Guru Besar UIN Alauddin Imbau Jaga Kondusivitas di Tengah Polarisasi
Minggu, 25 Okt 2026 11:29
Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof. Munawir Kamaluddin. Foto: Istimewa
MAKASSAR - Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Prof. Munawir Kamaluddin, menegaskan pentingnya manajemen konflik horizontal sebagai kunci utama memelihara kondusivitas di tengah polarisasi kebangsaan yang semakin terasa saat ini.
Dalam tulisannya berjudul "Manajemen Konflik Horizontal: Strategi Memelihara Kondusivitas di Tengah Polarisasi Kebangsaan", Munawir menyampaikan bahwa konflik antarwarga tidak selalu bermula dari kebencian yang besar, melainkan sering kali tumbuh dari prasangka kecil, perbedaan yang disalahpahami, ketidakadilan yang dibiarkan, serta sikap merasa paling benar.
"Perbedaan bukanlah satu-satunya penyebab konflik. Provokasi, manipulasi informasi, diskriminasi, dan ketidakadilan justru sering menjadi bahan bakar yang memperbesar pertentangan," ujarnya.
Menurut Munawir, kondusivitas sejati bukanlah keheningan karena ketakutan, melainkan kedamaian yang lahir dari keadilan, kepercayaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Persatuan tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam kritik, sebagaimana kebebasan tidak boleh digunakan untuk menyebarkan kebencian.
Ia mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak di ruang digital, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang memancing emosi, serta menghidupkan kembali silaturahmi antarkelompok sebagai ruang perjumpaan yang menjaga kemanusiaan di tengah perbedaan.
"Kita boleh berbeda pilihan politik, keyakinan, dan pandangan, tetapi tetap dapat bekerja sama, bertetangga, dan saling menolong. Silaturahmi bukan tuntutan untuk menyamakan pikiran, melainkan kesediaan menjaga kemanusiaan," tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga menekankan peran penting para pemimpin—baik politik, agama, maupun pendidikan—untuk menyejukkan keadaan, bukan mengeksploitasi perbedaan demi kepentingan golongan. Kepemimpinan yang bermartabat adalah yang merangkul semua pihak dan berlaku adil kepada siapa pun.
Di akhir pemikirannya, Munawir mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan dialog sebagai jembatan, silaturahmi sebagai pengikat, keadilan sebagai fondasi, dan nilai-nilai ilahiyah sebagai kompas moral.
"Kedamaian bukanlah keadaan ketika perbedaan menghilang, melainkan ketika perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk saling melukai. Kita boleh berdiri di sisi yang berbeda, tetapi jangan pernah kehilangan jalan untuk kembali menjadi saudara," tutupnya
Dalam tulisannya berjudul "Manajemen Konflik Horizontal: Strategi Memelihara Kondusivitas di Tengah Polarisasi Kebangsaan", Munawir menyampaikan bahwa konflik antarwarga tidak selalu bermula dari kebencian yang besar, melainkan sering kali tumbuh dari prasangka kecil, perbedaan yang disalahpahami, ketidakadilan yang dibiarkan, serta sikap merasa paling benar.
"Perbedaan bukanlah satu-satunya penyebab konflik. Provokasi, manipulasi informasi, diskriminasi, dan ketidakadilan justru sering menjadi bahan bakar yang memperbesar pertentangan," ujarnya.
Menurut Munawir, kondusivitas sejati bukanlah keheningan karena ketakutan, melainkan kedamaian yang lahir dari keadilan, kepercayaan, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Persatuan tidak boleh dijadikan alasan untuk membungkam kritik, sebagaimana kebebasan tidak boleh digunakan untuk menyebarkan kebencian.
Ia mengingatkan masyarakat untuk lebih bijak di ruang digital, tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang memancing emosi, serta menghidupkan kembali silaturahmi antarkelompok sebagai ruang perjumpaan yang menjaga kemanusiaan di tengah perbedaan.
"Kita boleh berbeda pilihan politik, keyakinan, dan pandangan, tetapi tetap dapat bekerja sama, bertetangga, dan saling menolong. Silaturahmi bukan tuntutan untuk menyamakan pikiran, melainkan kesediaan menjaga kemanusiaan," tegasnya.
Lebih lanjut, ia juga menekankan peran penting para pemimpin—baik politik, agama, maupun pendidikan—untuk menyejukkan keadaan, bukan mengeksploitasi perbedaan demi kepentingan golongan. Kepemimpinan yang bermartabat adalah yang merangkul semua pihak dan berlaku adil kepada siapa pun.
Di akhir pemikirannya, Munawir mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan dialog sebagai jembatan, silaturahmi sebagai pengikat, keadilan sebagai fondasi, dan nilai-nilai ilahiyah sebagai kompas moral.
"Kedamaian bukanlah keadaan ketika perbedaan menghilang, melainkan ketika perbedaan tidak lagi menjadi alasan untuk saling melukai. Kita boleh berdiri di sisi yang berbeda, tetapi jangan pernah kehilangan jalan untuk kembali menjadi saudara," tutupnya
(UMI)
Berita Terkait
Sulsel
DEMA-U UIN Alauddin Makassar Gelar Festival HAM Bahas Isu Indonesia Timur
Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Islam Negeri (DEMA-U) Alauddin Makassar menggelar Festival Hak Asasi Manusia (HAM), di kampus UIN Makassar, Rabu (7/10/2026).
Rabu, 07 Okt 2026 15:44
News
UiTM Malaysia dan UIN Alauddin Makassar Perkuat Kolaborasi Akademik
Program Studi Matematika, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Alauddin Makassar menerima kunjungan akademik delegasi Fakulti Sains Komputer dan Matematik UiTM Malaysia pada 1–4 September 2026.
Kamis, 10 Sep 2026 09:02
News
Dosen UIN Alauddin Juara 1 Azan MTQ Korpri Nasional 2026
Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dosen UIN Alauddin Makassar di panggung nasional. Dr. Baharuddin, S.Pd.I., M.Pd.I., berhasil meraih juara 1 Cabang Adzan pada MTQ Korpri Nasional VIII Tahun 2026.
Senin, 31 Agu 2026 15:34
Sulsel
Rektor UIN Alauddin Terima Kunjungan Kapolresta Gowa untuk Perkuat Sinergi Institusi
Penguatan sinergi antara kepolisian dan perguruan tinggi menjadi perhatian dalam kunjungan silaturahmi Kapolresta Gowa Kombes Pol. Dr. H. Muh. Yusuf Usman ke UIN Alauddin Makassar.
Rabu, 19 Agu 2026 09:34
Makassar City
Rektor UIN Alauddin Kibarkan Merah Putih di Bawah Laut Perairan Samalona
Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan dengan cara berbeda oleh UIN Alauddin Makassar. Rektor UIN Alauddin Makassar bersama tim penyelam mengibarkan bendera Merah Putih di bawah laut perairan Pulau Samalona.
Selasa, 18 Agu 2026 23:00
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Patarai Amir Ambil Formulir Pendaftaran Bakal Calon Ketua Golkar Maros
2
MBTS SD Kristen Makale 1 Sabet Juara Umum Divisi Junior PMC 2026
3
Sertifikat Halal Gratis dan Akses Perbankan Jadi Fokus UMKM Forum Sulsel 2026
4
Legislator DPRD Makassar Dorong Percepatan Pembahasan Raperda Parkir
5
Korban Pembobolan Kartu Kredit Rp341 Juta Pertanyakan Barang Bukti dalam Gelar Perkara Khusus
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Patarai Amir Ambil Formulir Pendaftaran Bakal Calon Ketua Golkar Maros
2
MBTS SD Kristen Makale 1 Sabet Juara Umum Divisi Junior PMC 2026
3
Sertifikat Halal Gratis dan Akses Perbankan Jadi Fokus UMKM Forum Sulsel 2026
4
Legislator DPRD Makassar Dorong Percepatan Pembahasan Raperda Parkir
5
Korban Pembobolan Kartu Kredit Rp341 Juta Pertanyakan Barang Bukti dalam Gelar Perkara Khusus