Bukan Cuma Jago Prompting, Telkomsel Ungkap Talenta yang Dibutuhkan di Era AI

Selasa, 22 Sep 2026 17:33
Bukan Cuma Jago Prompting, Telkomsel Ungkap Talenta yang Dibutuhkan di Era AI
Telkomsel menilai talenta masa depan justru perlu memiliki pemahaman kuat terhadap konteks, karakter, nilai, serta pengalaman nyata yang tidak mudah digantikan oleh teknologi. Foto/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Kemampuan menggunakan artificial intelligence (AI) saja tidak cukup untuk memenangkan persaingan di dunia kerja. Di tengah teknologi yang semakin mudah diakses, Telkomsel menilai talenta masa depan justru perlu memiliki pemahaman kuat terhadap konteks, karakter, nilai, serta pengalaman nyata yang tidak mudah digantikan oleh teknologi.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Career Talkshow bertema “Teknologi Terus Bertumbuh: Jalan Karir Seperti Apa yang Harus Kita Tempuh?” yang digelar Telkomsel melalui program THRIVE Goes to Universitas Hasanuddin, Selasa (22/9/2026), di Arsjad Rasjid Lecture Theater, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.

Kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memahami perubahan lanskap dunia kerja seiring perkembangan AI, termasuk pergeseran fungsi AI dari sekadar alat bantu menjadi teknologi yang semakin mampu menjalankan berbagai tugas pekerjaan.

Vice President People Development and Management Telkomsel, Dudun Abdul Falah Sidiq, mengatakan perkembangan AI membuat kemampuan teknis tertentu semakin mudah diperoleh. Karena itu, talenta yang mampu memahami konteks dan menghadirkan perspektif manusia menjadi semakin penting.

“Di era AI saat ini, semua orang bisa membuat prompt yang bagus. Namun, yang kami cari adalah orang yang genuine memahami konten dan konteks, sesuatu yang tidak bisa digantikan sekadar dengan prompting yang jago,” kata Dudun.

Menurut dia, pekerjaan yang mengandalkan sisi humanis dan membutuhkan kemampuan memahami manusia diproyeksikan semakin penting seiring meningkatnya otomatisasi berbagai pekerjaan.

Kondisi tersebut, lanjut Dudun, perlu direspons mahasiswa dengan membangun karakter, value, serta pengalaman yang dapat dibuktikan melalui portofolio. Pengalaman dalam mengerjakan proyek nyata dinilai dapat menjadi modal penting ketika memasuki proses rekrutmen maupun menghadapi wawancara kerja.

“Mahasiswa harus mempunyai karakter, value, dan portofolio nyata, proyek yang bisa mereka ceritakan sendiri, baik di CV maupun saat wawancara,” ujarnya.

Melalui THRIVE, Telkomsel berupaya mendekatkan dunia industri dengan generasi muda sekaligus membuka akses pengembangan kompetensi bagi talenta dari berbagai wilayah Indonesia. Program ini membawa perspektif bahwa potensi talenta tidak hanya berada di pusat-pusat ekonomi, tetapi juga tumbuh dari daerah dengan pengalaman dan konteks lokal yang beragam.

Kehadiran THRIVE di Unhas sekaligus menjadi kesempatan bagi mahasiswa di Indonesia Timur untuk memperoleh gambaran lebih dekat mengenai perkembangan industri, teknologi, serta kompetensi yang dibutuhkan di dunia kerja.

Kolaborasi tersebut diperkuat melalui penandatanganan perjanjian kerja sama antara Telkomsel dan Universitas Hasanuddin terkait program studi independen bagi mahasiswa. Kerja sama itu juga mencakup penyediaan program magang Virtual Internship (Virtuship) serta Paket DPI (Domain Private Internet) untuk mendukung akses terhadap aplikasi internal.

Direktur Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin, Prof Suhasman, mengapresiasi kolaborasi tersebut karena memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh wawasan langsung dari dunia industri.

“Kami mengapresiasi kolaborasi bersama Telkomsel yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan wawasan langsung mengenai perkembangan industri, teknologi, dan dinamika dunia kerja,” kata Suhasman.

Menurut dia, interaksi langsung dengan industri penting untuk memperluas perspektif mahasiswa sekaligus mendorong mereka mengembangkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

“Hal ini penting untuk memperluas pandangan mahasiswa sekaligus mendorong mereka untuk terus mengembangkan kompetensi, kemampuan komunikasi, dan kolaborasi agar lebih siap menghadapi kebutuhan dunia kerja di masa depan,” ujarnya.

Melalui THRIVE, Telkomsel berkomitmen memperluas akses pengembangan talenta muda di berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut tidak hanya memperkenalkan perkembangan teknologi dan dunia industri, tetapi juga mendorong mahasiswa membangun kompetensi, pengalaman, dan portofolio yang dapat menjadi bekal menghadapi perubahan dunia kerja.

Bagi mahasiswa, pesan yang dibawa dari THRIVE Goes to Unhas menjadi semakin relevan di tengah percepatan AI: teknologi dapat membantu menyelesaikan pekerjaan, tetapi pemahaman terhadap manusia, konteks, karakter, dan kemampuan menciptakan dampak tetap menjadi bagian penting dari nilai seorang talenta.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru