Bela Bahlil, Ketua Golkar Sulsel Sebut Penilaian CELIOS Tidak Objektif & Abaikan Kondisi Geopolitik

Rabu, 14 Okt 2026 09:39
Bela Bahlil, Ketua Golkar Sulsel Sebut Penilaian CELIOS Tidak Objektif & Abaikan Kondisi Geopolitik
Ketua Golkar Sulsel Ilham Arief Sirajuddin (IAS) menilai penilaian CELIOS terhadap kinerja Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam jajaran menteri berkinerja terburuk mengabaikan kondisi geopolitik.
Comment
Share
MAKASSAR - Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan, Ilham Arief Sirajuddin (IAS), menilai penilaian Centre of Economic and Law Studies (CELIOS) yang menempatkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam jajaran menteri berkinerja terburuk belum mempertimbangkan secara menyeluruh tantangan sektor energi global.

IAS menilai, kinerja Bahlil tidak bisa dilepaskan dari dinamika geopolitik dunia, termasuk perang dan konflik di sejumlah kawasan yang berdampak pada rantai pasok serta stabilitas harga energi. Karena itu, evaluasi terhadap Kementerian ESDM perlu mempertimbangkan kompleksitas persoalan yang dihadapi.

“Posisinya sebagai Menteri ESDM ini berada di kawasan 'ombak besar'. Pak Bahlil bekerja di bawah bayang-bayang ketidakpastian geopolitik global dan perang yang sangat tidak menguntungkan. Mengukur kinerja beliau secara hitam-putih tanpa memperhitungkan variabel eksternal yang begitu kompleks adalah langkah yang kurang adil dan jauh dari objektif,” ujar IAS dalam keterangannya, Rabu (14/10/2026).

Mantan Wali Kota Makassar dua periode itu mengatakan, di tengah ketidakpastian global, Bahlil tetap menjalankan sejumlah agenda strategis untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional. Salah satunya melalui percepatan hilirisasi sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah di dalam negeri sekaligus membuka lapangan kerja.

Menurut IAS, upaya menjaga stabilitas pasokan energi juga menjadi aspek penting dalam menilai kinerja Kementerian ESDM. Ia menilai, terjaganya ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) dan listrik di tengah gejolak harga energi dunia merupakan bagian dari upaya pemerintah melindungi kepentingan masyarakat.

Selain hilirisasi dan ketahanan energi, Ilham menyoroti langkah Bahlil dalam mendorong percepatan pengembangan energi baru terbarukan (EBT) serta pembenahan regulasi untuk menarik investasi hijau ke Indonesia.

Ia juga mengapresiasi upaya penataan tata kelola sektor pertambangan yang, menurutnya, harus diarahkan untuk memberikan manfaat optimal bagi negara dan daerah.

“Di tengah guncangan ekonomi dunia, Pak Bahlil justru berhasil menjaga iklim investasi sektor ESDM tetap tumbuh positif. Beliau turun langsung ke lapangan mengurai bottlenecking dan memastikan kebijakan pemerintah betul-betul berdampak pada masyarakat bawah,” kata IAS.

Ia mengingatkan lembaga kajian dan pengamat agar menyusun evaluasi berdasarkan data yang memadai serta mempertimbangkan berbagai faktor yang memengaruhi kinerja sektor energi.

IAS menegaskan, Partai Golkar terbuka terhadap kritik terhadap pemerintah. Namun, kritik tersebut harus disampaikan secara proporsional, berbasis data, dan mempertimbangkan konteks persoalan yang dihadapi.

“Golkar sangat terbuka terhadap kritik. Namun, kritik harus dibangun di atas basis data yang fair. Kami saksi bagaimana kerja keras Pak Bahlil dalam mengamankan ketahanan energi nasional di masa-masa sulit ini. Kami yakin masyarakat dapat menilai secara bijak mana hasil kerja nyata dan mana opini yang tidak berimbang,” tutup IAS.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru