EV Jadi Kunci Kurangi Impor BBM, Ini Penjelasan CEO BYD Haka Auto
Senin, 27 Apr 2026 15:42
CEO BYD Haka Auto Indonesia, Hariyadi Kaimuddin, dalam Studium Generale di ITB Kampus Ganesha yang diikuti lebih dari 1.000 mahasiswa, baik secara luring maupun daring. Foto/Istimewa
BANDUNG - Upaya mempercepat elektrifikasi transportasi dinilai menjadi kunci penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM), sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Hal ini disampaikan CEO BYD Haka Auto Indonesia, Hariyadi Kaimuddin, dalam Studium Generale di Institut Teknologi Bandung (ITB) Kampus Ganesha yang diikuti lebih dari 1.000 mahasiswa, baik secara luring maupun daring.
Dalam paparannya, Hariyadi menekankan bahwa kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berada di persimpangan tiga agenda besar nasional: kemandirian energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.
“EV bukan hanya solusi transportasi, tetapi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Hariyadi Kaimuddin.
Ia menjelaskan, sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang utama konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia. Tanpa transformasi menuju elektrifikasi, kebutuhan energi berbasis impor diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah kendaraan.
Menurutnya, kendaraan listrik membuka peluang pemanfaatan energi domestik secara lebih optimal. Saat ini, sistem kelistrikan nasional memang masih ditopang energi fosil seperti batu bara, namun ke depan pemanfaatan energi terbarukan—seperti tenaga air, panas bumi, dan surya—dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor BBM.
“Jika kita beralih ke listrik berbasis energi domestik, ketahanan energi Indonesia akan jauh lebih kuat,” jelasnya.
Dampak Ekonomi dan Kesiapan Ekosistem
Selain aspek energi, pengembangan EV juga dinilai berdampak besar terhadap ekonomi nasional. Industri otomotif memiliki kontribusi signifikan terhadap PDB, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja, sehingga peralihan ke kendaraan listrik berpotensi memperkuat struktur industri dalam negeri.
Namun, Hariyadi mengingatkan bahwa keberhasilan adopsi EV tidak hanya ditentukan oleh produk, melainkan juga kesiapan ekosistem secara menyeluruh. Ini mencakup infrastruktur pengisian daya (SPKLU), rantai pasok baterai, layanan purna jual, hingga kesiapan tenaga teknis.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan untuk mempercepat pengembangan ekosistem yang berkelanjutan dan kompetitif di tingkat global.
Dalam forum tersebut, mahasiswa juga didorong untuk terlibat aktif dalam pengembangan teknologi dan inovasi di sektor energi dan kendaraan listrik, bukan sekadar menjadi pengguna.
“Kita tidak bisa hanya menunggu perubahan, tetapi harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri,” tegasnya.
Hariyadi menambahkan, industri EV membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, khususnya di bidang teknologi, energi terbarukan, dan inovasi industri. BYD bersama Haka Auto, lanjutnya, berkomitmen mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik melalui pengembangan jaringan, layanan, serta edukasi publik.
Keterlibatan dalam kegiatan akademik seperti Studium Generale juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi dengan institusi pendidikan sekaligus menyiapkan talenta masa depan.
Sepanjang 2026, Haka Auto telah mengoperasikan 15 outlet BYD dan 2 outlet Denza di sejumlah kota strategis di Indonesia. Perusahaan juga berencana meresmikan beberapa dealer baru pada Semester I 2026, baik untuk BYD maupun brand premium Denza.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi memperluas akses layanan penjualan dan purna jual kendaraan listrik agar semakin dekat dengan konsumen.
Hal ini disampaikan CEO BYD Haka Auto Indonesia, Hariyadi Kaimuddin, dalam Studium Generale di Institut Teknologi Bandung (ITB) Kampus Ganesha yang diikuti lebih dari 1.000 mahasiswa, baik secara luring maupun daring.
Dalam paparannya, Hariyadi menekankan bahwa kendaraan listrik (electric vehicle/EV) berada di persimpangan tiga agenda besar nasional: kemandirian energi, pertumbuhan ekonomi, dan keberlanjutan lingkungan.
“EV bukan hanya solusi transportasi, tetapi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan energi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Hariyadi Kaimuddin.
Ia menjelaskan, sektor transportasi masih menjadi salah satu penyumbang utama konsumsi bahan bakar fosil di Indonesia. Tanpa transformasi menuju elektrifikasi, kebutuhan energi berbasis impor diperkirakan akan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah kendaraan.
Menurutnya, kendaraan listrik membuka peluang pemanfaatan energi domestik secara lebih optimal. Saat ini, sistem kelistrikan nasional memang masih ditopang energi fosil seperti batu bara, namun ke depan pemanfaatan energi terbarukan—seperti tenaga air, panas bumi, dan surya—dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor BBM.
“Jika kita beralih ke listrik berbasis energi domestik, ketahanan energi Indonesia akan jauh lebih kuat,” jelasnya.
Dampak Ekonomi dan Kesiapan Ekosistem
Selain aspek energi, pengembangan EV juga dinilai berdampak besar terhadap ekonomi nasional. Industri otomotif memiliki kontribusi signifikan terhadap PDB, ekspor, dan penyerapan tenaga kerja, sehingga peralihan ke kendaraan listrik berpotensi memperkuat struktur industri dalam negeri.
