UKI Paulus & UMI Makassar Kembangkan Penangkaran Kedelai Adaptif Iklim di Desa Jenetaesa

Senin, 24 Agu 2026 22:40
UKI Paulus & UMI Makassar Kembangkan Penangkaran Kedelai Adaptif Iklim di Desa Jenetaesa
UKI Paulus bersama UMI Makassar menerapkan model penangkaran kedelai adaptif perubahan iklim di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros. Foto/Istimewa
Comment
Share
MAROS - Menghadapi tantangan perubahan iklim dan berbagai kendala produksi, Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKI Paulus) bersama Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar menerapkan model penangkaran kedelai adaptif perubahan iklim di Desa Jenetaesa, Kecamatan Simbang, Kabupaten Maros.

Program yang dimulai sejak April 2026 tersebut merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Desa Binaan melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat. Kegiatan ini didanai hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Program dipimpin Dr. Ir. Hendrik Gunadi, M.P., bersama tim yang terdiri atas Dr. Ir. Suraedah Alimuddin, M.P., Dr. Erna Pasanda, S.E., M.Si., dan Ir. Machmud Djunaidy, M.Si. Tim juga melibatkan mahasiswa Program Studi Manajemen dan Teknik Sipil UKI Paulus, yakni Deni, Imelda Lolo Payung, Yisarp Anugra Matallo, Liselsya Ivana Katunde, dan Gabriel Misiyas Biri.

Dalam pelaksanaannya, tim bekerja sama dengan Kelompok Tani Langkasa dan Kelompok Tani Langkasa Baru. Program tersebut diarahkan untuk mengatasi sejumlah persoalan yang selama ini menghambat pengembangan penangkaran kedelai, khususnya pada lahan sawah tadah hujan di Jenetaesa.

Ketua Kelompok Tani Langkasa Saharuddin, Ketua Kelompok Tani Langkasa Baru Samsul, dan Ketua Gabungan Kelompok Tani Sipakatau Mustari menyampaikan bahwa persoalan produksi, manajemen, dan pemasaran telah lama menjadi kendala bagi petani.

Hasil identifikasi tim menunjukkan, persoalan tersebut antara lain disebabkan rendahnya kualitas benih, tingginya kehilangan hasil pascapanen, pengelolaan pertanaman yang belum optimal, serta sistem pemasaran yang masih konvensional.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, tim menawarkan sejumlah pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi iklim dan kebutuhan petani.

Pada aspek produksi, peningkatan kualitas benih dilakukan melalui penggunaan benih yang adaptif terhadap kondisi iklim. Sementara itu, penentuan jadwal tanam diarahkan berdasarkan data spasial dan Cropsyst model. Pendekatan tersebut disosialisasikan oleh Dr. Ir. Hendrik Gunadi, M.P.

Pada tahap pascapanen, tim mendorong penggunaan alat dan mesin pertanian, seperti mesin perontok dan mesin sortasi. Penggunaan peralatan tersebut diharapkan dapat menekan kehilangan hasil sekaligus menjaga kualitas benih hasil penangkaran. Materi ini disosialisasikan oleh Dr. Ir. Suraedah Alimuddin, M.P.

Sementara itu, pengelolaan pertanaman diarahkan dengan mempertimbangkan keterkaitan kondisi iklim Pantai Timur dan Pantai Barat Sulawesi Selatan. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung pola produksi kedelai yang berkelanjutan sepanjang tahun. Materi ini disampaikan oleh Ir. Machmud Djunaidy, M.Si.

Dari sisi pemasaran, tim mendorong petani mengenali dan mengembangkan segmen pasar, baik untuk benih hasil penangkaran maupun kedelai konsumsi. Strategi tersebut disosialisasikan oleh Dr. Erna Pasanda, S.E., M.Si.

Melalui penerapan model tersebut, program tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga menjaga mutu benih agar layak ditanam kembali maupun dikonsumsi. Penggunaan teknologi pascapanen juga diharapkan mampu mengurangi kehilangan hasil dan meningkatkan nilai jual produk.

Pada akhirnya, penguatan sistem penangkaran mulai dari pemilihan benih, pengaturan waktu tanam, pengelolaan pertanaman, penanganan pascapanen hingga pemasaran diharapkan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi kedelai di Desa Jenetaesa.

Program tersebut juga diharapkan memberi dampak lebih luas terhadap peningkatan pendapatan dan taraf perekonomian keluarga petani, sekaligus memperkuat Desa Jenetaesa sebagai salah satu sentra penangkaran kedelai yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru