Wakil Rektor IV UMI: Jadikan Salat sebagai Energi untuk Membangun Etos Kerja dan Integritas
Senin, 06 Jul 2026 13:33
Wakil Rektor IV Universitas Muslim Indonesia (UMI), Dr KH Muhammad Ishaq Samad, menyampaikan Kultum Zuhur di hadapan jamaah sivitas akademika UMI pada Senin (6/7/2026).
MAKASSAR - Wakil Rektor IV Universitas Muslim Indonesia (UMI), Dr KH Muhammad Ishaq Samad, menyampaikan Kultum Zuhur di hadapan jamaah sivitas akademika UMI pada Senin (6/7/2026).
Mengangkat tema “Dari Sajadah Menuju Tempat Kerja: Ketika Ibadah Menjadi Energi Kehidupan”, beliau mengajak seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan sivitas akademika menjadikan salat sebagai sumber kekuatan spiritual yang melahirkan etos kerja, integritas, dan profesionalisme.
Dalam tausiyahnya, Dr KH Muhammad Ishaq Samad menegaskan bahwa salat tidak boleh berhenti sebagai ritual semata, tetapi harus memberikan dampak nyata terhadap karakter dan kualitas kerja seorang Muslim.
“Setelah selesai salat, apakah kita kembali menjadi pribadi yang sama seperti sebelum salat? Kalau salat tidak membuat kita lebih jujur, lebih amanah, lebih sabar, dan lebih bersemangat dalam bekerja, maka ada sesuatu yang harus kita perbaiki dalam kualitas ibadah kita,” ungkapnya.
Ia kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10:
“Apabila salat telah selesai dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah serta ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”
Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan ikhtiar. Seorang Muslim tidak hanya dituntut rajin beribadah di masjid, tetapi juga harus produktif, profesional, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui pekerjaannya.
Dalam kultumnya, ia mengisahkan ketegasan Khalifah Umar bin Khattab terhadap sekelompok orang yang hanya berdiam diri di masjid dengan alasan bertawakal. Umar menegaskan bahwa tawakal yang benar adalah bekerja dan berusaha terlebih dahulu, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
“Doa tanpa usaha hanyalah angan-angan. Usaha tanpa doa adalah kesombongan. Sedangkan doa yang disertai ikhtiar itulah hakikat tawakal,” jelasnya.
Beliau juga mengangkat keteladanan sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf, yang ketika hijrah ke Madinah memilih bekerja keras daripada bergantung kepada pemberian orang lain. Berkat kejujuran dan kerja kerasnya, beliau menjadi saudagar sukses yang menjadikan hartanya sebagai sarana perjuangan dan kemaslahatan umat.
Selain itu, Dr KH Muhammad Ishaq Samad mengingatkan pentingnya terus meningkatkan kualitas diri melalui semangat belajar sepanjang hayat sebagaimana pesan Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa seorang Muslim tidak pernah berhenti memperbaiki diri hingga akhir hayatnya.
Dalam ilustrasi yang disampaikan, beliau mengisahkan tiga orang tukang batu yang melakukan pekerjaan yang sama tetapi memiliki niat yang berbeda. Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa nilai sebuah pekerjaan sangat ditentukan oleh niat. Mengajar, melayani mahasiswa, bekerja di kantor, maupun mencari nafkah bagi keluarga akan bernilai ibadah apabila dilandasi keikhlasan dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Mengutip sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya,” dirinya menegaskan bahwa profesionalisme, disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas ibadah seorang Muslim.
Di penghujung kultumnya, beliau mengajak seluruh sivitas akademika UMI membawa tiga komitmen setelah meninggalkan masjid, yakni memperbaiki kualitas salat agar semakin khusyuk, meluruskan niat bekerja sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, serta menjaga akhlak dan integritas dalam setiap amanah pekerjaan.
“Semoga setiap langkah menuju tempat kerja menjadi ibadah, setiap tetes keringat menjadi penghapus dosa, dan setiap rezeki halal yang kita peroleh menjadi keberkahan bagi keluarga serta membawa manfaat bagi umat dan bangsa,” tutupnya.
Kultum Zuhur yang rutin dilaksanakan di lingkungan UMI tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan spiritual sivitas akademika sekaligus meneguhkan komitmen Universitas Muslim Indonesia dalam membangun budaya kerja yang unggul, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
Mengangkat tema “Dari Sajadah Menuju Tempat Kerja: Ketika Ibadah Menjadi Energi Kehidupan”, beliau mengajak seluruh dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan sivitas akademika menjadikan salat sebagai sumber kekuatan spiritual yang melahirkan etos kerja, integritas, dan profesionalisme.
Dalam tausiyahnya, Dr KH Muhammad Ishaq Samad menegaskan bahwa salat tidak boleh berhenti sebagai ritual semata, tetapi harus memberikan dampak nyata terhadap karakter dan kualitas kerja seorang Muslim.
“Setelah selesai salat, apakah kita kembali menjadi pribadi yang sama seperti sebelum salat? Kalau salat tidak membuat kita lebih jujur, lebih amanah, lebih sabar, dan lebih bersemangat dalam bekerja, maka ada sesuatu yang harus kita perbaiki dalam kualitas ibadah kita,” ungkapnya.
Ia kemudian mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Jumu’ah ayat 10:
“Apabila salat telah selesai dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah serta ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.”
Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan ikhtiar. Seorang Muslim tidak hanya dituntut rajin beribadah di masjid, tetapi juga harus produktif, profesional, serta menghadirkan manfaat bagi masyarakat melalui pekerjaannya.
Dalam kultumnya, ia mengisahkan ketegasan Khalifah Umar bin Khattab terhadap sekelompok orang yang hanya berdiam diri di masjid dengan alasan bertawakal. Umar menegaskan bahwa tawakal yang benar adalah bekerja dan berusaha terlebih dahulu, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
“Doa tanpa usaha hanyalah angan-angan. Usaha tanpa doa adalah kesombongan. Sedangkan doa yang disertai ikhtiar itulah hakikat tawakal,” jelasnya.
Beliau juga mengangkat keteladanan sahabat Nabi, Abdurrahman bin Auf, yang ketika hijrah ke Madinah memilih bekerja keras daripada bergantung kepada pemberian orang lain. Berkat kejujuran dan kerja kerasnya, beliau menjadi saudagar sukses yang menjadikan hartanya sebagai sarana perjuangan dan kemaslahatan umat.
Selain itu, Dr KH Muhammad Ishaq Samad mengingatkan pentingnya terus meningkatkan kualitas diri melalui semangat belajar sepanjang hayat sebagaimana pesan Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa seorang Muslim tidak pernah berhenti memperbaiki diri hingga akhir hayatnya.
Dalam ilustrasi yang disampaikan, beliau mengisahkan tiga orang tukang batu yang melakukan pekerjaan yang sama tetapi memiliki niat yang berbeda. Kisah tersebut menjadi pelajaran bahwa nilai sebuah pekerjaan sangat ditentukan oleh niat. Mengajar, melayani mahasiswa, bekerja di kantor, maupun mencari nafkah bagi keluarga akan bernilai ibadah apabila dilandasi keikhlasan dan dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Mengutip sabda Rasulullah SAW, “Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja, ia menyempurnakan pekerjaannya,” dirinya menegaskan bahwa profesionalisme, disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kualitas ibadah seorang Muslim.
Di penghujung kultumnya, beliau mengajak seluruh sivitas akademika UMI membawa tiga komitmen setelah meninggalkan masjid, yakni memperbaiki kualitas salat agar semakin khusyuk, meluruskan niat bekerja sebagai bentuk ibadah kepada Allah SWT, serta menjaga akhlak dan integritas dalam setiap amanah pekerjaan.
“Semoga setiap langkah menuju tempat kerja menjadi ibadah, setiap tetes keringat menjadi penghapus dosa, dan setiap rezeki halal yang kita peroleh menjadi keberkahan bagi keluarga serta membawa manfaat bagi umat dan bangsa,” tutupnya.
Kultum Zuhur yang rutin dilaksanakan di lingkungan UMI tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan spiritual sivitas akademika sekaligus meneguhkan komitmen Universitas Muslim Indonesia dalam membangun budaya kerja yang unggul, berintegritas, dan berlandaskan nilai-nilai Islam.
(GUS)
Berita Terkait
News
UKI Paulus & UMI Makassar Kembangkan Penangkaran Kedelai Adaptif Iklim di Desa Jenetaesa
Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKI Paulus) bersama Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menerapkan model penangkaran kedelai adaptif perubahan iklim di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.
Senin, 24 Agu 2026 22:40
News
Kampus Berdampak Bukan Sekadar Slogan, UMI Buktikan dengan Aksi Kemanusiaan di NTT
Apa arti Kampus Berdampak ketika masyarakat sedang menghadapi bencana? Bagi Universitas Muslim Indonesia (UMI), jawabannya bukan pada slogan, melainkan pada apa yang bisa dilakukan ketika masyarakat membutuhkan.
Kamis, 20 Agu 2026 11:53
News
YBM PLN UIP Sulawesi Bantu 15 Mahasiswa FPIK UMI
Sebanyak 15 mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menerima bantuan pendidikan dari Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN UIP Sulawesi.
Rabu, 19 Agu 2026 15:44
News
Prof Hambali: Merdekakan Kampus dari Cara Lama, Senjata Hari Ini adalah Ilmu dan Teknologi
Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Universitas Muslim Indonesia (UMI), menghadirkan pesan yang melampaui seremoni 17 Agustus.
Senin, 17 Agu 2026 12:21
News
Dari Biji Kedelai Jadi Peluang Usaha: Upaya UMI Gerakkan Ekonomi Desa Leang-leang
Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muslim Indonesia (UMI) melaksanakan Program Pengabdian kepada Masyarakat di Desa Leang-Leang, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros, Kamis (16/7/2026).
Senin, 17 Agu 2026 09:14
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
IAS Rampungkan Konsolidasi Golkar Sulsel di 18 Daerah dalam 8 Hari
2
DLH Makassar Genjot Pengelolaan Sampah Lewat Penambahan Armada dan Penguatan TPS 3R
3
UKI Paulus & UMI Makassar Kembangkan Penangkaran Kedelai Adaptif Iklim di Desa Jenetaesa
4
Kebakaran Lahan Kosong 5.000 Meter Persegi di Tallasa City Berhasil Dipadamkan
5
Nobar Film SOLATA Sambil Berdonasi untuk Korban Gempa NTT
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
IAS Rampungkan Konsolidasi Golkar Sulsel di 18 Daerah dalam 8 Hari
2
DLH Makassar Genjot Pengelolaan Sampah Lewat Penambahan Armada dan Penguatan TPS 3R
3
UKI Paulus & UMI Makassar Kembangkan Penangkaran Kedelai Adaptif Iklim di Desa Jenetaesa
4
Kebakaran Lahan Kosong 5.000 Meter Persegi di Tallasa City Berhasil Dipadamkan
5
Nobar Film SOLATA Sambil Berdonasi untuk Korban Gempa NTT