KMI 2026 di Makassar Bahas Royalti, AI dan Masa Depan Musik Indonesia

Rabu, 28 Okt 2026 07:34
KMI 2026 di Makassar Bahas Royalti, AI dan Masa Depan Musik Indonesia
Suasana simbolis pembukaan KMI 2026, di Sandeq Ballroom Claro Hotel Makassar, Selasa (27/10/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
Comment
Share
MAKASSAR - Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia resmi membuka Konferensi Musik Indonesia (KMI) 2026 bertajuk “Gerak Seirama” di Sandeq Ballroom Claro Hotel Makassar, Selasa (27/10/2026).

Konferensi musik yang digelar untuk kedua kalinya setelah penyelenggaraan perdana di Jakarta ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri musik nasional, mulai dari musisi, pencipta lagu, hingga praktisi industri lintas generasi dan genre.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, KMI 2026 menjadi wadah pertukaran gagasan dan jejaring untuk membangun ekosistem musik nasional yang berkelanjutan. Sejumlah isu, termasuk royalti dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), turut menjadi agenda pembahasan.

"Kita berharap dari Konferensi Musik Indonesia ini akan banyak melahirkan gagasan-gagasan yang tentu akan diimplementasikan, termasuk membicarakan masalah-masalah, tantangan-tantangan terkait, misalnya, royalti dan AI, yang nanti akan dibicarakan di dalam diskusi dan dialog dengan para ahli," ucapnya.

Menurut Fadli, konferensi ini juga membuka peluang kolaborasi antara musisi lokal, nasional, hingga internasional. Upaya tersebut dinilai penting untuk mendorong perkembangan industri musik sebagai bagian dari ekonomi budaya.

"Ini juga menjadi satu sesi atau platform yang menarik, terutama untuk networking, untuk melakukan jejaring dengan para musisi, antara yang lokal dengan yang nasional, yang nasional dengan yang internasional, atau yang seterusnya, yang kedepannya, menuju ekonomi budaya dan juga menuju industri budaya, termasuk industri musik kita yang bisa sustainable (berkelanjutan)," kata Fadli Zon.

Fadli juga menyoroti potensi musik Indonesia yang dinilai memiliki peluang untuk berkembang di pasar internasional. Ia menyebut data streaming Spotify menunjukkan tingginya minat pendengar luar negeri terhadap lagu-lagu Indonesia.

"Kedepannya, menurut saya, ini bisa dikembangkan lagi karena talenta musik kita ini banyak luar biasa sekali, banyak yang mempunyai talenta sampai internasional. Dari data streaming saja, banyak masyarakat internasional yang mendengarkan lagu-lagu kita sampai 60%, itu ya menurut data Spotify. Ini kan satu berita yang menggembirakan," ungkapnya kepada awak media.

Untuk memetakan kontribusi sektor musik terhadap perekonomian, Fadli berencana meminta dukungan Badan Pusat Statistik (BPS). Data tersebut diharapkan dapat membantu melihat proporsi ekonomi budaya, termasuk industri musik, dalam perekonomian nasional.

"Saya juga nanti minta dukungan dari BPS, bagaimana kita memetakan sebetulnya proporsi dari statistik ekonomi budaya, termasuk industri budaya, khususnya di bidang musik ini kepada ekonomi kita supaya ini menggairahkan, baik yang mulai tradisi sampai yang kontemporer dan lintas genre," terangnya.

Rangkaian KMI 2026 dijadwalkan berlanjut selama dua hari melalui pemaparan data statistik oleh BPS, sesi selayang pandang oleh Wakil Menteri Kebudayaan, serta diskusi panel yang menghadirkan pakar dan praktisi musik.

Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin mengatakan, pemerintah kota ingin terus mengembangkan Makassar sebagai ruang yang mendukung kreativitas dan kolaborasi para seniman serta musisi.

"Makassar juga memiliki urgensi dan posisi strategis sebagai salah satu pusat aktivitas ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan di kawasan timur Indonesia. Potensi ini perlu kita manfaatkan untuk memperluas jejaring musik, memperkuat pertukaran budaya, serta membuka peluang bagi musisi dan pelaku industri kreatif dari berbagai daerah," jelasnya.

Wali kota yang akrab disapa Appi itu berharap KMI 2026 menghasilkan rekomendasi yang relevan bagi perkembangan industri musik nasional sekaligus membuka ruang bagi talenta dari berbagai daerah.

"Masa depan musik Indonesia tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di kota-kota besar, tetapi juga oleh bagaimana kita memberikan ruang tumbuh bagi talenta-talenta yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara," tutupnya.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru