Industri Minuman Kemasan Tetap Tumbuh di Tengah Tantangan Ekonomi

Tim SINDOmakassar
Sabtu, 06 Jun 2026 11:01
Ketua Umum ASRIM Triyono Prijosoesilo, Perwakilan Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria, dan Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak mengamati produk minuman kemasan.
1/3
Ketua Umum ASRIM Triyono Prijosoesilo, Perwakilan Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria, dan Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak mengamati produk minuman kemasan.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, mengungkapkan bahwa Industri minuman kemasan melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka, namun membutuhkan penguatan.
2/3
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, mengungkapkan bahwa Industri minuman kemasan melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka, namun membutuhkan penguatan.
(Kiri ke kanan) Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo, Perwakilan Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria, dan Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak berfoto bersama usai diskusi bertajuk
3/3
(Kiri ke kanan) Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo, Perwakilan Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria, dan Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak berfoto bersama usai diskusi bertajuk "Masa Depan Industri Minuman Kemasan 2026: Inovasi, Pertumbuhan, dan Ketahanan Industri" di Jakarta.
Ketua Umum ASRIM Triyono Prijosoesilo, Perwakilan Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria, dan Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak mengamati produk minuman kemasan.
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, mengungkapkan bahwa Industri minuman kemasan melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka, namun membutuhkan penguatan.
(Kiri ke kanan) Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM) Triyono Prijosoesilo, Perwakilan Kementerian Perindustrian Merrijantij Punguan Pintaria, dan Peneliti Senior CORE Indonesia Muhammad Ishak Razak berfoto bersama usai diskusi bertajuk
Comments
Jakarta - Industri makanan dan minuman, khususnya sektor minuman kemasan, masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global, pelemahan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian geopolitik. Meski mencatat pertumbuhan positif, pelaku industri mengakui masih menghadapi tantangan berupa kenaikan biaya produksi dan melemahnya daya beli masyarakat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, ekonomi nasional pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara tahunan (year-on-year). Industri pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dengan porsi 19,07 persen, sementara subsektor makanan dan minuman menyumbang sekitar 7,31 persen terhadap PDB nasional.

Peneliti Senior CORE Indonesia, Muhammad Ishak Razak, mengatakan konsumsi domestik masih menjadi penggerak utama permintaan industri minuman ringan, terutama selama momentum Ramadan dan Idulfitri.

"Momentum Ramadan, Lebaran, mobilitas masyarakat, serta konsumsi domestik masih menjadi penggerak utama permintaan industri minuman ringan. Namun demikian, pertumbuhan tersebut masih dibayangi oleh sejumlah tantangan struktural, antara lain pelemahan rupiah, kenaikan biaya produksi, tekanan inflasi, serta lemahnya daya beli masyarakat," ujar Ishak.

Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp17.900 per dolar AS turut meningkatkan tekanan terhadap biaya produksi industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Minuman Dalam Kemasan (ASRIM), Triyono Prijosoesilo, menilai industri makanan dan minuman memang masih tumbuh positif, namun belum kembali ke tingkat pertumbuhan sebelum pandemi.

"ASRIM menilai bahwa meskipun industri makanan dan minuman masih mencatat pertumbuhan positif sepanjang 2025 sebesar 6,38 persen, pertumbuhan tersebut masih berada di bawah level pra-pandemi yang sebelumnya dapat mencapai kisaran 7 hingga 9 persen," kata Triyono.

Ia menambahkan, sejumlah ekonom juga menilai pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2026 masih banyak ditopang oleh belanja pemerintah dan faktor musiman Ramadan-Lebaran, sementara pemulihan daya beli masyarakat belum sepenuhnya kuat.

Di sisi lain, tantangan operasional pelaku usaha semakin berat akibat tingginya ketergantungan pada impor bahan baku dan kemasan. Data inflasi April 2026 menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 3,06 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di angka 2,42 persen.

Merespons kondisi tersebut, Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya untuk menjaga iklim usaha manufaktur tetap kondusif. Perwakilan Kementerian Perindustrian, Merrijantij Punguan Pintaria, mengatakan pemerintah terus mendorong penguatan struktur industri dan peningkatan daya saing sektor makanan dan minuman.

"Kami memahami bahwa tekanan ekonomi global juga memberikan tantangan kepada industri makanan dan minuman untuk terus tumbuh. Untuk itu, pemerintah terus berkomitmen mendorong penguatan struktur industri, pengembangan hilirisasi, serta peningkatan daya saing sektor makanan dan minuman," ujarnya.

ASRIM mengapresiasi langkah pemerintah tersebut dan berharap implementasi kebijakan ke depan dapat berjalan secara adaptif tanpa memberikan beban tambahan bagi pelaku usaha. Menurut Triyono, kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha diperlukan untuk menjaga keberlanjutan investasi, stabilitas industri, serta perlindungan tenaga kerja nasional.

"Industri minuman kemasan melihat peluang pertumbuhan tetap terbuka, namun membutuhkan penguatan berkelanjutan agar lebih tangguh ke depan. Kami mendorong kebijakan yang adaptif dan konsisten, termasuk penguatan bahan baku domestik, kepastian regulasi, serta keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha," tutupnya.
(MAS)
Foto Terbaru