ICATT dan Muslimat NU Sulsel Siapkan Forum Penguatan Tata Kelola Pesantren
Jum'at, 03 Jul 2026 23:08
Panitia penyelenggara memaparkan rencana Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi pada 22-23 Agustus 2026 di Hotel Claro Makassar. Foto: Istimewa
MAKASSAR - Pimpinan Wilayah (PW) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Sulawesi Selatan berkolaborasi dengan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) bakal menggelar Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi pada 22-23 Agustus 2026 di Hotel Claro Makassar.
Kegiatan tersebut mengusung tema "Transformasi Pesantren Menuju Indonesia Emas 2045: Memperkuat Tata Kelola, Perlindungan Santri, Ketahanan Ideologi, Kemandirian Ekonomi, dan Transformasi Digital".
Sekretaris PW Muslimat NU Sulsel, Hj. Mardyawati Yunus, mengatakan kolaborasi tersebut berawal dari gagasan DPP ICATT yang dinilai sejalan dengan visi dan program kerja Muslimat NU, khususnya di bidang pendidikan, kemasyarakatan, perlindungan perempuan, dan perlindungan anak.
"Program yang ditawarkan ICATT sangat selaras dengan visi Muslimat NU yang ingin melihat penyelenggaraan pendidikan di pesantren berjalan semakin baik. Kami memang memiliki bidang khusus yang menangani pendidikan dan kemasyarakatan sehingga sangat tertarik untuk berkolaborasi," ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Menurut Mardyawati, Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU yang juga menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Hj. Arifah Choiri Fauzi, direncanakan hadir sebagai keynote speaker.
Ia menjelaskan, isu perlindungan perempuan dan anak menjadi perhatian penting Muslimat NU sehingga dinilai relevan dengan tema sarasehan yang diangkat.
"Melalui kerja sama ini kami berharap dapat menghadirkan Menteri PPPA sekaligus Ketua PP Muslimat NU, Hj. Arifah Choiri Fauzi, sebagai narasumber agar isu perlindungan anak di lingkungan pesantren dapat menjadi perhatian bersama," katanya.
Sementara itu, Ketua DPP ICATT, H. Mallingkai Ilyas, mengatakan sarasehan ditargetkan diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan, dengan kemungkinan jumlah peserta bertambah seiring tingginya minat masyarakat.
Menurutnya, forum tersebut digelar sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi pesantren, termasuk maraknya kasus kekerasan terhadap santri yang menjadi perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir.
"Beberapa tahun terakhir berbagai kasus kekerasan, baik seksual, verbal maupun fisik, menjadi perhatian serius. Bahkan ada yang berujung pada korban meninggal dunia. Kondisi ini tentu mempengaruhi citra pesantren sehingga perlu dicari solusi bersama," ujarnya.
Karena itu, ICATT akan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Agama, Kementerian PPPA, Bank Indonesia, pengusaha nasional alumni pesantren, hingga pimpinan pondok pesantren yang memiliki praktik baik dalam pengelolaan lembaga.
Mallingkai menegaskan forum tersebut tidak hanya membahas persoalan yang terjadi, tetapi juga merumuskan langkah mitigasi, pencegahan, serta sistem perlindungan santri yang berkelanjutan.
Pembahasan juga akan mencakup implementasi program Pesantren Ramah Anak, mekanisme pengaduan, serta standar operasional penanganan kasus kekerasan di lingkungan pesantren.
Menurutnya, DPP ICATT memiliki kedekatan yang kuat dengan dunia pesantren karena sebagian besar anggotanya merupakan alumni pondok pesantren yang melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah.
"Kami memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk terus berkontribusi memperkuat eksistensi pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat," katanya.
Ia menambahkan, pesantren selama ini menjadi pilar penting dalam mencetak generasi yang berakhlak, moderat, dan cinta tanah air. Namun, perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru yang perlu direspons secara bersama.
Tantangan tersebut meliputi penguatan tata kelola kelembagaan, perlindungan santri, transformasi digital, pengembangan ekonomi pesantren, hingga penguatan moderasi beragama dan ketahanan ideologi.
Berbeda dengan seminar pada umumnya, Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi dirancang dalam format policy dialogue yang tidak hanya menghadirkan diskusi, tetapi juga menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan.
Panitia saat ini juga menjalin komunikasi dengan sejumlah kementerian dan lembaga untuk menghadirkan narasumber, di antaranya Menteri PPPA RI, Direktur Pesantren Kementerian Agama RI, Direktur Pencegahan BNPT RI, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, pimpinan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, pengusaha nasional alumni pesantren, serta pimpinan pondok pesantren.
Selain sesi panel, kegiatan akan dilengkapi dengan Focus Group Discussion (FGD) yang membahas tata kelola pesantren, perlindungan santri, penguatan ekonomi umat, transformasi digital, hingga strategi membangun citra positif pesantren di era digital.
Hasil FGD akan dirumuskan menjadi Rekomendasi Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi dan Deklarasi Makassar tentang Transformasi Pesantren Tahun 2026 yang akan disampaikan kepada pemerintah sebagai kontribusi pemikiran dalam mendukung penguatan pesantren menuju Indonesia Emas 2045.
Kegiatan tersebut mengusung tema "Transformasi Pesantren Menuju Indonesia Emas 2045: Memperkuat Tata Kelola, Perlindungan Santri, Ketahanan Ideologi, Kemandirian Ekonomi, dan Transformasi Digital".
Sekretaris PW Muslimat NU Sulsel, Hj. Mardyawati Yunus, mengatakan kolaborasi tersebut berawal dari gagasan DPP ICATT yang dinilai sejalan dengan visi dan program kerja Muslimat NU, khususnya di bidang pendidikan, kemasyarakatan, perlindungan perempuan, dan perlindungan anak.
"Program yang ditawarkan ICATT sangat selaras dengan visi Muslimat NU yang ingin melihat penyelenggaraan pendidikan di pesantren berjalan semakin baik. Kami memang memiliki bidang khusus yang menangani pendidikan dan kemasyarakatan sehingga sangat tertarik untuk berkolaborasi," ujarnya, Jumat (3/7/2026).
Menurut Mardyawati, Ketua Pimpinan Pusat Muslimat NU yang juga menjabat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Hj. Arifah Choiri Fauzi, direncanakan hadir sebagai keynote speaker.
Ia menjelaskan, isu perlindungan perempuan dan anak menjadi perhatian penting Muslimat NU sehingga dinilai relevan dengan tema sarasehan yang diangkat.
"Melalui kerja sama ini kami berharap dapat menghadirkan Menteri PPPA sekaligus Ketua PP Muslimat NU, Hj. Arifah Choiri Fauzi, sebagai narasumber agar isu perlindungan anak di lingkungan pesantren dapat menjadi perhatian bersama," katanya.
Sementara itu, Ketua DPP ICATT, H. Mallingkai Ilyas, mengatakan sarasehan ditargetkan diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan, dengan kemungkinan jumlah peserta bertambah seiring tingginya minat masyarakat.
Menurutnya, forum tersebut digelar sebagai respons terhadap berbagai tantangan yang dihadapi pesantren, termasuk maraknya kasus kekerasan terhadap santri yang menjadi perhatian publik dalam beberapa tahun terakhir.
"Beberapa tahun terakhir berbagai kasus kekerasan, baik seksual, verbal maupun fisik, menjadi perhatian serius. Bahkan ada yang berujung pada korban meninggal dunia. Kondisi ini tentu mempengaruhi citra pesantren sehingga perlu dicari solusi bersama," ujarnya.
Karena itu, ICATT akan menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kementerian Agama, Kementerian PPPA, Bank Indonesia, pengusaha nasional alumni pesantren, hingga pimpinan pondok pesantren yang memiliki praktik baik dalam pengelolaan lembaga.
Mallingkai menegaskan forum tersebut tidak hanya membahas persoalan yang terjadi, tetapi juga merumuskan langkah mitigasi, pencegahan, serta sistem perlindungan santri yang berkelanjutan.
Pembahasan juga akan mencakup implementasi program Pesantren Ramah Anak, mekanisme pengaduan, serta standar operasional penanganan kasus kekerasan di lingkungan pesantren.
Menurutnya, DPP ICATT memiliki kedekatan yang kuat dengan dunia pesantren karena sebagian besar anggotanya merupakan alumni pondok pesantren yang melanjutkan pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Timur Tengah.
"Kami memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk terus berkontribusi memperkuat eksistensi pesantren sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat," katanya.
Ia menambahkan, pesantren selama ini menjadi pilar penting dalam mencetak generasi yang berakhlak, moderat, dan cinta tanah air. Namun, perkembangan zaman menghadirkan tantangan baru yang perlu direspons secara bersama.
Tantangan tersebut meliputi penguatan tata kelola kelembagaan, perlindungan santri, transformasi digital, pengembangan ekonomi pesantren, hingga penguatan moderasi beragama dan ketahanan ideologi.
Berbeda dengan seminar pada umumnya, Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi dirancang dalam format policy dialogue yang tidak hanya menghadirkan diskusi, tetapi juga menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan.
Panitia saat ini juga menjalin komunikasi dengan sejumlah kementerian dan lembaga untuk menghadirkan narasumber, di antaranya Menteri PPPA RI, Direktur Pesantren Kementerian Agama RI, Direktur Pencegahan BNPT RI, Wakil Gubernur Sulawesi Selatan, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, pimpinan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, pengusaha nasional alumni pesantren, serta pimpinan pondok pesantren.
Selain sesi panel, kegiatan akan dilengkapi dengan Focus Group Discussion (FGD) yang membahas tata kelola pesantren, perlindungan santri, penguatan ekonomi umat, transformasi digital, hingga strategi membangun citra positif pesantren di era digital.
Hasil FGD akan dirumuskan menjadi Rekomendasi Sarasehan Pondok Pesantren Regional Sulawesi dan Deklarasi Makassar tentang Transformasi Pesantren Tahun 2026 yang akan disampaikan kepada pemerintah sebagai kontribusi pemikiran dalam mendukung penguatan pesantren menuju Indonesia Emas 2045.
(MAN)
Berita Terkait
Sulsel
Tranformasi Organisasi, ICATT Perkuat Dakwah Digital hingga Pencegahan Radikalisme
Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT) menargetkan peran yang lebih besar dalam bidang dakwah, pendidikan, penguatan moderasi beragama, hingga pengembangan literasi keilmuan Islam.
Kamis, 14 Mei 2026 17:47
News
Khofifah Lantik PW Muslimat NU & 6 PC se-Sulsel, Serukan Jaga Persatuan & Persaudaraan
Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama, Khofifah Indar Parawansa, melantik PW Muslimat NU Sulsel di Auditorium KH Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar (UIM).
Minggu, 14 Jan 2024 15:46
News
Khofifah Ajak Muslimat NU jadi Bunda Asuh Anak Stunting
Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh pengurus Muslimat NU untuk aktif terlibat dalam pencegahan dan penanganan stunting.
Selasa, 25 Jul 2023 19:39
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Djournal Resmikan Gerai Kedua di Makassar, Kini Hadir di Mal Ratu Indah
2
Ruas Pangkajene-Rappang di Kabupaten Sidrap Dipacu Rampung
3
Diskon hingga 50%, Levi’s End of Season Sale Hadir Maksimalkan Gaya Musim Liburan
4
Layanan Pemanduan & Penundaan PJM Wilayah 3 Melampaui Target RKAP
5
Milad ke-72 UMI, Zikir dan Haul Muassis Jadi Momentum Mengenang Jasa Pendiri
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Djournal Resmikan Gerai Kedua di Makassar, Kini Hadir di Mal Ratu Indah
2
Ruas Pangkajene-Rappang di Kabupaten Sidrap Dipacu Rampung
3
Diskon hingga 50%, Levi’s End of Season Sale Hadir Maksimalkan Gaya Musim Liburan
4
Layanan Pemanduan & Penundaan PJM Wilayah 3 Melampaui Target RKAP
5
Milad ke-72 UMI, Zikir dan Haul Muassis Jadi Momentum Mengenang Jasa Pendiri