Kualitas Udara Makassar Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat

Rabu, 14 Okt 2026 14:41
Kualitas Udara Makassar Masuk Kategori Sangat Tidak Sehat
Kabut asap menyelimuti Kota Makassar, Selasa (13/10/2026). BMKG menyebut kualitas udara di Makassar sudah memasuki kategori sangat tidak sehat. Foto: SINDO Makassar/Maman Sukirman
Comment
Share
MAKASSAR - Kualitas udara di Kota Makassar memburuk. Konsentrasi partikulat halus atau PM2,5 tercatat mencapai 158,7 mikrogram per meter kubik pada Rabu (14/10/2026) pukul 08.00 Wita. Angka tersebut masuk kategori sangat tidak sehat.

Ketua Tim Bidang Meteorologi BMKG Wilayah IV Makassar, Rizky Yudha Pahlawan, mengatakan hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara di Makassar berada dalam rentang kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

"Berdasarkan pantauan konsentrasi PM2,5 dari Stasiun Meteorologi Klimatologi / Stasiun Klimatologi Sulawesi Selatan di Maros, itu menunjukkan dalam rentang kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat pada hari ini, tanggal 14 Oktober 2026," kata Rizky.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut secara meteorologis disebut haze atau udara kabur. Fenomena ini ditandai dengan berkurangnya jarak pandang menjadi lebih dari 1 kilometer hingga kurang dari 5 kilometer akibat partikel yang berada di udara.

"Untuk kondisi cuaca memang di wilayah Kota Makassar kami lihat dalam keadaan udara kabur, atau secara meteorologis kami sebut sebagai haze, yaitu saat kondisi visibility (jarak pandang) berkurang lebih dari 1 kilometer tetapi kurang dari 5 kilometer," ujarnya.

Rizky mengungkapkan, penurunan kualitas udara di Makassar telah terpantau sejak 30 September 2026 dan terus memburuk hingga pertengahan Oktober.

Menurut dia, peningkatan konsentrasi PM2,5 dipengaruhi sejumlah faktor, salah satunya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Selatan maupun wilayah lain.

"Jadi jarak pandang bisa berkurang hingga kurang dari 5 kilometer," singkatnya saat memberikan keterangan.

"Kami lihat sampai hari ini juga meningkat menjadi sangat tidak sehat dengan konsentrasi lebih dari 150 mikrogram per meter kubik. Itu dari analisis kami memang disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya meningkatnya kebakaran hutan dan lahan, baik itu di wilayah Sulawesi Selatan maupun di luar Sulawesi Selatan," sambungnya kepada awak media.

Hujan Diprediksi November

Rizky mengatakan, waktu pemulihan kualitas udara belum dapat dipastikan karena bergantung pada perkembangan sumber polutan.

BMKG memperkirakan hujan mulai berpotensi terjadi di Makassar dan sekitarnya pada akhir November hingga awal Desember. Hujan diharapkan membantu membersihkan partikel polutan yang berada di udara.

"Prediksi udara kabur ini tidak bisa dipastikan secara pasti karena memang mengingat kita harus melihat sumber polutannya itu sendiri, apakah sudah hilang atau tidak. Kami prediksi juga mulai muncul hujan atau mulai terjadi hujan di wilayah Makassar dan sekitarnya itu pada akhir November hingga awal Desember," jelasnya.

"Dengan adanya hujan, maka bisa membilas atau membersihkan udara atau polutan-polutan yang ada di udara," tuturnya.

Sebagai langkah koordinasi, BMKG telah menerbitkan dua surat edaran kepada pemerintah terkait kondisi kualitas udara di Makassar dan sekitarnya.

"Jadi kami sudah memberikan atau mengeluarkan dua surat edaran kepada Gubernur Sulawesi Selatan dan Wali Kota Makassar terkait kondisi kualitas udara saat ini. Dan kami juga sudah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan maupun BPBD terkait peningkatan konsentrasi PM2,5 ini," kata Rizky.

BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan menggunakan masker untuk mengurangi risiko paparan polusi udara. Imbauan ini terutama ditujukan kepada kelompok rentan, seperti ibu hamil, orang lanjut usia, dan anak-anak.

"Secara umum, dengan meningkatnya konsentrasi PM2,5 dan menurunnya kualitas udara di wilayah Makassar dan sekitarnya, kami himbau untuk mengurangi aktivitas fisik di luar ruangan dan memakai masker, khususnya bagi komunitas rentan seperti ibu hamil, orang tua, dan anak-anak. Serta mengurangi aktivitas di luar ruangan dan memakai masker," imbaunya.

Rizky juga menjelaskan bahwa konsentrasi polutan cenderung mencapai tingkat tertinggi pada pagi dan malam hari.

"Jadi kami lihat konsentrasi tertinggi itu berada di awal pagi, sekitar jam 7 hingga jam 8 pagi, dan di awal malam sekitar jam 7 hingga jam 8 malam," jabarnya.

Dampak sebaran PM2,5 juga tidak terbatas di Makassar. Berdasarkan peta sebaran konsentrasi yang dipantau BMKG, partikel tersebut telah menyebar ke hampir seluruh wilayah Sulawesi Selatan, bahkan sejumlah provinsi lain di Sulawesi.

"Berdasarkan update peta sebaran konsentrasi, memang kami bisa lihat seluruh wilayah Sulawesi Selatan ini tertutup oleh atau tersebar oleh partikel PM2,5 tersebut. Jadi bukan hanya di wilayah timur, misalkan Sinjai Bone, tetapi hampir di seluruh wilayah Sulawesi Selatan. Bukan hanya di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, maupun Sulawesi Utara juga dilaporkan dalam keadaan udara kabur juga," sambungnya.

BMKG turut mencatat peningkatan konsentrasi PM2,5 di Maros. Berdasarkan pemantauan sejak malam sebelumnya hingga Rabu pagi, konsentrasi polutan telah menembus kategori sangat tidak sehat.

"Jadi per malam tadi memang terjadi peningkatan yang sebelumnya belum sampai ke level 'sangat tidak sehat'. Per malam tadi sampai di pagi hari ini, levelnya naik ke level 'sangat tidak sehat' atau di atas 150 mikrogram per meter kubik," tutup Rizky.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru