kita dorong, baik sifatnya teknologi sederhana maupun teknologi yang tinggi. Karena BRIN juga punya teknologi yang tinggi terkait dengan soal pengolahan sampah, yang saat ini sudah diterapkan di Mataram, Lombok," ungkapnya kepada awak media.
Arif juga menjelaskan pengembangan teknologi nuklir yang dilakukan BRIN mencakup sektor energi dan non-energi.
"Memang pada akhirnya kita harus membangun PLTN. Untuk yang non-energi, saat ini sudah merupakan isu sehari-hari. Karena apa? Karena satu, nuklir untuk kesehatan; dua, nuklir untuk pangan. Untuk kesehatan, saya kira penting untuk dikembangkan, dan selama ini orang sudah memanfaatkan teknologi nuklir untuk kesehatan. Seperti misalnya, untuk radiologi. Itu kan basisnya adalah teknologi nuklir," paparnya.
Di sektor pangan, BRIN memperkenalkan varietas unggul bernama Sidenuk yang dikembangkan menggunakan teknologi nuklir.
"Varietas ini adalah varietas yang dikembangkan dengan menggunakan teknologi nuklir dengan produktivitas yang sangat tinggi, resisten hama, dan lain sebagainya. Nuklir untuk kesehatan dan nuklir untuk pangan ini dua hal yang juga harus kita kembangkan, termasuk di dalamnya adalah bagaimana kita melakukan iradiasi pangan untuk produk-produk buah-buahan yang akan kita ekspor," tutur Arif.
Ia mengungkapkan, selama ini sebagian produk ekspor Indonesia masih harus melalui proses iradiasi di luar negeri sebelum dikirim ke negara tujuan.
"Sebelum kita ekspor ke tujuan tertentu, biasanya transit ke negara tertentu untuk diiradiasi kemudian diekspor lagi. Saya kira terlalu mahal. Kita sekarang di BRIN sudah mengembangkan iradiasi pangan ini di Jakarta, sehingga para eksportir sebelum mengekspor bisa memanfaatkan fasilitas BRIN untuk dilakukan iradiasi dalam rangka untuk bisa mengawetkan produk pangan tersebut sekaligus untuk membunuh hal-hal yang tidak diinginkan oleh konsumen seperti misalnya ulat lalat buah dan kemudian juga berbagai mikro-organisme lainnya," bebernya.
Menurut Arif, pengembangan varietas unggul menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional di tengah perubahan iklim.
"Ini sebuah terobosan yang harus kita terus lakukan karena varietas ini harus terus kita perkuat untuk meningkatkan kemandirian pangan kita. Sehingga dengan era perubahan iklim ini semakin diperlukan varietas-varietas baru, varietas-varietas yang bisa resisten terhadap perubahan iklim, hemat air, hemat pupuk, dan termasuk di dalamnya adalah yang resisten terhadap berbagai penyakit," ucapnya.
BRIN, kata dia, akan terus memfasilitasi pengembangan varietas unggul baru. Namun, menurutnya, keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari jumlah varietas yang dihasilkan, melainkan juga penerapannya di lapangan.
"Tapi yang lebih penting lagi adalah bukan sekadar menghasilkan varietas, bagaimana varietas itu bisa diaplikasikan di lapangan. Itu lebih penting lagi," pungkas Arif.
Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan lembaganya memfokuskan riset pada sejumlah isu prioritas dari 17 tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
"Termasuk di dalamnya adalah isu tentang perubahan iklim yang harus direspons dengan berbagai teknologi penting. Karena akibat perubahan iklim, sebagian daerah terjadi banjir dan memiliki lahan dengan salinitas yang tinggi," ujarnya saat ditemui di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia, Senin (8/6/2026).
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, BRIN mengembangkan varietas tanaman bio-saline yang mampu tumbuh pada lahan dengan tingkat salinitas tinggi.
Selain sektor pertanian, BRIN juga mendorong pengembangan energi alternatif berbasis pengolahan sampah.
"Kita juga perlu riset untuk energi, seperti bagaimana menghasilkan energi yang berbasis pada sampah. Sampah plastik ini, kan, tidak punya nilai sebagian, nah sampah yang tidak punya nilai ini kemudian oleh BRIN disulap untuk menjadi bahan bakar untuk nelayan," lanjutnya.
Menurut Arif, BRIN telah mengembangkan teknologi Fast Pyrolysis untuk mengubah limbah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang dapat dimanfaatkan nelayan.
"Jika konversi ini bisa terus berlangsung, maka ketergantungan kita pada solar akan menurun. Bisa membawa kita dalam kemandirian energi, khususnya untuk para nelayan ini. Untuk sektor energi masih banyak peluang-peluang lain yang harus kita dorong, baik sifatnya teknologi sederhana maupun teknologi yang tinggi. Karena BRIN juga punya teknologi yang tinggi terkait dengan soal pengolahan sampah, yang saat ini sudah diterapkan di Mataram, Lombok," ungkapnya kepada awak media.
Arif juga menjelaskan pengembangan teknologi nuklir yang dilakukan BRIN mencakup sektor energi dan non-energi.
"Memang pada akhirnya kita harus membangun PLTN. Untuk yang non-energi, saat ini sudah merupakan isu sehari-hari. Karena apa? Karena satu, nuklir untuk kesehatan; dua, nuklir untuk pangan. Untuk kesehatan, saya kira penting untuk dikembangkan, dan selama ini orang sudah memanfaatkan teknologi nuklir untuk kesehatan. Seperti misalnya, untuk radiologi. Itu kan basisnya adalah teknologi nuklir," paparnya.
Di sektor pangan, BRIN memperkenalkan varietas unggul bernama Sidenuk yang dikembangkan menggunakan teknologi nuklir.
"Varietas ini adalah varietas yang dikembangkan dengan menggunakan teknologi nuklir dengan produktivitas yang sangat tinggi, resisten hama, dan lain sebagainya. Nuklir untuk kesehatan dan nuklir untuk pangan ini dua hal yang juga harus kita kembangkan, termasuk di dalamnya adalah bagaimana kita melakukan iradiasi pangan untuk produk-produk buah-buahan yang akan kita ekspor," tutur Arif.
Ia mengungkapkan, selama ini sebagian produk ekspor Indonesia masih harus melalui proses iradiasi di luar negeri sebelum dikirim ke negara tujuan.
"Sebelum kita ekspor ke tujuan tertentu, biasanya transit ke negara tertentu untuk diiradiasi kemudian diekspor lagi. Saya kira terlalu mahal. Kita sekarang di BRIN sudah mengembangkan iradiasi pangan ini di Jakarta, sehingga para eksportir sebelum mengekspor bisa memanfaatkan fasilitas BRIN untuk dilakukan iradiasi dalam rangka untuk bisa mengawetkan produk pangan tersebut sekaligus untuk membunuh hal-hal yang tidak diinginkan oleh konsumen seperti misalnya ulat lalat buah dan kemudian juga berbagai mikro-organisme lainnya," bebernya.
Menurut Arif, pengembangan varietas unggul menjadi salah satu langkah penting untuk memperkuat ketahanan dan kemandirian pangan nasional di tengah perubahan iklim.
"Ini sebuah terobosan yang harus kita terus lakukan karena varietas ini harus terus kita perkuat untuk meningkatkan kemandirian pangan kita. Sehingga dengan era perubahan iklim ini semakin diperlukan varietas-varietas baru, varietas-varietas yang bisa resisten terhadap perubahan iklim, hemat air, hemat pupuk, dan termasuk di dalamnya adalah yang resisten terhadap berbagai penyakit," ucapnya.
BRIN, kata dia, akan terus memfasilitasi pengembangan varietas unggul baru. Namun, menurutnya, keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari jumlah varietas yang dihasilkan, melainkan juga penerapannya di lapangan.
"Tapi yang lebih penting lagi adalah bukan sekadar menghasilkan varietas, bagaimana varietas itu bisa diaplikasikan di lapangan. Itu lebih penting lagi," pungkas Arif.
(MAN)
Berita Terkait
News
Kemah Bahasa Arab 2026 HIMSAB UMI Tingkatkan Kompetensi Mahasiswa
Himpunan Mahasiswa Sastra Arab (HIMSAB) Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar Kemah Bahasa Arab 2026.
Jum'at, 25 Sep 2026 18:08
News
FSIKP UMI Gelar Kick-Off BIPA untuk Mahasiswa Internasional
Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar kegiatan Kick-Off Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) bagi mahasiswa internasional tahun akademik 2026/2027.
Selasa, 22 Sep 2026 15:17
Sulsel
UMI Tutup Rangkaian Pekan Pesantren Gelombang ke-7, Mahasiswa Ikuti Kegiatan Outbound
Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar kegiatan Pekan Pesantren gelombang terakhir atau gelombang ke-7 di Pesantren Darul Mukhlisin UMI, Desa Padanglampe, Kecamatan Ma'rang, Kabupaten Pangkep, Sabtu (19/9/2026).
Sabtu, 19 Sep 2026 13:44
Sulsel
Bupati Bantaeng Hadir Beri Kuliah Umum di FSIKP UMI
Bupati Bantaeng, M. Fathul Fauzy Nanti Nurdi menjadi dosen luar biasa di Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Sabtu, 19 Sep 2026 11:07
News
FSIKP UMI Gelar Kuliah Umum, Hadirkan Bupati Bantaeng dan Akademisi Malaysia
Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar kuliah umum di Auditorium Al-Jibra UMI, Makassar, Jumat (18/9/2026).
Jum'at, 18 Sep 2026 21:29
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
MGMP Pendidikan Pancasila SMA Makassar Siap Dilantik, Dirangkai Seminar Pendidikan
2
PT CLM Transplantasi Terumbu Karang di Pulau Bulu Poloe, Dua Ton Sampah Ikut Diangkut
3
Tamsil Linrung Minta Maaf atas Dua Peristiwa yang Menimpa Siswa ICM, Siapkan Langkah Konkret
4
Appi Tak Diberi Ruang, Pengamat: Golkar Bisa Kehilangan Momentum
5
Sowan ke Andi Fahsar Padjalangi, Plt Golkar Bone: Kami Hanya Mengisi Kekosongan
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
MGMP Pendidikan Pancasila SMA Makassar Siap Dilantik, Dirangkai Seminar Pendidikan
2
PT CLM Transplantasi Terumbu Karang di Pulau Bulu Poloe, Dua Ton Sampah Ikut Diangkut
3
Tamsil Linrung Minta Maaf atas Dua Peristiwa yang Menimpa Siswa ICM, Siapkan Langkah Konkret
4
Appi Tak Diberi Ruang, Pengamat: Golkar Bisa Kehilangan Momentum
5
Sowan ke Andi Fahsar Padjalangi, Plt Golkar Bone: Kami Hanya Mengisi Kekosongan