Namun, Hariyadi mengingatkan bahwa keberhasilan adopsi EV tidak hanya ditentukan oleh produk, melainkan juga kesiapan ekosistem secara menyeluruh. Ini mencakup infrastruktur pengisian daya (SPKLU), rantai pasok baterai, layanan purna jual, hingga kesiapan tenaga teknis.
Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, industri, dan institusi pendidikan untuk mempercepat pengembangan ekosistem yang berkelanjutan dan kompetitif di tingkat global.
Dalam forum tersebut, mahasiswa juga didorong untuk terlibat aktif dalam pengembangan teknologi dan inovasi di sektor energi dan kendaraan listrik, bukan sekadar menjadi pengguna.
“Kita tidak bisa hanya menunggu perubahan, tetapi harus menjadi bagian dari perubahan itu sendiri,” tegasnya.
Hariyadi menambahkan, industri EV membutuhkan sumber daya manusia yang kompeten, khususnya di bidang teknologi, energi terbarukan, dan inovasi industri. BYD bersama Haka Auto, lanjutnya, berkomitmen mendukung percepatan adopsi kendaraan listrik melalui pengembangan jaringan, layanan, serta edukasi publik.
Keterlibatan dalam kegiatan akademik seperti Studium Generale juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi dengan institusi pendidikan sekaligus menyiapkan talenta masa depan.
Sepanjang 2026, Haka Auto telah mengoperasikan 15 outlet BYD dan 2 outlet Denza di sejumlah kota strategis di Indonesia. Perusahaan juga berencana meresmikan beberapa dealer baru pada Semester I 2026, baik untuk BYD maupun brand premium Denza.
Langkah ini merupakan bagian dari strategi memperluas akses layanan penjualan dan purna jual kendaraan listrik agar semakin dekat dengan konsumen.
(TRI)
Berita Terkait
News
Halal Bihalal di Makassar, Haka Auto Perkuat Kolaborasi dengan Jurnalis
Suasana hangat pasca Idul Fitri dimanfaatkan PT Bumi Hijau Motor (Haka Auto) untuk mempererat hubungan dengan insan media melalui kegiatan Halal Bihalal yang digelar di showroom BYD Haka Karebosi, Makassar.
Sabtu, 28 Mar 2026 14:04
Ekbis
BYD Haka Karebosi Raih Penghargaan Asia Pasifik, Harumkan Makassar Tepat di Hari Raya Idul Fitri
BYD Haka Karebosi, dealer resmi BYD di Kota Makassar yang berada di bawah naungan PT Bumi Hijau Motor (Haka Auto), berhasil meraih penghargaan bergengsi tingkat Asia Pasifik dalam ajang BYD Asia Pacific Dealer Conference 2025
Minggu, 22 Mar 2026 09:38
News
Dukung Perjalanan Mudik, Haka Auto Hadirkan Bengkel Siaga BYD di Makassar
Menyambut arus mudik Lebaran 2026, PT Bumi Hijau Motor (Haka Auto) selaku grup dealer resmi BYD Indonesia menghadirkan layanan Bengkel Siaga bagi pengguna kendaraan BYD di Kota Makassar
Jum'at, 13 Mar 2026 13:27
News
Diperkenalkan di IIMS 2026, BYD Atto 3 Advanced Sudah Bisa Dipesan Konsumen
Menjelang momen mudik dan perayaan Idul Fitri 2026, Haka Auto menghadirkan program penjualan spesial yang menjadikan periode ini sebagai saat paling tepat untuk memiliki kendaraan listrik dari BYD maupun Denza.
Rabu, 25 Feb 2026 11:46
Ekbis
Lewat Meeting & Convention, Haka Auto Bahas Strategi Nasional Hadapi Tahun 2026
PT Bumi Hijau Motor (Haka Auto), grup mega dealer kendaraan listrik BYD di Indonesia, menyelenggarakan rangkaian acara Strategic Meeting & Haka Auto Convention 2026 di Jakarta.
Sabtu, 07 Feb 2026 18:05
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
MGS5 EV Laris Sebelum Launching, Kuota Awal di Makassar Hampir Habis
2
SPJM Perkuat Layanan Lewat Sharing Session Bersama Mitra Strategis
3
Perpisahan Penuh Kenangan, Siswa UPT SMP Negeri 1 Arungkeke Foto Bersama Guru
4
Cathlab di RSUD Daya Buat Penanganan Jantung Lebih Cepat dan Tepat
5
Lepas 343 JCH, Wabup Gowa Ingatkan Jamaah Jaga Kesehatan dan Kekompakan
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
MGS5 EV Laris Sebelum Launching, Kuota Awal di Makassar Hampir Habis
2
SPJM Perkuat Layanan Lewat Sharing Session Bersama Mitra Strategis
3
Perpisahan Penuh Kenangan, Siswa UPT SMP Negeri 1 Arungkeke Foto Bersama Guru
4
Cathlab di RSUD Daya Buat Penanganan Jantung Lebih Cepat dan Tepat
5
Lepas 343 JCH, Wabup Gowa Ingatkan Jamaah Jaga Kesehatan dan Kekompakan